SAAT menyaksikan secara langsung prosesi pengurusan janazah yang meninggal di Tanah Suci, semakin menggugah perasaan hati dan rasa keinginan yang teramat dalam untuk bisa merasakan keutamaan dahsyatnya wafat di Haromain. Apalagi Ustadz Adjie Nung (UAN) yang telah turun langsung mentajhiz (mempersiapkan) salah satu jamaahnya; Trubus Bin Pawiro Dikromo (67) dari Kampung Kebalen, Babelan Bekasi, Kloter 70 JKS Bekasi, jelang empat hari lagi diangkutnya semua jamaah haji ke Arofah, telah dipanggil Allah untuk menghadap selamanya. Wafat di Hotel Tsarawat El-Kahlil Misfalah no 804 KSA yang kemudian pada 6 Agustus 2019 disusul wafatnya seorang ulama besar kharismatik Indonesia yaitu KH Maimun Zubair (Mbah Moen) Ketua Majlis Syariah PPP pada usia 90 tahun, kelahiran 28 Oktober 1928.

Menurut pria yang punya nama lengkap Nur Anwar Amin yang juga Ketua Umum Yayasan Wafizs Al-Amin Center dan Sekjend KBIH Attaqwa KH Noer Alie Bekasi, peristiwa wafatnya para orang pilihan Allah, tamu istimewanya Allah, seakan menjadi manusia terbaik disisi-Nya. Siapa yang tidak berkeinginan menjadi manusia terbaik, manusia yang dipilih Allah untuk bisa betah (tinggal lama) di Tanah Suci dengan iringan jutaan doa dari orang-orang terbaik, didoakan di Tanah Haram yang nota bone tidak ada orang non muslim. Semua yang datang dari seluruh penjuru dunia adalah bersaudara sesama muslim.
UAN yang terus mengikuti prosesi dan menyaksikan prosedur pengurusan janazah yang wafat di Tanah Suci mendapatkan pelayanan yang sangat baik, diurus secara rapi, teliti, dan profesional, baik oleh pihak tim kesehatan Indonesia ataupun dari pihak pemerintah Saudi Arabia yang dikomandoi pihak maktab. Jenazah yang dikuburkan di Makkah atau Madinah setelah jamaah dinyatakan meninggal secara medis oleh tim kesehatan Indonesia, informasi tersebut kemudian dilanjutkan ke pihak pemerintah Saudi Arabia dan pemerintah Indonesia supaya mendapatkan COD (certificate of dead) dan untuk mendapatkan layanan kematian dari pemerintah Saudi Arabia.

“Dengan adanya COD ini, pemerintah Indonesia juga menjadi lebih pasti terhadap kematian jamaah asal Indonesia yang akan diberikan pada ahli waris jamaah yang meninggal,”kata dr Ayu, Ketua TKHI Kloter 70 JKS Bekasi.
Setelah menerima janazah, pemerintah Saudi Arabia lah yang akan memandikan, mengkafani, mensholatkan ke Masjidil Harom sampai penguburanya di daerah Soyara, lokasi ini sekarang menjadi tempat pemakaman umum bagi jamaah yang wafat di Makkah karena pemakaman umum Ma’la saat ini sudah tidak bisa menampung untuk menguburan janazah. Beda halnya untuk pemakaman umum Baqi’ di Madinah, masih bisa menampung. Pemerintah Indonesia juga masih bertanggungjawab melaksanakan Badal Haji dan hak tersebut diberikan setelah jamaah haji keluar dari rumah mereka menuju Embarkasi Asrama Haji dimana Badal Haji ini diberikan pemerintah secara gratis.
Dikesempatan yang sama, UAN juga jadi teringat apa yang pernah disampaikan almaghfurlah KH Noer Alie dalam bahasa Betawi Bekasi ; “Elo kalo pengen dapat Haji Mabrur… pergi haji ga pulang lagi, mati di sono (Tanah Suci)…”
Bisa jadi ucapan ini menjadi motivasi karena saat kita menjadi tamu Allah, semua dosa-dosa kita habis kita bakar, dilebur dan dihapus dengan sebab pergi haji. Karena tidak bisa berbuat dosa lagi sepulangnya dari Tanah Suci, semua dosa habis terhapus ikut terkubur, hanya pahala dan kebaikan yang dibawa sebagai bekal. Bahkan jika lebih jauh dipelajari bahwa hukumnya Sunah mengharapkan kematian di tempat yang mulia yaitu Makkah, Madinah, dan Baitul Maqdis, tempatnya orang-orang sholeh.
