NINDY Patikawa alias Nindy Ellesse. Kids zaman ‘now’ mungkin tak mengenal namanya. Tapi bila Anda menyebutkan nama tersebut di kalangan eksekutif muda kelahiran 80-an, sudah pasti langsung bilang, “Oo, Nindy Ellesse yang penyanyi?”

Ya, Nindy memang dikenal sebagai penyanyi yang aktif pada 1986. Beberapa album yang dikeluarkan diantaranya Naluri Seorang Wanita (1986), Omong Kosong (1987), Ku Ingin Berteduh di Matamu (1988), Bagai Burung Lepas (1990), Biarkanlah Hujan Turun (1992) hingga album Surat Terakhir (1995) yang menjadi pamungkas sekaligus cara Nindy mengakhiri karir glamournya.

Bukan hanya mengeluarkan album sendiri, dia juga produktif berkolaborasi dengan para artis di eranya dan menelurkan hits diantaranya Kekasih (bersama enam artis JK pada 1989) hingga Cukur Dulu Kumismu (dengan Trio Glamendy pada 1993).

Setelah tak lagi mengeluarkan album sekuler, Nindy aktif menjadi pengkhotbah dan juga aktif merekam dan mengedarkan album-album rohani. “Tuhan sudah sangat baik pada hidup saya,” tutur Nindy kepada Koran Bekasi ketika dihubungi Jumat (15/2).

Lama tak terdengar kabar, ternyata Nindy sekarang aktif berpolitik, lho. Namun karir politiknya tidak dia raih secara dadakan. Wanita kelahiran Ambon, 16 April 1967 itu justru terjun pertama kali menjadi relawan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo. Ketika itu Jokowi tengah bertarung menuju kursi DKI 1.

“Saya melihat beliau sebagai sosok politisi yang bersih dan luar biasa. Yang seperti ini harus didukung,” Nindy blak-blakan.

Karena itulah, terjun menjadi politisi sekarang, Nindy mengantongi ilmu politik praktis dari pengalaman-pengalaman di lapangan sebagai relawan. “Saya tidak punya pengetahuan ilmu politik yang baik. Pemerhati yang jenius. Saya wanita. Saya berpolitik dengan hati nurani,” ujar Nindy serius.

Menurutnya, mengolah hati sangat penting dalam menghadapi Pemilihan Umum di tahun ini. Dia mengimbau agar setiap orang menggunakan hak memilih secara bijak dan jangan mau menjadi warga negara yang suaranya bisa terbeli.

“Jadi begini. Saya berpendapat, inilah akar masalah utama korupsi. Suara yang bisa dibeli maka membuat para caleg seenaknya ketika mereka terpilih. Istilah kasarnya begini, ‘suara lu sudah gue beli, suka-suka gue dong’,” ungkap Nindy.

Dan ucapannya ini memang bukan isapan jempol belaka. Banyak orang yang akhirnya menjadi koruptor lantaran memiliki beban keuangan ketika mereka berkampanye.

Itu bagi yang kaya dan ada yang memfasilitasi soal keuangan ketika bersosialisasi. Namun, ketika memiliki keterbatasan dana? “Banyak yang stres. Kemarin ada yang sampai bunuh diri. Banyak yang sakit jiwa juga. Karena ya itu tadi, mereka jadikan hal ini beban. Mereka mengambil suara rakyat dengan memaksa. Padahal kalau warga kita edukasi yang benar maka Pemilu akan benar-benar jujur. Memilih sesuai hati,” timpal Nindy lagi.

Nindy yakin masyarakat sekarang sudah mulai cerdas dan bisa menganalisa. “Satu lagi, jangan pernah memilih politisi yang berteman dengan koruptor. Ingat, kita berteman dengan tukang ikan asin, pasti kita ikutan bau ikan asin sedikit atau banyak,” pungkasnya. Saran yang sangat masuk akal. (Ardini Maharani)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here