Anggota DPRD Kabupaten Bekasi Sulaeman akhirnya mengaku menerima sejumlah uang berkaitan dengan perizinan proyek Mekarta. Uang itu diterima dalam tiga tahap dari orang yang ditunjuk Sekretaris Daerah (Sekda) Pemprov Jawa Barat Iwa Karniwa.

“Bagaimana teknis penyerahan uang? Saksi terlibat?” tanya Jaksa KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) pada Sulaeman yang duduk sebagai saksi dalam sidang lanjutan perkara suap terkait perizinan proyek Meikarta di Pengadilan Tipikor Bandung, Jalan LLRE Martadinata, Kota Bandung, Rabu (6/2).

“Terlibat. Itu cuma dari Pak Hendry (Hendry Lincoln) ke sopir saya. Ada tiga kali,” jawab Sulaeman.

Hendry Lincoln yang dimaksud Sulaeman yaitu Sekretaris Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Bekasi. Hendry memang sebelumnya disebut Sulaeman terlibat pertemuan antara Iwa Karniwa dengan Kabid Perizinan Tata Ruang Dinas PUPR Pemkab Bekasi Neneng Rahmi Nurlaili.

Pemberian pertama disebut Sulaeman dilakukan di Km 72 Tol Cipularang. Saat itu, menurut Sulaeman, Hendry mendatangi sopirnya dan memberikan bungkusan.
“Isinya uang. Jumlahnya tidak tahu karena tertutup rapat,” kata Sulaeman.

Di hari yang sama, Hendry dan Neneng Rahmi memberikan bungkusan ke sopir Sulaeman. Namun lokasi pemberian itu berbeda dari sebelumnya.

“Penyerahan kedua di Bangi Kopi, daerah Bekasi. Diserahkan oleh Hendry Lincoln dan Neneng Rahmi ke sopir saya. Jumlahnya tidak diberitahu cuma disebut untuk banner. Lalu sopir saya serahkan ke sopirnya Pak Waras (Waras Wasisto/anggota DPRD Jabar),” papar Sulaeman.

Pemberian ketiga disebut Sulaeman terjadi di depan rumah sakit. Kali ini pemberian tidak dilakukan Hendry atau Neneng Rahmi tetapi disebut Sulaeman dilakukan seorang pegawai negeri sipil (PNS) Pemkab Bekasi. Namun, Sulaeman lagi-lagi mengaku tidak tahu jumlah pemberian tersebut.

“Urusan itu dari mana?” tanya hakim. Majelis hakim kemudian mempertanyakan soal pemberian uang itu, sebab dalam sidang-sidang sebelumnya selalu disampaikan bila uang itu berkaitan dengan Raperda Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Bekasi demi mulusnya proyek Meikarta. Namun, Sulaeman mengaku tidak mengerti. Sedangkan saat ditanya soal sumber uang, Sulaeman sempat berbelit-belit hingga akhirnya menyebut uang itu berkaitan dengan Meikarta.

“Meikarta,” jawab Sulaeman. Dalam persidangan ini, ada empat terdakwa yang diadili, yaitu Billy Sindoro, Henry Jasmen P Sitohang, Fitradjaja Purnama, dan Taryudi. Keempatnya disebut berasal dari Lippo Group, yang didakwa menyuap Bupati Bekasi nonaktif Neneng Hassanah Yasin dan jajaran pejabat di Pemkab Bekasi demi mulusnya perizinan proyek Meikarta.

Sementara itu, petinggi Lippo Group James Riady datang di tengah-tengah persidangan perkara suap terkait perizinan proyek Meikarta di Pengadilan Tipikor Bandung. Kedatangan James itu langsung menyita perhatian. James mengenakan setelan kemeja putih dan jas hitam. Dia memasuki ruangan dan langsung duduk di kursi pengunjung sidang ketika majelis hakim tengah memeriksa ajudan Billy Sindoro bernama Gentar Rahma Pradana.

“Ada saksi yang sudah dua kali kami panggil hari ini hadir, James Riady,” ucap jaksa KPK pada majelis hakim Pengadilan Tipikor Bandung.

Majelis hakim pun mempersilakan James menunggu di luar ruang sidang agar kesaksiannya tidak terpengaruh oleh saksi yang saat ini menjalani pemeriksaan di hadapan majelis hakim.

“Mohon izin, di luar dulu, ya,” kata hakim.

James pun meninggalkan ruangan sidang untuk menunggu giliran pemeriksaan terhadapnya. Selain James, saksi lain yang juga diminta menunggu giliran adalah Sekda Pemprov Jawa Barat Iwa Karniwa, Kepala Bidang Penataan Ruang Dinas PUPR Pemkab Bekasi Neneng Rahmi Nurlaili, serta Sekretaris Dinas Pemuda dan Olahraga Pemkab Bekasi Hendry Lincoln.

Nama James sebelumnya disebut-sebut dalam perkara tersebut karena melakukan pertemuan dengan Bupati Bekasi Neneng Hassanah Yasin untuk membicarakan soal Meikarta. Namun, James pernah membantah hal itu setelah diperiksa KPK pada Oktober 2018.

“Izinkan saya juga menyampaikan bahwa saya pribadi tidak mengetahui dan tidak ada keterlibatan dengan kasus suap yang di Bekasi,” ucap James saat itu.

“Karena itu waktu saya diajak mampir hanya mengucapkan selamat, saya mampir ke rumah beliau (Neneng), mengucapkan selamat (karena Neneng baru melahirkan),” imbuh James. (gar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here