Catatan Kaki Jimmy Reinold

PEMIMPIN tidak diciptakan, melainkan dilahirkan. Mungkin inilah alasan yang mengungkapkan rahasia di balik krisis pemimpin di dunia saat ini. Sebab saya yakin, setiap masa ada pemimpinnya dan setiap pemimpin ada massanya. Pemimpin itu tidak tumbuh subur seperti buah durian dimusimnya. Butuh waktu yang cukup lama untuk dapat menemukan sosok pemimpin yang dilahirkan. Karena itu krisis kepemimpinan memiliki relavansi dengan pernyataan; pemimpin tidak diciptakan, melainkan dilahirkan.

Kita mengenal sosok Abraham Lincoln, Dalai Lama, Che Guevara, Paus Fransiskus, Ford, Soekarno, Mao Tzeng, dan lain-lain berasal dari referensi baik dari buku-buku dan media yang ditulis orang atau kesaksian kita. Mereka adalah contoh para pemimpin pada jamannya. Mereka memiliki filosofi hidup yang gigih sehingga memposisikan mereka sebagai pemimpin. Tentu mereka memiliki pengikut yang fanatik dan senantiasa mengangguminya.
Ketika Presiden Jokowi dengan style kepemimpinan “blusukan”, hampir semua orang dan berbagai media membicarakannya.

Pada dasarnya tidak ada teori tentang kepemimpinan blusukan kecuali bersumber dari sang pemimpin itu sendiri. Dengan kata lain, teori kepemimpinan hanya dapat digagas dalam tindakan oleh sang pemimpin itu sendiri bukan dalam oretan tulis yang dirangkainya.
Jokowi misalnya, tentu ia tidak menyebutkan gaya kepemimpinan “blusukan”.

Semua itu berawal dari media dan publik yang menyebutnya. Awalnya ia hanya menjalankankan bagaimana meretas batas antara dirinya dengan rakyatnya. Melakukan pendekatan ‘buttom up’ (dalam istirilah ilmiah keren) untuk menggali kebutuhan rakyat. Mungkin juga Jokowi sendiri tidak menyadari jikalau itu model kepemimpinan dan menjadi ciri khasnya serta menjadi daya pikat para politisi dalam negeri.

Pada akhirnya, banyak pemimpin mencoba meniru Jokowi, tetapi mereka tetap tidak sama seperti Jokowi. Karena sesuatu yang dilahirkan memang terjadi dengan sendirinya, jika dipaksakan malah terkesan ‘dibuat-buat’ atau syukur-syukur orang tidak bilang ‘munafik’.

Hakekatnya pemimpin yang dilahirkan dengan yang diciptakan tidak sama. Pemimpin yang dilahirkan tidak memerlukan pendidikan tinggi. Tidak berarti mereka anti pendidikan. Kadang mereka sudah memiliki ‘pengetahuan’ alamiah, sentuhan pengetahuan di luarnya hanya merupakan stimulus saja. Ada antara mereka yang rajin membaca, juga ada yang menulis, bahkan ada yang tidak memiliki kedua-duanya. Tetapi gagasan mereka mengalir seperti air karena mereka mampu menggunakan seluruh inderanya (sumber: Kompasiana.com)

Kini, di Kota Bekasi saya melihat sosok yang dilahirkan untuk menjadi pemimpin. Sosok yang bisa dibilang ramah, kalau orang jawa bilang ‘manahipun sae tur grapyak’ . Dan memang dulu namanya tak pernah muncul. Saya ingat saat orang itu masuk ke Kota Bekasi kurang lebih sejak tahun 2008, saya mendengarkan cerita dari warung kopi kalau ia mengawali karirnya di Kota Bekasi sebagai ‘anak buah’ di pemerintahan. Tapi kembali lagi pada tulisan saya diawal, kita tidak akan pernah tahu kapan kita bisa menjadi seorang pemimpin.

Tak butuh waktu lama duduk sebagai anak buah, melalui prosesnya yang singkat saya kembali mendengar orang itu sudah masuk dalam jajaran pemimpin di birokrat. Selama menjadi pemimpin di birokrat, karirnya bisa dibilang cukup topcer. Sehingga pada saat Pemilihan Kepala daerah tahun 2018 ia dipinang untuk menjadi Wakil kepada daerah. Bayangka, dari sekian banyaknya politikus dan kepala birokrat ia yang dipilih untuk maju sebagai Wakil Walikota. Lagi-lagi, kalau memang sudah takdirnya naik jadi pemimpin ya mulus-mulus saja jalannya.

Berjalan satu tahun duduk sebagai orang nomor dua di Kota Bekasi, lagi-lagi dewi fortuna ada didirinya. Bayangkan, salah satu partai besar di Kota Bekasi bahkan tingkat nasional mau memilih dia sebagai pemimpinnya di Kota Bekasi. Lagi-lagi, ia berhasil ‘unggul’ dari orang-orang partai yang sudah malang melintang di dunia partai politik. Posisi ketua dia ambil tanpa ada halangan berat yang menghadang. Dan sambil geleng-geleng kepala saya Cuma bilang, apa betul dia pemimpin yang dilahirkan?

Ketidakpercayaan saya membuat saya berani untuk menemuinya dan bicara empat mata. Saya tanya; kok bisa? Dia menjawab; “mungkin ini yang dinamakan takdir. Dan saya yakin saya dilahirkan untuk menjadi pemimpin. Karena pemimpin sesungguhnya adalah pemimpin yang dilahirkan, bukan diciptakan,” katanya sambil saya tatap matanya yang penuh dengan rasa percaya diri.

Tak sadar saya juga manggut-manggut, “hmmm…bener juga ya. Banyak orang-orang hebat yang ‘ditinggal sama dia,” kata saya dalam hati sambil terus bertanya, kenapa harus dia? Kita lihat kedepannya, apakah dewi fortuna tetap ada dalam dirinya untuk memimpin Kota Patriot? Kalau memang itu terjadi maka tidak diragukan lagi kalau dia memang betul-betul dilahirkan untuk jadi pemimpin. Bener ga Pak Ketua? ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here