Abu Bagus: Milad di Pusara Bapak, Islamic Ulang Tahun

0
75
Amin Idris alias Abu Bagus (paling kiri). (FB)

DI usia yang ke 26, semarak ulangtahunmu bertaburan bunga-bunga indah
Spanduk, baleho, famplet, flayer bertebaran dimana mana
Nasi bungkus, cek kesehatan, aneka lomba sampai donor darah,
Ada wisuda tahfiz, tabligh akbar, sampai petugas kurban yang berlumuran darah
Di sudut sudut ruang, di selasar selasar, wajah wajah sumringah cerah

Islamic Ulang Tahun,
Kami datang ke singgasanamu Bapak
Dalam title ziarah kami mengharap bisa mengunduh berkah
Meraih petuah, menuai titah, atau mendengarkan perintah
Bersimpuh kami dalam alunan doa dengan tangan tetap menengadah
Hening menanti sesuatu yang kami pun tak tahu apa yang kami nanti
Tapi pak, Bapak diam, tetap diam

Islamic Ulang Tahun,
Bicaralah pak, Bicara …
Lihatlah, gerbang kami telah berganti kuncung dengan palangan parkir berbayar
Masjid kami telah berganti kerangka atap baja dengan coran beton
Taman hijau kami tutup dengan baluran aspal
Pedagang-pedagang kecil tampak gagah dengan gerobak gerobak Baznas
PLN pak, PLN sumber penerangan kami tak lagi kami bergantung
Ada genset yang kami beli sendiri, dengan uang sendiri, dengan penghasilan sendiri

Pak, Islamic Ulang Tahun.
Bicaralah pak bicara …
Kami sudah punya sekolah tahfiz
Yang akan kami tasbihkan untuk satu juz, dua juz, lima juz, 10 juz, 20 juz
Dari pancaran mata anak anak kami itu, ada wajah Bapak yang tak kuat kami menatapnya
Entah Bapak senang atau marah karena pasti Bapak tau di darah tahfiz mengalir darah Baznas
Islamic Ulang Tahun Pak
Bicara pak, bicara …
Bapak juga tau pasti kami sudah punya Sekolah Teka
Kami bangga menamainya Islamic Preschool Centre
Menjejaki Bapak yang bangga dengan pilihan nama kelas dunia.
Kami bangga anak anak kami ada yang di UI, ITB, UGM, Malaysia dan bahkan di Turki
Tapi kenapa Bapak diam. Bicaralah pak, apakah kami pantas diteruskan oleh generasi hebat ini kelak
Bicara Pak …
Gedung sewaan kami sematkan nama Bapak
Waaah, bookingannya sudah sampai tahun 2021
Hostel kami juga diminati,
Halaman parkir kami dambaan santri santri supporter bola dan pengantar haji
Ruang ruang pertemuan kami, ruang kantor kami, kantin, berkah pak
Koperasi kami sudah berbagi dividen lumayan,
Minimarket kami meski masih jadi lidahnya kapitalis, kami bangga pak

Bicara Pak, bicara …
Pak, pasti Bapak juga sudah tau
3.000 meter lebih tanah Bapak akan diambil proyek jalan berbayar
Gedung Teka, Rumah Imam, Rumah Kompos, Kantor Yayasan, Aula Muzdalifah
Akan bernasib sama dengan Kuncung Gerbang yang tergilas lama

Islamic Ulang Tahun Pak,
Bicara …
Kami telah kehilangan kunci pintu kami
Pintu kami tak bisa lagi buka tutup
Tikus, ular, guguk, meong, kelelawar dan katak pun tanpa salam bisa keluar masuk
Muruah, kehormatan, hargadiri, pride, kebanggaan dan digdaya kami terdistorsi

Pak, Jangan Marah Pak,
Jangan marah

Sekolah-sekolah belum bisa kami dampingi
Pedagang pedagang belum banyak kami temani
Kaum dhuafa belum banyak kami santuni
Si kaya belum banyak yang kami ajari
Calon-calon pengantin belum bisa kami bekali
Keluarga-keluarga belum bisa kami tenangi
Orang-orang sakit belum bisa kami bisiki
Bahkan mereka yang syakratul maut belum bisa kami tuntun berucap ‘laa ilaaha illah dan keluarganya belum bisa kami hiburi’

Tangan kami lumpuh
Nyali kami kecil
Otak kami polutif
Hati kami kosong
Mata kami rabu jauh
Kaki kami terikat fakta

Islamic Ulang Tahun Pak
Bicaralah pak
Bicara …
Kami siap mendengarnya
(Bekasi, 15 Agustus 2019)
(*Abu Bagus adalah mantan wartawan senior yang juga pengurus Islamic Centre Kota Bekasi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here