Hermon Pergi, Sukarman Datang: Tuntaskan Dugaan Korupsi Stadion Mini Pondokgede

0
93
  1. Sejumlah elemen masyarakat berharap banyak kepada Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Kota Bekasi Sukarman untuk menuntaskan kasus dugaan korupsi di Kota Bekasi. Salah satunya adalah dugaan korupsi pembangunan stadion mini Pondokgede yang sudah lama mangkrak dan menjadi ‘PR’ (Pekerjaan Rumah) yang harus segera dituntaskan.

Setelah 11 bulan menjabat Kajari Kota Bekasi, Hermon Dekristo beralih tugas menjadi Asisten Intelijen Kejati Makassar, Sulawesi Selatan. Penggantinya adalah Sukarman yang pernah menjabat Kepala Seksi Perdata dan Tata Usaha Negara (Kasi Datun) Kejari Kota Bekasi tahun 2008.

Acara lepas sambut berlangsung di kantor Kejari Kota Bekasi, Selasa (13/8). Hermon Dekristo pun mengucapkan terima kasih atas kerjasama yang selama ini telah dilakukan dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi, Polres Metro Bekasi Kota, Dandim 0507, Ketua Pengadilan Negeri Bekasi, serta Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Bekasi.

“Kerjasama dan koordinasi yang selalu saya ingat semenjak bekerja menjadi Kajari Kota Bekasi, dari Walikota Bekasi, Kapolres Metro Bekasi Kota, Dandim 0507 Bekasi, Ketua Pengadilan, serta unsur Forkopimda, sungguh luar biasa ikatan persaudaraannya. Saya tidak akan pernah lupa tentang Kota Bekasi ini,” ujar Hermon.

Kesan dan pesan yang disampaikan Hermon tentang Kota Bekasi seolah melupakan tuntutan yang pernah disampaikan Center for Budget Analysis (CBA) untuk membuka kembali kasus dugaan korupsi pembangunan stadion mini Pondokgede. Menurut Direktur CBA Uchok Sky Khadafi , kasus tersebut terkesan jalan di tempat, meskipun pejabat terkait telah dimintai keterangan. Pada 2014-2017, katanya, Pemkot Bekasi mengalokasi anggaran untuk proyek pembangunan stadion mini di delapan lokasi dengan anggaran sebesar Rp27.283.092.700.

Kedelapan lokasi tersebut adalah stadion mini Bekasi Barat dengan anggaran sebesar Rp1,4 miliar, Jatisampurna Rp1,9 miliar, Bekasi Selatan Rp2,4 miliar. Kemudian stadion mini Rawalumbu Rp2,4 miliar, Bekasi Timur (Lapangan Multiguna) Rp5,2 miliar, Pondok Gede Rp6,6 miliar. Selanjutnya, stadion mini Mustika Jaya Rp6,8 miliar, serta stadion mini dan gedung serbaguna RW 03, Kelurahan Margamulya dengan anggaran sebesar Rp356,8 juta.

Dari delapan stadion mini tersebut, kata Uchok, diduga ada penyimpangan anggaran dengan potensi kerugian negara sebesar Rp1,7 miliar. “Dari delapan stadion mini ini hanya satu proyek pembangunan stadion mini yang masuk ke proses penyidikan Kejari Bekasi, yaitu proyek pembangunan stadion mini Pondok Gede,” jelas Uchok.

Sayangnya, lanjut Uchok, proses penyidikan stadion mini Pondok Gede sampai sekarang kasus dugaan korupsinya mangkrak atau tidak ditindaklanjuti pihak Kejari Kota Bekasi. Padahal, kasus tersebut tinggal memasuki tahapan penetapan tersangka. Bahkan, mantan Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Disperkimtan) Kota Bekasi yang saat ini menjabat Kepala Dinas Perhubungan, Dadang Ginanjar sudah beberapa kali dimintai keterangan.

Sementara itu, Kajari Kota Bekasi yang baru Sukarman saat memperkenalkan diri mengaku sudah pernah bertugas di Kota Bekasi sebagai Kasi Datun pada tahun 2008. Kemudian, dia pindah pada 2010 menjadi Kasi Penyidik di Jawa Tengah dan beralih ke Poso selama 1 tahun 6 hari. Kini, dia kembali ke Kota Bekasi menjadi Kajari menggantikan Hermon Dekristo. Akankah PR itu segera dituntaskan?.

Dalam sambutannya, Sukarman memohon dukungan kepada Walikota Bekasi, Kapolres, Dandim dan unsur Forkopimda untuk ikut meneruskan kinerja Kajari sebelumnya. Selaku Kepala Kejaksaan Negeri, katanya, dia akan turut berkoordinasi sesuai dengan Visi Kota Bekasi yang Cerdas, Kreatif, Maju, sejahtera dan Ihsan. (gar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here