Dalam riwayat Ibnu Umar RA, diceritakan keutamaan muslim meninggal di Tanah Suci. Nabi SAW bersabda : “Siapa yang meninggal di Madinah karena aku akan datang memberikan syafaat bagi orang yang meninggal didalamnya. (HR Tirmidzi).

Keinginan dan permintaan mati di Tanah Suci juga dilakukan Nabi Musa AS saat didatangi malaikat izroil. Nabi SAW menceritakan permintaan Nabi Musa AS saat didatangi malaikat maut, beliau memohon kepada Allah, agar kematiannya didekatkan dengan Tanah Suci (baitul maqdis) sejauh lemparan kerikil. (HR Bukhori)
Begitu juga Kholifah Umar bin Khattab RA pernah berdoa. : “Ya Allah berikanlah aku anugerah mati syahid dijalanMU, dan jadikanlah kematianku di tanah Rasul-MU (HR Bukhori). Umar juga memohon agar jenazahnya dimakamkan disamping makam Nabi SAW dan Abu Bakar Ashddiq. Bahkan akan lebih istimewa jika kita mati dalam kondisi berihram dan sedang wukuf berada di Arofah, orang ini di hari kiamat akan dibangkitkan dalam keadaan bertalbiyah, karena itu jenazahnya tidak boleh diberi wewangian dan tidak boleh ditutup, kepalanya dipertahankan seperti orang yang sedang berihrom.
Ibnu Abbas RA menceritakan ada orang yang ikut wukuf bersama Nabi SAW di Arofah tiba-tiba terjatuh dari ontanya dan keinjak onta lalu mati dan dilaporkan kepada Nabi SAW dan Nabi Menyarankan : “Mandikan dia dengan air dan bidara, jangan dikasi wewangian dan jangan ditutupi kepalanya, karena Allah akan membangkitkannya pada hari kiamat dalam kondisi membaca talbiyah (HR Bukhori).
Bahkan akan lebih istimewa jika kita mati dalam kondisi berihram dan sedang wukuf berada di Arofah, orang ini di hari kiamat akan dibangkitkan dalam keadaan bertalbiyah, karena itu jenazahnya tidak boleh diberi wewangian dan tidak boleh ditutup kepalanya dipertahankan seperti orang yang sedang berihrom. Ibnu Abbas RA menceritakan ada orang yang ikut wukuf bersama Nabi SAW di Arofah tiba-tiba terjatuh dari ontanya dan keinjak onta lalu mati dan dilaporkan kepada Nabi SAW dan Nabi Menyarankan : “Mandikan dia dengan air dan bidara, jangan dikasi wewangian dan jangan ditutupi kepalanya, karena Allah akan membangkitkannya pada hari kiamat dalam kondisi membaca talbiyah (HR.Bukhori)
Wafat di Tanah Suci dalam kondisi sedang berihrom haji atau umroh akan mendapat jaminan perlindungan dari Allah dan meraih pahala haji sampai hari kiamat. Nabi SAW bersabda : “Barang siapa keluar untuk berhaji lalu meninggal, maka Allah tuliskan baginya pahala orang yang berhaji hingga hari kiamat, Barang siapa keluar untuk berumroh lalu meninggal, maka Allah tuliskan baginya pahala orang berumroh hingga hari kiamat.” (HR Thabtani).

Keutamaan wafat di Tanah Suci yang sangat spektakuler pahala dan anugrah Allah ini membuat UAN sangat memimpikan supaya merasakan hal tersebut bisa didapatkan saat ajal menjemputnya, diantara keistimewannya : (1) Bisa dishalatkan di depan Baitulloh, masjid termulia di dunia, yang keutamannya seratus ribu lebih baik dibanding masjid lain manapun, seperti hadist ini Nabi SAW bersabda : “Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom. Shalat di Masjidil Harom lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lainnya.” (HR Ahmad). Kesempatan ini hanya bisa diperoleh jika kita meninggal di Tanah Suci.
