Laporan Ustad Hasnul Kholid dari Tanah Suci Mekkah: Dari Arofah, Muzdalifah Menuju Mina

Read Time3 Minutes, 12 Seconds

ALLAHU Akbar …, begitu teriakan jamaah saat tiba di tenda Arofah. Pekikan itu spontan, betapa tidak, padang arofah yang dirindukan oleh jamaah haji Indonesia hingga berpuluh-puluh tahun (karena waiting List), akhirnya sampai jua. Ibu Chodijah, salah satu jamaah dan beberapa jamaah lainnya sampai menangis begitu tiba di tenda Arofah.

“Seolah-olah saya bermimpi,” ujar Abdul Haris, salah satu anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Bekasi, yang merupakan salah seorang jamaah KBIH An Namiroh, beliau berangkat bersama istrinya.

Pada waktu Wukuf dilaksanakan, inilah kesempatan yang sangat dinanti-nanti seluruh jamaah Indonesia. Tenda sudah besar, sehingga untuk Kloter 50 JKS, cukup menempati dua tenda saja. Dan tentu saja karena dua tenda, masing-masing tenda melaksanakan acara khotbah dan sholat dibagi dua juga.

Dan seluruh tenda di Padang Arofah untuk tahun ini sudah menggunakan AC, sehingga membuat jamaah menjadi betah dan berlama-lama di dalam tenda. Namun, tepat pada jam 14.57 waktu Arab Saudi, Padang Arofah diguyur hujan yang sangat lebat, dengan petir bersahutan.

Hampir 30 menit hujan turun. Dan pada beberapa menit hujan turun, listrik pun padam. Pada saat itu belum ada masalah sebab cuaca yang dingin dan hujan, walaupun listrik mati dan AC pun tidak nyala. Tapi setelah satu jam hujan reda, suasana di dalam tenda pun terasa kepanasan sebab mulai dari hujan turun hingga Maghrib dan Isya, lampu-lampu dan AC di ruang tenda padam.

Akhirnya, banyak jamaah keluar tenda untuk melanjutkan do’a di Padang Arofah, sebab di dalam tenda sangat panas (tanpa AC), berdoapun di luar menjadi tidak beraturan. Ini merupakan hal yang tidak terduga.

Saat-saat jamaah sedang berdo’a wukuf, hujan dan listrik padam hingga malam. Akhirnya menjelang Maghrib di penghujung waktu wukuf, Jamaah An Namiroh berdo’a (yang saya pimpin) di lapangan kecil hingga banyak yang meneteskan air mata.

Setelah wukuf di Arofah, pada pukul 19.10 jamaah An Namiroh diangkut ke Muzdalifah, bermalam di sana dan berkesempatan sholat Maghrib dan Isya di Muzdalifah. Kami di sana hingga sholat Subuh. Dan sekitar
pukul 07.15 pagi kami pun diangkut bus menuju Mina.

Nah, pada saat melempar jumroh Aqobah, dikarenakan jadwal yang diberikan oleh maktab 45, maka kami harus melempar jumroh aqobah pada pukul 12.45. Dengan penuh semangat kamipun berangkat melempar jumroh yang jaraknya dari tenda sekitar 3 Km, dan pulang pergi 6 Km.

Hanya saja, mulai dari perjalanan berangkat hingga pulang, ada tujuh Kejadian yang kami dapatkan di tengah jalan, yakni banyaknya jamaah Indonesia yang jatuh pingsan akibat kelelahan, termasuk tiga orang sudah kena ‘heat strok’. Ini disebabkan cuaca yang sangat panas pada waktu itu, mencapai 41 derajat, dan jamaah lupa untuk minum. Dan yang disayangkan, tidak ada petugas Indonesia yang terlihat, terutama petugas kedokteran. Kami memantau hanya di bagian ujung terowongan saja yang ada petugas Indonesia, itupun satu atau dua orang, dokter tidak ada.

Untunglah secara spontan, melihat jamaah yang pingsan tersebut, maka jamaah yang lainpun berteriak, “Ada dokter …?? Apakah di sini ada yang berprofesi dokter ?” Sementara polisi Arab Saudi memang ada di sepanjang jalan (di dalam terowongan), tapi tidak dapat berbuat banyak. Dan ini hanya inisiatif jamaah saja untuk menolong, dan akhirnya petugas Indonesia setelah beberapa lama baru datang ke lokasi.

Berdasarkan surat dari Kementerian Haji Arab Saudi yang dikirimkan melalui muassasah, berikut jadwal larangan lempar jumrah.
– 10 Dzulhijah larangan melempar jumrah mulai pukul 04.00 sampai dengan pukul 10.00 WAS.
– 11 Dzulhijah tidak ada waktu terlarang untuk lempar jumrah
– 12 Dzulhijah larangan melempar jumrah mulai pukul 10.00 sampai dengan pukul 14.00 WAS.
– 13 Dzulhijah tidak ada waktu terlarang untuk lempar jumrah.

Nah, pada tanggal 10 itu, pemerintah Arab Saudi menetapkan bahwa untuk jamaah Asia Tenggara termasuk Indonesia dilarang melaksanakan jumrah sampai dengan pukul 10.00 pagi. Dari jam 04.00 sampai jam
10.00 pagi. Kemudian pada tanggal 11 Dzulhijah free atau bebas. Selanjutnya, 12 Dzulhijjah waktu terlarang melempar jumrah pada pukul 10.00 sampai dengan 14.00 WAS karena nafal awal. Lalu kemudian
tanggal 13 bebas dari pagi sampai dengan jamaah selesai melakukan nafar tsani.

0 0
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close