Pilkada Bukan Ajang Caci Maki, Melecehkan & Menghujat

by -742 views

Ulama: Jangan Umbar Kebencian !

  • Warga Kota Bekasi Diimbau tidak Terprovokasi Suara Sumbang Kampanye
  • Hasnul: Tidak Baik Saling Menghujat Sesama Umat Islam

 

Ulama boleh-boleh saja ikut berkampanye, namun jangan mengumbar kebencian. Apalagi saling menghujat dan memvonis. Serulah ilmu yang baik-baik dan dengan kata-kata yang baik, serta beargumen atau berdebatlah dengan baik. Warga Kota Bekasi pun diimbau untuk tidak terprovokasi dengan suara-suara sumbang yang dapat memecah belah persatuan.

Demikian ajakan dari kalangan ulama Kota Bekasi terkait adanya kalimat ujaran kebencian dalam kampanye salah satu pasangan calon peserta Pilkada Kota Bekasi 2018 di Lapangan Multiguna Kota Bekasi, Sabtu (12/5). Hal ini jadi sorotan lantaran si juru kampanye (jurkam) diduga menghina semua ustadz/ulama dari pendukung paslon lain.

Habaib Mochammar bin Syech Alatas misalnya. Kepada Koran Bekasi, Senin (21/5) dia menghimbau seluruh warga Kota Bekasi, khususnya para habaib,  ulama, ustadz, dan umaro agar tidak terprovokasi dengan suara-suara ‘sumbang’ pada orasi salah satu jurkam paslon nomor urut 2 yang dianggap  dapat memecah belah persatuan, bangsa, golongan, dan ras.

“Hal tersebut juga dapat merusak tatanan Kota Bekasi yang indah dan Islami yang sebelumnya telah diatur Bapak Rahmat Efendi.  Dan Insya Allah di periode yang akan datang, karena kesuksesan beliau (Rahmat Effendi), bisa buat contoh baik di kalangan muslim dan non muslim, sebagai figur  pemimpin,” ujarnya.

Dia juga meminta agar semua warga Kota Bekasi tidak mendengar hal-hal yang tidak baik tersebut. “Jangan didengar, kita yakini Alqur’an ayat 26/27 Ali Imron yang artinya; Dan kalau tidak mesyukuri nikmat yang Allah berikan, Aku cabut nikmat itu. Ini Al Qur’an yang bilang,” tegasnya.

Hal tak jauh beda disampaikan Hasnul Kholid Pasaribu yang juga Sekretaris Muhammadiyah Kota Bekasi. “Kampanye boleh-boleh saja, tapi jangan ada indikasi saling membenci, saling menghujat, saling memvonis bahwa dirinya ‘baik’ dan orang lain tidak baik. Dalam setiap pesta demokrasi, berikan hak kepada setiap orang untuk memilih. Dan jangan ‘sentimen’ bila tidak memilih jagoannya,” jelasnya.

Hasnul juga meminta, dalam setiap berucap, maka berkatalah dengan baik. “Kalau tidak bisa, ya diam. Dan apalagi saling menghujat sesama umat Islam, tidak baik itu,” tandasnya.

Ketua Persatuan Guru Madrasah (PGM)) Kota Bekasi Gumbad Syah mengaku sudah melihat rekaman itu dari tayangan di fesbuk. “Tapi saya gak tahu dia itu siapa. Ulama berpolitik itu keniscayaan, namun untuk memenangkan sebuah perhelatan politik jangan sampai kita menghalalkan kebencian sebagai mana Allah mengharamkan babi itu sendiri. Saya sangat kecewa dengan sebutan kata-kata tak pantas itu. Lebih baik bersimbah darah di pertarungan daripada harus mendengar kata-kata durjana itu,” tegasnya.

Gumbad pun menyampaikan satu ayat yang artinya; Serulah manusia kejalan Tuhanmu dengan ilmu yang baik dan kata-kata yang baik serta berargumenlah atau berdebatlah dengan yang baik. “Ulama yang mencaci itu perlu belajar hikmah,” lanjutnya.

