Jadilah Lilin Penerang Bagi Seluruh Warga Kota Bekasi

Read Time2 Minutes, 57 Seconds

Oleh: Zulkarnain Alregar

KAMIS, kemarin pagi, teman satu kelas SMA di kampung halaman Padangsidimpuan, Tapanuli Selatan, Hasyim Ashari, yang sudah 10 tahun lebih menetap di Tokyo, Jepang memposting dalam akun fesbuknya; “Teman-temanku di Tanah Air, tolong kirimin saya gambar Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral dalam posisi bersebelahan. Saya mau menjelaskan dan menceritakan kepada warga muslim Jepang betapa rukunnya umat beragama di Indonesia.”

Ternyata, belum sempat saya mengirimkan foto-foto tersebut, sejumlah rekan yang lain sudah langsung mengirimkan foto-foto yang diminta Hasyim. Bahkan tak hanya Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral, juga foto sejumlah masjid dan gereja dari berbagai pelosok Tanah Air, langsung dikirim ke akun fesbuk Hasyim.
Saya pun teringat dengan kampung halaman tercinta bernama Sipirok, sekitar delapan jam dari Kota Medan, Sumatera Utara.

Di kota kecil ini, posisi masjid dan gereja lokasinya tak berjauhan. Kata ayah saya, setiap kali ada kerja bakti di masjid, warga non muslim ikut membantu, demikian juga sebaliknya.
Saya pun kembali teringat ketika dua tahun lalu jalan-jalan bersama keluarga ke Kota Brastagi, Tanah Karo, Sumatera Utara yang mayoritas penduduknya non muslim. Di pinggir jalan utama, berdiri megah masjid yang tak jauh dari lokasi, juga ada bangunan gereja. Penduduknya, sangat dan sangat akur serta tak pernah membedakan agama yang satu dan agama yang lain.

Tingginya tingkat toleransi beragama, benar-benar kental di wilayah Sumatera Utara, dan pastinya juga di sejumlah daerah lain di negeri tercinta. Bukan tidak mungkin pula, ini merupakan implementasi dari surat Al-Kaafiruun, “Lakum diinukum waliyadiin” yang artinya; Bagimu agamamu dan bagiku agamaku.

Tapi, di saat teman sekelas saya itu memposting permintaan foto, di saat yang sama saya membaca postingan Walikota Bekasi Rahmat Effendi yang berbunyi; “Tidak ada yang berbeda dengan saya. Saya tetap muslim. Karena keimnanan ada dalam hati, karena keyakinan ada dalam hati. Jadi yang bisa dilihat dari perilaku seseorang adalah tindakannya. Kalau keimanannya hanya Tuhan yang tahu.”

Saya paham betul maksud kalimat itu mengarah ke mana. Pasti, hal itu terkait dengan pesan berantai ‘ujaran kebencian’ dari sekelompok orang dan pihak tertentu menyusul diresmikannya gereja Santa Clara Paroki Bekasi Utara, Kota Bekasi oleh Walikota Bekasi.

Apalagi, dilakukan pada hari besar keagamaan umat Islam, Idul Adha 1440 H.
Tak pelak, marak berita, mulai dari media online yang tak jelas asal-usulnya hingga yang resmi, memuat berita tersebut. Parahnya lagi, ketidakhadiran Rahmat Effendi di shalat Idul Adha yang berlangsung di Masjid Agung Al Barkah, dikait-kaitkan dengan peresmian gereja tersebut.

Padahal, Sayekti selaku Kabag Humas Pemkot Bekasi sudah menjelaskan bahwa, Walikota Bekasi memilih shalat di dekat rumahnya karena faktor kelelahan.
Sebab, beberapa jam sebelum waktu salat Idul Adha, Rahmat Effendi baru saja mengikuti sidang paripurna di gedung DPRD Kota Bekasi, di mana sidang paripurna baru dimulai jam 23.30, selesainya menjelang subuh sekitar pukul 04.00 WIB.

Lantas, dimana letak kesalahannya? Bukankah shalat Idul Adha bisa dilakukan di masjid mana saja? Yang salah justru, yak tak shalat Idul Adha.
Apakah sebagai Wallikota Bekasi yang seyogianya memang harus berdiri di antara semua lapisan masyarakat, di semua kelompok agama, terus kita tuding bersalah besar ketika dia harus meresmikan sebuah rumah ibadah non muslim?

Saya memang tak habis pikir. Di satu sisi, teman saya di Tokyo ingin bercerita tentang indahnya kerukunan umat beragama di negeri tercinta, tetapi di sisi lain masih saja ada segelintir orang, sekelompok pihak, yang ingin merusak tatanan kehidupan dan kerukunan antar umat beragama itu.

Ya. dalam kondisi sekarang ini, memang apa saja bisa ‘digoreng’ untuk menjatuhkan seseorang, termasuk sosok Rahmat Effendi yang tiada hari tanpa kalimat ujaran kebencian. Kota Bekasi memang teramat seksi untuk diperebutkan, baik oleh kawan apalagi lawan.
Saya cuma bisa bilang; tetap bekerja dan jadi lilin penerang bagi seluruh warga Kota Bekasi. Terimakasih. (***)

0 0
0 %
Happy
0 %
Sad
0 %
Excited
0 %
Angry
0 %
Surprise

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *