Menggelar musik keras, membuat tato massal, pengumbaran aurat laki-laki dan perempuan, bahkan diduga ada minum-minuman keras, dinilai sangat melanggar budaya yang dianut warga Kota Bekasi. Karena itulah, kegiatan yang berlangsung di Gelanggang Olahraga (GOR) Basket Kota Bekasi selama dua hari (27-28/7) itu dikecam budayawan Bekasi.

Andi Sopandi menyesalkan adanya kegiatan pembuatan tato masal di Komplek Stadion Patriot Kota Bekasi dalam event Masberto Kingdom Award 2019. Menurut budayawan Bekasi ini, kegiatan tersebut merupakan acara yang tidak terpuji dan bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut oleh sebagian besar warga Kota Bekasi.

“Kegiatan yang digelar kemarin terbukti mengadakan musik keras. Tato massal terindikasi juga pengumbaran aurat laki-laki dan perempuan secara lebih serta minum-minuman keras. Kami dari kalangan seniman dan budayawan Bekasi mengutuk keras dilaksanakanya event tersebut,” kata Andi dalam siaran persnya kepada Koran Bekasi.

Ia juga mempertanyakan pihak-pihak yang telah memberikan izin atas digunakannya fasilitas milik Pemerintah Kota Bekasi tersebut. “Kami juga mempertanyakan pihak-pihak yang telah memberikan izin atas tempat milik publik untuk acara yang bertentangan dengan visi utama Kota Bekasi yaitu Ihsan,” tegas Andi.

Ditemui terpisah, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Ahmad Zarkasih mengaku sudah mengetahui hal tersebut. Menurutnya, kegiatan tersebut bukan acara tato massal melainkan lomba pembuatan tato. Cat pada tatonya juga menurut Zarkasih bukanlah cat permanen.

“Kita sudah panggil panitianya. Itu bukan giat tato massal tapi lomba yang sekaligus edukasi tentang tato yang sebenarnya ‘coaching education’. Juga ada giat rajah tangan seperti pengantin. Cat tatonya juga yang bisa hilang, bukan yang permanen,” terang Zarkasih.

Menurutnya, kegiatan yang sama juga pernah dilaksanakan sebelumnya. Ia mengatakan, hal tersebut menjadi salah satu alasan pihaknya memberikan izin dilaksanakannya kegiatan tersebut. Diakuinya, dalam kegiatan tersebut juga panitia juga memberikan masukan melalui retribusi yang sudah berporporasi.

“Tahun kemarin juga sudah pernah dilaksanakan, sudah clear ga’ ada masalah. Cuma lomba saja. Modelnya juga dari mereka dan dibayar bukan masyarakat umum. Alasan kita kasih rekom karena memang terkait dengan seni ada di Dinas Pariwisata. Dari Polsek juga sudah oke pengamanannya.Dan mereka bayar retribusi pajak porporasi. Secara pendapatannya ya dapat, pengamanan juga sudah dijamin dari Polsek. Masyarakat kita masih berpikir kayak dulu kalau mau buat tato yang berdarah-darah,” tutup Zarkasih. (jimmy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here