Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Kota Bekasi Sofar Makmur mengingatkan orang tua agar menjaga komunikasi dengan buah hati dengan ngobrol 20 menit setiap harinya. Hal itu dinilai sangat penting agar komunikasi antara anak dan ibu ataupun ayah terjalin dengan baik, sehingga kejadian pembuangan bayi oleh ibu yang terjadi di Perumnas II, Kayuringin Jaya, Bekasi Selatan tidak terulang kembali.

Terkait kasus pembuangan bayi yang dilakukan ibu kandungnya di Bekasi Selatan, Sofar mengatakan bahwa si Ibu merupakan anak di bawah umur dan selama ini tinggal serumah bersama ayah, ibu, dan neneknya.

“Kejadian yang di Kayuringin Jaya itu cukup mengagetkan kami semua. Bagaimana seorang anak yang tinggal satu rumah dengan ayah, ibu dan neneknya bisa menutupi apa yang sedang terjadi dalam dirinya. Bahkan kami tidak habis pikir kenapa dia (si ibu) dengan kondisi yang masih di bawah umur sudah bisa melahirkan tanpa dibantu orang lain,” kata Sofar kepada Koran Bekasi, Senin (25/3).

Dia melihat ada yang tidak benar dalam kejadian tersebut. “Banyak pertanyaan yang tersingkap dalam kepala komisioner KPAI, kenapa, kenapa dan kenapa anak di bawah umur sudah setega itu,” lanjutnya.

KPAI sendiri dalam persoalan ini, kata Sofar, belum bisa menyimpulkan letak persoalan yang dialami si ibu, sehingga sampai tega membuang bayi yang seharusnya dijaga dan dirawat tersebut.

“Terus terang, sampai saat ini kami belum mengambil kesimpulan dari kejadian ini. Karena si Ibu pun saat ini belum bisa kami periksa karena masih sakit. Karena itu kami meminta penegak hukum agar memberikan hukum yang seadil-adilnya kepada si ibu, karena memang banyak pertimbangan,” terangnya.

Di sisi lain, untuk mencegah hal serupa, Sofar juga meminta Pemerintah Kota Bekasi melalui pihak kelurahan-kelurahan untuk menyidak kontrakan-kontrakan atau kos-kosan yang ada di Bekasi Selatan.

“Karena ini bukan kejadian yang pertama tetapi yang keempat. Sehingga pemerintah harus bisa mengantisipasinya sejak dini,” kata Sofar.

Sementara itu, Ketua Bale Perempuan Kota Bekasi Indriani Diano meminta penegak hukum agar melindungi pelaku dan anaknya, karena keduanya masih di bawah perlindungan anak, baik yang membuang ataupun yang dibuang.

“Karena bisa jadi ibu yang melakukan hal tersebut jadi korban (pemerkosaan atau lainnya). Oleh karena itu penegak hukum harus mengedepankan asas perlindungan bagi keduanya dalam proses hukum, bukan memberikan stigma bagi ibu bayi yang bisa saja menjadi korban dalam hal ini,” jelas Indriani.

Meski begitu, Indriani Diano tidak menampik bahwa si Ibu memang sudah melakukan tindak pidana penelantaran anak. “Tapi kalau bisa jangan dihukumlah, proses hukum bisa dilakukan dengan menggunakan asas restoratif justice, penyelesaian perkara anak dari proses pidana diluar peradilan pidana. Sehingga dengan begitu kepentingan terbaik bukan hanya untuk bayi, tetapi untuk si ibu dan si anak,” paparnya.

Dalam hal ini, penegak hukum juga harus banyak mempertimbangan kondisi bayi yang dilahirkan dan ibu yang melahirkan. Penegak hukum harus bisa melihat apakah dia korban pemerkosaan, korban kekerasan ataupun korban kejahatan lainnya. “Jadi penegak hukum harus jeli melihat sisi-sisi dari persoalan ini,” tegasnya.

Untuk mencegah hal serupa, Indriani meminta orang tua agar lebih ketat dalam mengawasi anak-anaknya dengan lebih instens berkomunikasi sehingga orang tua tahu apa yang terjadi dengan buah hatinya.

“Kita sebagai orang tua harus bisa berkomunikasi secara instens dengan buah hati. Anak itu tidak melulu harus dianggap sebagai anak, tetapi juga harus kita anggap sebagai teman sahabat, sehingga mereka tidak canggung menceritakan apa yang sedang mereka alami dan hadapi,” tandasnya. (bon)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here