Mediasi Gagal, Majelis PA pun Setujui Perceraian

by -429 views

H Dede Supriadi.SH.MH

KOBEK CIKARANG-Perceraian hal yang tidak diinginkan. Tetapi, ketika mediasi tak berhasil, maka  Palu Majelis Hakim Pengadilan Agama  (PA) terpaksa diketuk sebagai vonis cerai. 

“Inilah jalan terakhir, jika tak ada lagi damai dalam hati kedua belah pihak. Karena, kalau pun dipertahankan, kehidupan rumah tangga pasangan suami istri itu tidak akan ada damai lagi. Karena keduanya tetap ngotot bercerai,”  kata  Panitera PA Kabupaten Bekasi H.Dede Supriadi.SH.MH, Rabu (12/9).

Dikatakan, setiap kasus perceraian yang diajukan ke PA, Majelis Hakim pasti menawarkan mediasi. Upaya yang dilakukan, agar hubungan rumah tangganya bisa tetap langgeng. Namun, dari seluruh kasus yang diproses PA, sangat kecil jumlah pasangan yang  rujuk kembali. “Tidak sampai 10 persen dari seluruh pasangan yang mengajukan cerai, kembali rujuk,” katanya.

Selama 30 hari diberikan kesempatan kepada kedua  belah pihak untuk memikirkan secara matang, dengan tujuan mereka bisa kembali rujuk. Sebab, bagaimana pun, ada yang harus menjadi pertimbangan bagi pasangan, yaitu anak. Kalau bercerai, maka dampaknya terhadap anak. Tapi, kalau tak lagi sepaham, maka Majelis Hakim akan mengabulkan percceraian itu,” katanya.

Berbagai hal menyebabkan perceraian. Selain karena masalah ekonomi,  perselingkuh salah satu yang mendominasi perceraian  di Pengadilan Agama Kabupaten Bekasi. Setiap harinya rata-rata 10 kasus perceraian masuk ke PA yang diajukan suami ataupun isteri.

Dari Januari hingga awal September ini, sebanyak 1.926 kasus perceraian yang masuk ke PA, 1.375 sudah diputus dan tinggal 551 kasus tersisa. Tetapi, jumlah kasus itu tetap bertambah, karena setiap hari sekitar 10 kasus yang masuk. Perselingkuhan memang mendominasi perceraian di daerah ini. Baik dilakukan suami maupun  isteri dan pertengkaran yang terus menerus tak bisa dihindari.

Maka, salah satu yang merasa dirugikan, mengajukan gugatan cerai ke Pengadilan. Penggugat biasanya mengaku sakit hati dan sulit menghilangkannya karena merasa dihianati. Selain perselingkuhan, gugatan cerai banyak pula karena  masalah ekonomi. Istri yang merasa kurang dinafkahi menggugat suaminya.

Banyaknya kasus perceraian itu, memang tak sebanding dengan jumlah Hakim yang akan menyidangkan. Setiap harinya rata-rata 80 kasus yang disidangkan di dua ruang sidang. Hanya ada 7 Hakim ditambah Ketua dan Wakil Ketua Pengadilan. “Jadi secara keseluruhan hanya ada 9 Hakim, sehingga persidangan cukup padat, dan  sering sidang hingga malam hari. Sehingga, tak jarang pula pihak yang berperkara  diantar perugas  ke pangkalan angkutan umum karena tidak ada lagi kendaraan umum dari lokasi ini.  Sedangkan tukang ojek pun, tidak mau kalau malam hari, karena di komplek Perkantoran Pemerintah Daerah Kabupaten Bekasi ini sepi,” katanya.  Perceraian rata-rata pasangan di bawah usia 40 tahun, dan hari ini ada kasus yang masuk dari pasangan berusia 21 tahun dan 19 tahun. “Masih sangat muda, sedangkan penyebabnya diduga perselingkuhan,” katanya.  (hem)

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.