Sumpah serapah kini mulai terlontar dari para tenaga kerja kontrak (TKK) dan aparatur sipil negara (ASN) yang ditugaskan sebagai personil pelipat kertas suara. Mereka seolah dipaksa bekerja ikhlas, tanpa diberi makan maupun minum, kecuali harus beli sendiri. Mereka pun akhirnya bertanya, mengapa pekerjaan yang seharusnya tanggung jawab KPU (Komisi Pemilihan Umum) Kota Bekasi ini menjadi beban mereka?

Bulir-bulir keringat jatuh dari dahi Ella (nama samaran), seorang TKK dari sebuah kecamatan di Kota Bekasi yang mendapat tugas, sebenarnya mulia, yakni melipat kertas suara pemilihan umum yang bakal digelar serentak kurang dari sepekan. Di tangan Ella dan beberapa rekannya serta ASN lain, kertas suara dan peralatan pendukung pemilu lainnya disiapkan dengan benar hingga sampai ke masyarakat se-Kota Patriot.

Meski tugasnya mulia, Ella terlihat kurang ikhlas. Beberapa kali keluhan terucap dari mulutnya. “Aduh tadi sudah berapa, ya? Ah elah ngitung dari awal. Gini nih kalau kerja kelaparan,” ujarnya sambil membongkar tumpukan kertas suara yang sudah dikareti, entah untuk apa tujuannya.

Keluhan rupanya tak hanya dirasakan Ella. Beberapa dari mereka pun bahkan ada yang bersumpah serapah. TKK dan ASN tersebut adalah personil yang dikerahkan untuk membantu KPU dalam kesiapan peralatan untuk pencoblosan.

Pertanyaannya adalah, mengapa pekerjaan yang seharusnya tanggung jawab KPU ini menjadi beban mereka?

Pertanyaan Koran Bekasi (Kobek) ternyata juga menjadi pertanyaan mereka. Dengan gamblang mereka berkata; “Kami tidak dibayar untuk begini. Tidak dibayar, ini yang digaris bawahi. Para TKK dan ASN yang membantu KPU memang dipaksa ikhlas lantaran tak sepeser pun mereka mendapat apresiasi. Bahkan air setetes pun tak ada, kami harus membeli air minum sendiri dari kantong pribadi masing-masing. Boro-boro ada makanan. Air aja gak disediakan,” ketus Ella.

Malah pantauan Kobek, ada salah satu ASN yang tengah muntah-muntah gara-gara masuk angin. Sebut saja Bambang (bukan nama sebenarnya) yang diutus dari wilayah Pondok Gede dan sekitarnya.

Kondisinya sedang tidak sehat, namun tak ada sedikit pun perhatian dari KPU Kota Bekasi atau staf-stafnya yang hilir mudik memeriksa kelengkapan logistik pemilu.
Mungkin tidak bisa disalahkan juga lantaran tekanan kepada KPU semakin gencar sebagai lembaga yang bertanggungjawab penuh atas kebutuhan seluruh perlengkapan pesta demokrasi tahun ini.

Tapi kondisi Bambang jelas tak bisa disepelekan. Bambang yang sudah pucat pasi masih saja sibuk menghitung ketersediaan kotak suara yang menjadi bebannya.

Sakit Bambang semakin menjadi-jadi lantaran gedung bekas supermarket besar di wilayah Bekasi Utara itu cukup pengap sebab disesaki logistik pemilu. Tak pelak udara membuat Bambang kesulitan nafas di tengah panasnya suhu ruangan. “Udah bang, balik aja dulu. Besok libur dulu,” rekan Bambang sampai tak tega melihat kondisinya.

“Tanggung,” ujar Bambang sambil menggeleng pelan.

Kobek berusaha mengorek keterangan dari rekan Bambang soal awal keterlibatan ASN dan TKK dalam pekerjaan logistik pemilu. Rekan Bambang hanya menggeleng tanda tak mengerti.

“Harusnya ini kan dikerjakan oleh KPU dan staf-stafnya. Ngapain coba bawa-bawa TKK sama ASN segala. Mana gak dibayar, sedikit pun gak ada uang makan kek, apa kek. Nih kita bawa bekal masing-masing,” keluh Ujang (bukan nama sebenarnya) rekan Bambang.

Ketika ditanya Kobek, mungkinkah bayaran itu akan ada setelah pemilu, Ujang hanya mengangkat kedua bahu. Bahasa tubuh Ujang cukup menjawab pertanyaan, hanya Tuhan dan KPU yang tahu. (Ardini)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here