(2) Jutaan manusia yang mensholatkan janazah kita, pertanda ini menjadi Min Ahlilkhoir termasuk golongan orang yang baik dan doa yang diterima. Dari Aisyah RA ia berkata dari Nabi SAW bersabda, “Tidaklah seorang mayit dishalatkan (dengan shalat jenazah) oleh sekelompok kaum muslimin yang mencapai 100 orang, lalu semuanya memberi syafa’at (mendoakan kebaikan untuknya), maka syafa’at (do’a mereka) akan diperkenankan.” (HR Muslim).
Riwayat lain dari Malik bin Hubairah, ia berkata bahwa Rasulullah SAW. bersabda “Tidaklah seorang muslim mati lalu dishalatkan oleh tiga shaf kaum muslimin melainkan do’a mereka akan dikabulkan.” (HR Tirmidzi).
(3) Bisa di makamkan di Tanah Haram, digabungkan bersama orang-orang pilihan Allah yang sholeh dan didoakan, diziarahi dengan jutaan manusia yang datang dari seluruh pelosok dunia. Padahal mereka bukan keluarga kita hanya sesama muslim bersaudara mereka ikhlas berziarah dan mengirimi doa untuk penghuni maqbaroh. Dalam sebuah hadits Ibnu Abbas mengatakan, “Sebaik-baik pemakaman adalah tempat ini (Ma’la).” (HR al-Bazzar). Bahkan, siapapun yang meninggal dunia di Makkah, entah orang tersebut sedang menunaikan umrah atau haji, maka ia tidak akan dihisab serta tidak akan disiksa. Ia kelak juga akan dibangkitkan dengan aman dan sentosa. Inilah yang menyebabkan timbul rasa keinganan yang mendalam supaya merasakan bisa dikumpulkan bersama orang-orang yang bersih tanpa dosa, suci seperti bayi yang baru dilahirkan sehingga harapan masuk syurga tanpa hisab bisa diperolehnya.
UAN pun seperti biasa selalu mengajak kepada semua kuam muslimin menjelang Idul Adha ini untuk bisa BERQURBAN dan mengeluarkan Wakaf, Zakat, Infaq dan shodaqoh. Hal itu menandakan kita mempunyai jiwa sosial yang tinggi dan mempunyai keseimbangan hidup. “Seimbang karena kita minta kepada Allah, seimbang karena kita mampu berbagi, karena itu bagi yang memiliki kelebihan harta, ayo keluarkan zakat, infaq dan shodaqohnya.”
Dalam rangka meningkatkan kebaikan dan amal sholeh serta SEMANGAT BERQURBAN, Yayasan Wafizs Al-Amin Center mengajak kepada semua umat muslimin untuk menunaikan QURBAN, Wakaf, Zakat, Infaq, Shodaqohnya untuk membantu meringankan beban saudara-saudara kita yang membutuhkan. Untuk itu, mari dukung program-program Yayasan Wafizs Al-Amin Center dengan donasi yng anda salurkan melalui Bank Syariah Mandiri (7117824823) Bank Mandiri (1560014970331) dan Bank BNI (0814106854) a.n. Yayasan Wafizs Al-Amin Center.
Yayasan Wafizs Al-Amin Center juga telah membuka Kantor pelayanan dan penerimaan zakat, infaq, shodaqoh dan dana social lainya di Ruko Prima Orchard Blok C no.06 jl. Raya Perjuangan No.01 Harapan Baru Bekasi Utara, 17123. Tlp. (021) 89234861 dan WA Center (0857 7814 1993).
Anda juga bisa mengakses website di www.wafizs.com untuk memilih program donasi yang telah tersedia. Ikuti juga social media Yayasan Wafizs al-amin Center : Wafizs Al-Amin Centre (facebook) @wafizs_center (Instagram) wafizs center (youtube). (UAN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here