WABAH demam berdarah dengue (DBD) tengah mengancam masyarakat Desa Sukasari. Tapi, rupanya begitu rapuhnya kerja sama antara Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi dengan Puskesmas Sirna Jaya dan RS Medirose untuk memutus mata rantai wabah ini.

Hal itu terungkap ketika Koran Bekasi melakukan penelusuran atas derita yang dialami Mulyana, warga Perumahan Permata Serang Baru, Desa Sukasari RT 008/011, Kecamatan Serang Baru yang menjadi korban DBD.

Kepada Koran Bekasi Mulyana mengemukakan, wabah gigitan nyamuk aedes aegepty membuatnya benar-benar tak berdaya pada Kamis (28/2). Empat hari sebelumnya memang sudah merasakan sangat tidak enak badan.

“Dari hari Senin (25/2) saya shift dua, pulang sudah nggak kuat. Kalau siang memang bawaannya enak tuh, tapi malam pukul 21.00 WIB nggak bisa tidur, keringatan dan meriang,” katanya.

Paginya dia merasa kepala pusing, sehingga sorenya berobat ke klinik. Tapi Kamis sore benar-benar tidak kuat sehingga digotong ke RS Medirossa. Setelah cek darah di IGD ternyata trombositnya tinggal 45.000. “Ini positif demam berdarah,” katanya menirukan dokter yang menanganani. Begitu trombosit mencapai 80.000 Maulana diizinkan pulang. Namun, dia tidak membawa berkas lab dari rumah sakit selain membawa surat untuk kontrol keesokan harinya.

Pada Senin (4/3) lalu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi dr Sri Enny ketika dikonfirmasi mengenai penyakit yang menimpa Maulana, dia mengungkapkan, biasanya pasien membawa surat keterangan dari RS ke puskesmas, sehingga puskesmas melakukan pemeriksaan epidemiologi ke rumah penderita. Kalau terbukti selanjutnya dilakukan fogging (pengasapan). Namun, Kepala Puskesmas Sirna Jaya Testy pada Rabu (6/3) mengaku belum mendapat hasil diagnosa laboratorium dari Maulana.

“Kami tidak bisa melakukan penyelidikan epidemiologi kalau tidak ada hasil labnya. Hasil lab bisa dibawa pasien atau diinformasikan. Yang pasti kalau ada hasil lab pasti kami tindak lanjuti. Sampai saat ini belum mendapat hasil labnya, itu kan masih katanya DBD? Mana buktinya? katanya balik bertanya.
Mengenai fogging yang dilakukan pihak RW di RT 008/011 Desa Sukasari pada Minggu (3/3), menurutnya salah dan tidak mengikuti aturan. Seharusnya setelah ada hasil lab diterima, pihaknya langsung melalukan penyelidikan epidemiologi. Kalau hasilnya positif 20% barulah dilakukan fogging.Testy mengaku pernah kena DBD dan dirawat di rumah sakit di Bekasi Barat. Ketika pulang dirinya dikasih hasil lab tiga lembar, satu untuk puskesmas, satu untuk warga, dan satu lagi buat pribadi. “Puskesmas pun turun melakukan penyelidikan epidemiologi, tapi kalau rumah sakit di sini kan tidak begitu,” ungkapnya.

Bidan Retno menambahkan, dirinya sudah ke rumah Maulana untuk menanyakan hasil lab itu. “Katanya nggak ada. Saya tanya dirawat di mana, jawabnya di RS Medirossa. Saya sudah minta tolong pada saat kontrol untuk minta hasil labnya. Tapi kalau dirawat di RS Siloam ketika pasien pulang langsung dapat hasil lab sama kontrol,” terangnya.

Bidan itu menyampaikan bahwa mendapat hasil lab dari rumah sakit sangat susah walau itu merupakan hak pasien. “Jangankan pasien, kami sendiri ditolak. Padahal secara undang-undang hasil lab hak pasien. Kalau saja hasil lab itu diberikan ke pasien dan dijelaskan juga pasti pasien lapor ke kami. Apalagi Rumah Sakit Medirosa itu paling susah, Medirossa sangat susah,” ungkapnya berulang-ulang.

Untuk memastikan kebenarannya apakah Mulyana diberikan hasil lab, Koran Bekasi pun mendatangi RS Medirossa di Jalan Cibarusah-Cikarang No 5, Desa Sindang Mulia. Sayang, paramedis yang menerima Koran Bekasi menyampaikan, “Maaf untuk masalah ini bapak sudah izin ke pasiennya atau belum? Ada buktinya? Karena ini masalah privasi, kita nggak bisa membuka. Terutama apalagi masalah penyakit atau keterangan apa pun tanpa seizin pasien,” katanya.

Namun ketika didesak, ia kemudian mengatakan akan mempelajari dulu. “Saya harus izin ke Direktur (RS Medirose) dulu, karena saya tidak bisa memberikan informasi tanpa izin. Tapi Direktur lagi ada rapat, maaf sebelumnya apalagi bapak wartawan, saya juga tidak mau asal memberikan informasi. Takutnya jadi bumerang, saya mempelajari kasus dulu dan rapat dengan Direktur tanggapannya seperti apa, nama Mulyana kan banyak,” paparnya. “Nanti bapak hubungi pak satpam aja, nanti saya informasikan kapan bisa ketemunya,” tambahnya. (pir)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here