Lawan Hoaks dengan Menulis Kreatif

by -287 views

Oleh Aru Elgete* 

Menulis adalah kegiatan yang mengasyikkan. Setiap orang pasti bisa menulis. Tentu dengan tujuan dan kepentingan yang beragam. Seorang penulis akan mendapatkan kepuasan batin saat karyanya dibaca banyak orang. Terlebih, saat bisa menghasilkan uang dari sekumpulan kata dan kalimat yang tersusun rapi itu. Menulis merupakan kegiatan yang sangat mudah dan murah. Dalam hidupnya, manusia tidak mungkin tidak menulis.

Imam Ghazali dengan kalimat populernya pernah mengajak kita semua untuk menulis. Katanya, “jika kau bukan anak seorang ulama atau raja, maka menulislah!”

Bagi seorang penyair, menulis adalah kehidupan. Menulis berarti memperpanjang usia di keabadian. Sebab dengan tulisan, seseorang akan hidup selamanya. Tak jarang pula, penyair dari kalangan sufi menjadikan kegiatan menulis sebagai kedekatan jarak dengan Tuhannya.

Ia merasa sedang mencumbui Tuhan berkali-kali saat menulis puisi kecintaan. Sementara hanya ia dan Tuhan yang tahu persis maksud dari isi tulisan itu. Seorang pujangga sekaliber Jalaluddin Rumi, misalnya, senang menulis puisi sebagai wujud cinta kepada Sang Pencipta.
“Aku padamu, maka jangan kau kembalikan aku kepada diriku,” kata Jalaluddin Rumi.

Kemudian, mahasiswa. Sebagian besar mahasiswa menganggap bahwa kegiatan menulis adalah wujud pergerakan atas tirani yang mencekik peradaban. Mahasiswa identik dengan tulisan yang membangun, edukatif, dan informatif.

“Menurut saya, mahasiswa yang tidak (senang) menulis, panggillah mereka dengan sebutan selain mahasiswa,” kata salah seorang dosen Jurnalistik di kampus saya, Universitas Islam “45” (Unisma) Bekasi.

Menulis berarti menyampaikan ide atau gagasan. Selain itu, ia adalah bentuk komunikasi yang bertujuan untuk mempengaruhi dan mengajak pembaca agar memiliki persepsi dan pandangan yang sama. Penulis akan menghasilkan teks, sementara teks ditafsirkan sesuai dengan kadar penalaran pembaca.

Teks itu bisu, yang membuatnya hidup karena hasil dari olah pikir si pembaca. Bagi saya, menulis adalah pemberian inspirasi, solusi, serta kritik yang membangun tanpa mengujar kebencian dan menebar kedengkian.

Namun, bagaimana jika terdapat tulisan yang justru membuat hati pembaca menjadi panas dan cenderung provokatif, bahkan berpotensi menimbulkan perpecahan?

Kita semua tahu, Indonesia sedang mengalami perkembangan pesat dalam kehidupan di era digital. Media sosial (medsos) kekinian serupa sampah. Berita bohong (hoaks) mewarnai hari-hari. Bahkan, pemelintiran informasi kerap terjadi. Ada pula yang memuat berita tanpa klarifikasi (tabayyun) dan tidak juga berimbang (cover both sides/tawazzun).

Terkadang, sebagian dari kita hanya senang atau tertarik membaca sebuah judul berita. Tidak punya keinginan untuk membaca isi. Parahnya, langsung saja dibagikan tanpa kajian. Dengan begitu, maka tidak ada penyaringan terlebih dulu. Perlulah kita untuk senantiasa berpikir sebelum bertindak. Jangan sebaliknya. Akhirnya, hanya kegaduhan yang bisa kita saksikan di linimasa medsos.

“Tujuan Indonesia merdeka adalah mencerdaskan anak bangsa, bukan demokrasi. Demokrasi justru mengikis daya nalar warga negara,” ucap Firli Zikrillah, sahabat saya di kampus.

Yudi Latif dalam bukunya yang berjudul Mata Air Keteladanan: Pancasila Dalam Perbuatan menyatakan bahwa demokrasi di Indonesia lahir karena tiga poin penting yang menjadi rujukan Hatta dalam merumuskan Pancasila. Yakni Piagam Madinah, Kolektivisme desa-desa, dan Sosialisme Barat.

Sementara Soekarno menyatakan bahwa segala macam ideologi, termasuk agama, yang masuk ke Bumi Pertiwi haruslah menyesuaikan kultur dan budaya yang ada. Karena kalau tidak, ideologi itu pasti tak bertahan lama.

Jadi, menulis itu sesungguhnya adalah kegiatan yang menjadi hak bagi setiap manusia. Menjadi bagian dari kebebasan berekspresi dan berpendapat. Menulis kebencian dan ajakan membunuh pun seperti mendapat dukungan atas kebenaran yang berhasil dihimpun dari kelompok sendiri. Bahkan, oleh demokrasi itu sendiri. Mencaci sudah menjadi biasa. Berujar dengan kata-kata kasar merupakan hal yang sangat wajar.

