HASIL penelitian UNICEF tahun 2010, gizi buruk merupakan masalah multi sektor. Sehingga dalam upaya penanggulangannya diperlukan kerjasama dari lintas sektor lainnya.

Ada dua penyebab terjadinya gizi buruk, pertama penyebab langsung seperti dari faktor asupan makanan. Kedua, penyebab tidak langsung seperti penyakit penyerta, keterbatasan ekonomi, pengetahuan dan pola asuh keluarga.

Sedangkan data di Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bekasi penyebab terjadinya gizi buruk banyak disebabkan oleh penyebab tidak langsung. Hal ini dikatakan Kepala Dinas Kesehatan Kota Bekasi Tanti Rohilawati kepada Koran Bekasi di ruang kerjanya, Rabu (10/4).

Menurut Tanti, saat ini Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi sudah memiliki 42 Puskesmas yang siap turun secara langsung melakukan pelacakan, intervensi, dan pemantauan status gizi balita buruk di wilayah kerjanya. Temuan kasus gizi buruk ini juga merupakan hasil dari pelacakan di wilayah yang menjadi bahan laporan ke Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat.

Pada tahun 2018, katanya, Dinas Kesehatan menemukan kasus gizi buruk sebanyak 209 kasus. Dari temuan kasus gizi buruk tersebut telah dilakukan penanganan dan intervensi oleh Dinas Kesehatan melalui petugas gizi Puskesmas masing-masing wilayah, dimana hasil dari intervensi tersebut kasus gizi buruk dapat diturunkan menjadi 76 kasus.

“Tentunya penurunan kasus gizi buruk di Kota Bekasi ini berkat upaya yang terus kami lakukan melalui intervensi yang telah dilakukan oleh Dinas Kesehatan. Intervensi tersebut, meliputi pemeriksaan balita gizi buruk di Puskesmas, merujuk balita gizi buruk dengan penyakit penyerta ke rumah sakit, pemberian makanan tambahan pemulihan,” ujar Tanti.

Pihaknya juga membuka konseling gizi, pemantauan status gizi ke rumah-rumah warga, pengobatan ISPA, pengobatan TB paru rutin dan terakhir terapi gangguan tumbuh kembang pada balita gizi buruk dengan penyakit penyerta down syndrome.
Tanti melanjutkan sebagai tindak lanjut intervensi yang dilakukan pihaknya, Dinas Kesehatan Kota Bekasi juga telah melaksanakan pelatihan tata laksana gizi buruk sesuai SOP WHO 2005 untuk seluruh petugas gizi Puskesmas di wilayah Kota Bekasi.

Tanti juga mengimbau kepada para orang tua untuk membawa anaknya sampai usia lima tahun, sebulan sekali untuk ditimbang ke Posyandu. Gizi buruk juga akan berpengaruh pada kecerdasan, apalagi gizi buruk muncul pada usia di bawah dua tahun. Hal itu bisa menyebabkan stunting dan perkembangan volume otak terganggu.

“Kemudian untuk RT/RW yang ada di lapangan untuk segera melaporkan ke Puskesmas jika ada anak-anak dengan indikasi kurus. Kemungkinan gizi buruk dipengaruhi oleh aspek penyakit yang mendasari seperti tuberkulosis, jantung dan lainnya jika tidak diatasi maka gizi buruknya juga tidak bisa diatasi,” tutup Tanti. (ADV/DINKES).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here