PESANTREN ARMUZNA (Arofah Muzdalifah Mina) sengaja dibuat paket layaknya pesantren kilat oleh Ustadz Adjie Nung (UAN) sebagai ketua rombongan jamaah haji KBIH Attaqwa KH Noer Alie dari Kabupaten Bekasi yang tergabung dalam kloter 70 dan maktab 57. Tujuannya agar semua jamaah merasakan seperti dikarangtina dalam pesantren dan jangan menyia-nyiakan waktu serta kesempatan yang Allah sudah berikan untuk menjadi tamu-Nya sehingga tidak ada waktu yang terbuang dan terlewatkan begitu saja. Apalagi, untuk mendapatkan kesempatan masuk dalam pesantren Armuzna hanya datang sekali dan tidak bisa diulang jika lalai dan melakukan kesalahan pasti akan merasakan penyesalan dan kerugian yang besar.
Ritual pelaksanaan ibadah haji dikerjakan hanya satu tahun sekali, itupun hanya dilakukan dalam waktu enam hari, mulai 8-13 Dzulhijjah, di waktu yang sangat singkat ini dibuat padat dengan kegiatan shalat berjamaah, qiyamulail, berdzikir, doa, membaca al-quran muhasabah dan tausiah agar jamaah diingatkan betapa penting kehadiranya di Tanah Armuzna ini yang sangat mustajab. Seperti Arofah, tempat yang dinanti-nanti untuk bisa berwukuf dengan segala persiapan yang maksimal demi hanya bisa datang di Arofah. Dalam Shohihain Bukhori Muslim dari Umar bin al-khattab RA berkata bahwa ada seorang Yahudi berkata kepada Umar : “Ada ayat dalam kitab kalian yang kalian membacanya dan seandainya ayat tersebut turun di tengah-tengah orang Yahudi, tentu kami akan menjadikannya sebagai hari perayaan (hari ‘ied).”
“Ayat apakah itu?” tanya ‘Umar.

Ia berkata, “(Ayat yang artinya): Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” ‘
Umar berkata, “Kami telah mengetahui hal itu yaitu hari dan tempat di mana ayat tersebut diturunkan pada Nabi SAW Beliau berdiri di ‘Arofah pada hari Jum’at.” (HR Bukhari Muslim). Arafah disebut juga hari perayaan bagi kaum muslimin. Karena hari tersebut jamaah haji sedang wukuf di Arafah, sedangkan umat muslim lain melakukan puasa sunnah sehari sebelum Idul Adha.
Ibnu ‘Abbas berkata, “Surat Al Maidah ayat 3 tadi turun pada dua hari ‘ied: hari Jum’at dan hari Arafah.” ‘Umar juga berkata, “Keduanya (hari Jum’at dan hari Arafah) adalah hari raya bagi kami.” Akan tetapi hari Arafah adalah hari ‘ied bagi orang yang sedang wukuf di Arafah saja. Sedangkan bagi yang tidak wukuf dianjurkan untuk berpuasa menurut jumhur ulama.
Pada pukul 21.30 setelah melakukan shalat qoshor jama taqdim maghrib dan isya, barulah rombongan diangkut dari Arofah menuju Muzdalifah untuk mabit (bermalam) Selama di Muzadalifah jamaah hanya dianjurkan untuk berdzikir dan berdoa, karena tempat ini juga termasuk yang mustajab segala doa yang dipanjatkan, meski tidur beralaskan tikar, hand bag sebagai bantalnya dan langit sebagai atapnya dengan segala ketaatan terhadap perintah Allah siap dijalani dengan ridho dan ikhlas untuk menuju haji mabrur.