Ditemui terpisah, Dewan Pendekar Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa Kota Bekasi, KH Adam Malik Azzuhri menjelaskan bahwa pilkada bukanlah ajang untuk saling mencaci-maki, melecehkan, menghujat, dan merendahkan pandangan orang lain. Kalau sikap itu terjadi, berarti menunjukkan sikap pribadi yang tidak dewasa dan cenderung kekanak-kanakan. Sebab, terkesan merasa benar dan mau menang sendiri.

Baginya, ujaran itu sangat disayangkan dan memrihatinkan. Pasalnya, lontaran caci-maki, hujatan bernada merendahkan, bahkan menyerang kubu lawan dengan menyebut nama hewan. “Tentu ujaran-ujaran kebencian tersebut tidak latah dan tidak pantas dilakukan seorang yang dianggap sebagai tokoh masyarakat. Terlebih yang bersangkutan itu dipandang alim dalam memahami ajaran Islam. Hal ini bisa merusak citra Islam di mata masyarakat,” terang kiai berambut gondrong ini.
“Kami dengar belakangan ini melalui video yang diviralkan di tengah masyarakat pada acara kampanye terbuka, di sekitaran Kota Bekasi beberapa waktu lalu, seorang juru kampanye dari salah satu pasangan calon walikota-wakil walikota berorasi di atas panggung dengan kata dan kalimat penuh hujatan,” kata Kiai Adam.

Wakil Ketua Lembaga Dakwah PCNU Kota Bekasi ini menganjurkan umat Islam agar jangan hanya karena ambisi kekuasaan, kemudian dengan mudahnya menganggap kelompok sendiri merasa paling benar dan suci. Bahkan, terkesan seperti mengaku paling bertakwa di hadapan Allah.

“Padahal Allah mengingatkan kita di dalam Al-Qur’an surat An-Najm ayat 32, yang artinya jangan kalian merasa paling suci, Allah-lah yang paling tahu siapa di antara kalian yang paling bertakwa. Pesan ini seharusnya sama-sama kita ingat dan amalkan,” paparnya.

Ia berharap masyarakat Indonesia, terutama di Kota Bekasi, mampu mendewasakan diri sehingga bisa saling menghormati dan menghargai pilihan orang yang berbeda.  “Inilah yang kami harapkan, dan mudah-mudahan imbauan serta ajakan kami ini bermanfaat buat kita semua. Demi terwujudnya masyarakat yang aman, damai, dan sejahtera,” pungkasnya.

Seperti diketahui, beredar luas rekaman ceramah bernada provokatif salah seorang tokoh agama pendukung salah satu paslon walikota-wakil walikota Bekasi. Hal ini jadi  sorotan lantaran si pencaramah menghina semua ustadz pendukung calon lainnya.

“Saat ini sudah banyak b*bi-bab* yang mengaku sebagai ustadz, b*bi-bab* yang mengaku sebagai ulama. Jangan diikuti. Kalau kalian mengikuti fatwa mereka, maka kalian adalah orang yang bejat,” demikian petikan ceramah tersebut sebagaimana dilansir dari rmol.co.

Tertulis keterangan dalam rekaman yang beredar, ceramah disampaikan tokoh agama berinsial HJS. Ceramah provokatif itu disampaikan HJS saat kampanye salah satu paslon, Sabtu (12/5). Ceramah HJS patut disesalkan. Sebab Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa bahwa haram hukumnya bagi setiap muslim melakukan ujaran kebencian, menyebar informasi bohong (hoax), fitnah, ghibah, permusuhan atas dasar suku, agama, ras, antargolongan (SARA).

Fatwa MUI Nomor 24 Tahun 2017 tentang Hukum dan Pedoman Bermuamalah melalui Media Sosial itu lahir atas keprihatinan dari maraknya kebencian dan permusuhan antarsesama anak bangsa di medsos. (jim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.