Atas dalih demokrasi dan hak warga negara, bahkan mendasarkan pada asasi manusia, semua dilakukan. Menjadi gaduh dan ricuh. Rusuh. Kain selendang Ibu Pertiwi pun kini lusuh. Kerapkali digunakan untuk menyeka keringat, kala melihat putra-putrinya yang menganggap saudara sebagai musuh.

Seperti itu kah buah dari demokrasi?

Apakah sesuai dengan nilai luhur bangsa Indonesia yang berprinsip welas asih? Benarkah perbuatan yang demikian adalah hasil dari peradaban yang dibangun dari desa-desa? Bahkan, menurut saya, Piagam Madinah pun tidak pernah mengkristalisasi ajaran amoral seperti itu.

Negeri yang katanya Gemah Ripah Loh Jinawi Tata Tentrem Kerta Raharja sedang diantah-berantahkan kebencian. Bumi yang disebut-sebut sebagai Zamrud Khatulistiwa ini menjadi carut-marut karena berbeda. Puisi seorang Pujangga Besar Mpu Tantular, Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa, kini hanya menjadi tumpukkan sampah yang kian dianggap tak berguna. Ekasila (gotong-royong) yang menjadi ciri dari manusia Indonesia, seperti pudar ditelan halilintar.

Saudaraku, sebangsa dan setanah air, yang dilahirkan dari rahim Ibu Pertiwi, marilah menjadi cermat. Menulislah dengan kejernihan hati. Sebar informasi dengan kepala dingin. Entaskan kebencian yang menjamur di dalam kepala. Cukup sudah kita di-Devide et Impera-kan para dalang yang seringkali menyutradarai lakon jahannam selama ini.

Karenanya, saya mengimbau kepada seluruh santri dan Umat Islam di Indonesia agar tidak terpancing untuk menyebar informasi dan kabar yang belum jelas kebenarannya. Mari kembali mengaji. Mendaras Al-Quran dan menadabburi pesan moral yang terkandung di dalamnya.

Teruslah menggali ilmu dari sela-sela kain sarung dan peci para kiai, ulama, ajengan, dan habaib. Tebar senyum kepada siapa pun serta senantiasa mencium punggung tangan orang yang lebih tua. Jangan mengaji dari internet. Belajar agama harus dengan yang ahlinya.

“Nak, kalau selesai ngaji hatimu menjadi adem, kamu sudah berhasil ngaji dengan orang yang tepat. Akan tetapi, saat selesai ngaji justru membuat hatimu panas dan menimbulkan benih kebencian dan permusuhan, silakan cari guru yang lain,” kata ibu kepada anaknya.

Gunakanlah medsos sebagai ajang perbaikan diri. Sebagai alat untuk ‘menjual diri‘ agar membangun citra yang positif. Bukan dengan caci-maki, hujat-damprat, dan berakhir pada permusuhan. Fungsi dan tujuan medsos bukan untuk menebar kebencian atau mengajak untuk melakukan ujaran kebencian, yang bahkan berakhir pada perpecah-belahan. Melainkan sebagai bagian dari keniscayaan untuk memudahkan kita menjalin silaturrahim kepada kerabat, sahabat, dan handai taulan yang berada di lokasi atau tempat berbeda.

Anugerah akal yang diberikan Tuhan secara cuma-cuma, gunakanlah dengan sebaik mungkin. Sebab, Tuhan acapkali memberi isyarat bahwa makhluk melata yang paling hina di dunia adalah yang tidak menggunakan akal dan pikirannya. Bersyukurlah atas pemberian akal adalah dengan memanfaatkannya untuk berpikir dan mengasah daya nalar serta ketajaman dalam menilai sesuatu.

Tuhan juga memberikan hati; segumpal darah yang sangat berpengaruh bagi keberlangsungan hidup manusia. Hati dapat menjadi halus saat secara konsisten menjadikan Tuhan dan Al-Quran sebagai titik kembali. Namun, kalau kepulangan kita pada Tuhan dan Al-Quran justru menjadikan kita mudah membenci dan mendengki, maka lakukanlah introspeksi diri (muhasabah an-nafs).

Akal dan hati sangat berperan penting dalam kegiatan menulis. Ketajaman akal dan kehalusan hati berfungsi sebagai pemantik agar tulisan menjadi daya tarik tersendiri bagi pembaca. Keduanya merupakan alat penunjang kreativitas dalam menulis. Bahkan, menjadi pendongkrak agar kemuliaan terangkat. Sementara kebencian harus segera kita kubur bersama pedalang Devide et Impera di tanah yang mulai dipenuhi lumpur kedurjanaan ini.

Mulai sekarang, perbaiki fungsi medsos dengan kebaikan. Kita harus melawan dan meredam kebencian. Menulislah dengan kreatif, dengan cara mengunggah konten yang positif, edukatif dan informatif. Kepada seluruh Umat Islam di seluruh Indonesia, jangan lakukan provokasi atau dirimu yang bakal mati tanpa inovasi! (*Penulis adalah Wakil Ketua Lembaga Pers dan Penerbitan PC IPNU Kota Bekasi) 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.