Usai shalat shubuh berjamaah di tanah lapang Muzfalifah dengan pakain ihrom yang sudah tidak nampak putih lagi karena terlumuri debu, namun tetap kesucian pakaian menjadi prioritas untuk sahnya ibadah shalat shubuh. Walau badan terasa lelah, ngantuk dan lapar, namun jamaah tetap semangat menunggu antrian dan bis jemputan menuju ke Mina, tepat pukul 06.15 pagi waktu Saudi Arabia satu persatu tiap rombongan mengantri naik bis menuju ke Mina dengan berbalut pakaian ihrom dan selalu menjaga larangan-larangan ihrom demi sahnya ibadah haji yang tengah masi dijalankan.
Pada 10 Dzulhijjah pukul 07.30 pagi tiba di tenda Mina semua rombongan jamaah kloter 70 JKS Bekasi tiba tepat di waktu untuk melontar jumroh aqobah dan jamaah diistirahatkan di tenda Mina sambil menunggu waktu dibolehkannya melontar. Menariknya, Mina adalah lokasi tanah haram Makkah , tempat tumpahan darah jutaan binatang yang disembelih tiap tahunya terdiri dari unta, sapi, dan kambing. Mina juga membuat semua jamaah haji wajib mabit (bermalam) selama tiga hari dua malam bagi yang ambil Nafar Awal dan empat hari tiga malam bagi yang ambil Nafar Tsani karena Mina juga termasuk tempat yang sangat mustajab untuk berdoa.
Disinilah pesantren Armuzna sangat berperan untuk membekali mereka jangan sampai menyia-nyiakan kesempatan emas selama di Mina, rombongan KBIH Attaqwa KH Noer Alie Bekasi sengaja mengambil Nafar Tsani agar bisa terus memanfaatkan keutamaan Mina dan bisa mengajak para jamaah lansia untuk melakukan jumroh sendiri walau fisik mereka sudah lemah, supaya mereka mengetahui beratnya melempar jumroh.
Selama pesantren Armuzna mabit di Mina jamaah haji melakukan banyak rangkain kegiatan selain melontar jamarot yaitu : shalat lima waktu berjamaah dengan qoshor jama, qiyamullail, dzikir, berdoa, mendengarkan Tausiah dan mengambil sejarah perjalanan Rasulullah SAW dan para Nabi sebelumnya, dimana dahulu sejumlah 75 Nabi melaksanakan shalat di Masjid Khaif di Mina, termasuk Nabi Muhammad SAW. Bahkan, menurut riwayat Nabi Adam AS dikubur di Mina ini.
Perintah Allah selama di Mina dengan selalu berdzikir, takbir dan tahmid sesuai firman Allah : “Dan berdzikirlah kamu kepada Allah pada hari-hari yang terbilang.” (Q.S.Al-baqoroh : 203).
Rasulullah SAW juga bersabda : “Hari-hari tinggal di Mina adalah yiga hari.” (HR. Ahmad dan Abu Daud).
Ada dua pekerjaan inti yang harus dilakukan jamaah haji selama di Mina yaitu pertama, melontar jamarot pada hari nahar dan ayyamut tasyriq dengan melontar jumrotul ula, wustho dan aqobah. Kedua, mabit (tinggal dan menginap) di Mina selama ayyamut tasyriq. Aisyah telah mengemukakan : “Rasulullah SAW melakukan ifadhoh (thawaf ke Makkah), kemudian kembali ke Mina, lalu tingga di Mina selama tiga hati-hari tasyriq.” (Muttafuq alaih)

Keistimewaan lain Mina yaitu : (1) kawasan ini pada hari biasa tampak sempit dan selalu menjadi luas secara otomatis sehingga dapat menampung seluruh jamaah. Ini sesuai dengan ucapan Rasululloh SAW. “Sesungguhnya Mina ini seperti rahim, ketika terjadi kehamilan daerah ini diluaskan oleh Allah SWT. Maka semestinya kita tidak perlu khawatir tidak dapat tempat di Mina.”
(2) Batu krikil yang dilontarkan ke jumroh oleh jamaah haji yang hajinya diterima oleh Allah diangkat oleh malaikat ke langit. Dan batu yang dilontar oleh mereka yang hajinya tidak diterima dibiarkan menetap disekitar jumrah yang akhirnya dibersihkan. Hal ini sesuai dengan ucapan Abdulloh bin Umar : “Demi Allah, sesunghuhnya Allah mengangkat ke langit batu yang dilontarkan ke jumroh oleh mereka yang hajinya diterima oleh Allah.”
Dan hal ini juga pernah dilihat langsung oleh mufti masjidl harom Syiekh Abu Nu’man attabrizi pada zamanya menyaksikan batu-batu itu beterbangan naik ke atas ke arah langit.(UAN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here