Laporan Langsung dari Tanah Suci: Hudaibiyah, Awal Fathu Makkah

0
89
Ust H Hasnul Kholid P SE MM (KOBEK)

Rombongan KBIH An Namiroh, dalam kesempatan di hari Ahad, 18 Agustus 2019 mengunjungi Hudaibiyah, suatu tempat yang sangat bersejarah di dalam kisah penaklukan kota Makkah, yang lebih populer disebut Fathu Makkah. Dan Saya pun menceritakan kepada jamaah tentang kisah tersebut.

Sejarah ini dimulai dari Rasulullah SAW bermimpi, tepatnya pada bulan Dzulqaidah 6 H. Dan keesokan harinya, mimpi tersebut diceritakan kepada para sahabatnya. Kejadian ini tertuang dalam Qur’an Surah Al Fath : 27, yang berbunyi:

Allah SWT berfirman:
لَـقَدْ صَدَقَ اللّٰهُ رَسُوْلَهُ الرُّءْيَا بِا لْحَـقِّ ۚ لَـتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَـرَا مَ اِنْ شَآءَ اللّٰهُ اٰمِنِيْنَ ۙ مُحَلِّقِيْنَ رُءُوْسَكُمْ وَمُقَصِّرِيْنَ ۙ لَا تَخَا فُوْنَ ۗ فَعَلِمَ مَا لَمْ تَعْلَمُوْا فَجَعَلَ مِنْ دُوْنِ ذٰلِكَ فَتْحًا قَرِيْبًا

laqod shodaqollaahu rosuulahur-ru`yaa bil-haqq, latadkhulunnal-masjidal-harooma in syaaa`allohu aaminiina muhalliqiina ru`uusakum wa muqoshshiriina laa takhoofuun, fa ‘alima maa lam ta’lamuu fa ja’ala min duuni zaalika fat-hang qoriibaa

(“Sungguh, Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya bahwa kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, jika Allah menghendaki dalam keadaan aman, dengan menggunduli rambut kepala dan memendekkannya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tidak kamu ketahui, dan selain itu Dia telah memberikan kemenangan yang dekat.” (QS. Al-Fath 48: Ayat 27)

Akhirnya, Beliau mengajak para sahabatnya untuk bersiap diri berangkat ke Mekkah guna ibadah umrah. dan dikala itu, kaum Musyrikin Quraisy memiliki dendam kesumat pada Islam, karena itu sebagai antisipasi akan terjadinya perseteruan dan halangan yang bakal mereka timbulkan, Rasulullah SAW mengajak kabilah-kabilah Arab sekitar Madinah untuk ikut pergi ke Mekkah. Namun, tidak banyak kabilah yang menerima ajakan beliau. Kebanyakan dari pihak Muhajirin dan Anshar yang siap menyertai Rasulullah SAW.

Pada hari Senin tanggal 1 Dzulqaidah tahun ke-6 H/627 rombongan muslimin yang terdiri dari golongan Muhajirin, Anshar dan beberapa kabilah Arab mulai meninggalkan Madinah menuju Mekkah. Terdapat beberapa pendapat berbeda mengenai jumlah orang yang ikut serta dalam rombongan Rasulullah SAW. Paling masyhur adalah pendapat yang berpegang pada riwayat dari Jabir bin Abdullah al-Anshari, disebutkan bahwa peserta dalam Perjanjian Hudaibiyah adalah 1400 orang.

Jumlah itu termasuk empat perempuan, di antaranya Ummu Salamah, istri Nabi saw. Selama meninggalkan Madinah, Rasulullah SAW mewakilkan kepemimpinan Madinah kepada Abdullah bin Ummi Maktum atau Numailah bin Abdullah Laitsi.

Singkat cerita, saat rombongan muslimin memasuki daerah Hudaibiyah tiba-tiba onta milik Rasulullah saw (Qashwa’) berhenti dan duduk, Rasulullah SAW lalu meyuruh pengikutnya untuk berhenti di tempat itu.

Ketika Rasulullah SAW berada di Hudaibiyah, Budail bin Warqa’ al-Khuza’i bersama orang-orang dari kabilah Khuza’ah datang menemui beliau. Rasulullah SAW menjelaskan maksud kedatangannya, bahwa beliau dan rombongannya hanya ingin mengunjungi Baitullah, bukan perang. Bani Khuza’ah lalu mengabarkan hal itu pada kafir Quraisy. Quraisy menjawab, “Meski jika Muhammad tidak datang untuk perang, dia tetap tidak akan kami ijinkan memasuki Mekkah karena itu akan membuat orang-orang Arab menertawakan kami.”

Setelah itu kafir Quraisy mengirim beberapa perwakilan menemui pihak Islam untuk berunding, namun kedua pihak tidak mendapatkan kesepakatan. Alhasil, para pemuka Quraisy menganggap kedatangan kaum muslimin ke Mekkah merupakan penghinaan dan sindiran tajam bagi mereka.

Akhirnya, Rasulullah SAW mengirim Utsman bin Affan ke Mekkah, untuk berunding. Pihak Quraisy mengutus Suhail bin Amr ke pihak Muslimin, dan dibuatlah perjanjian yang isinya sangat berbelit-belit.

Seusai perundingan Rasulullah SAW bersabda pada Imam Ali AS, “Tulislah ‘Bismillahirrahmanirrahim'”. Suhail bin Amr berkata, “Ini bukan cara kami, harus ditulis sebagaimana yang sudah biasa di kalangan kami, yaitu ‘Bismika Allahumma’.” Atas titah Rasulullah SAW, Imam Ali as menulis sebagaimana yang diminta Suhail.

Saat Rasulullah SAW melanjutkan, “Tulislah, ‘Berikut adalah kesepakatan antara Muhammad Rasulullah dengan Suhail bin Amr’.” Suhail kembali menyela, “Kalau kami menerimamu sebagai ‘Rasulullah’ tentunya kami tidak akan pernah bermusuhan dan berperang denganmu, bagian ini juga harus dihapus dan diganti dengan ‘Muhammad bin Abdullah’.”

Rasulullah SAW pun menerima permintaan itu. Rasulullah SAW melihat Imam Ali AS merasa tidak enak hati karena harus menghapus kata “Rasulullah” dari belakang nama Nabi Muhammad SAW. Karenanya beliau bersabda pada Imam, “Ya Ali, tunjukkan di bagian mana, biar aku sendiri yang menghapusnya.”

Berikut ini inti isi Perjanjian Hudaibiyah:
Pertama : Gencatan senjata antar kedua belah pihak selama 10 tahun supaya masyarakat hidup dengan aman dan damai.

Kedua : Tahun itu kaum muslimin tidak diperbolehkan mengunjungi Baitullah, mereka harus pulang ke Madinah. Tahun berikutnya baru boleh kembali ke Mekkah untuk ibadah umrah.

Ketiga : Kaum muslimin harus memulangkan warga Mekkah yang masuk Madinah kembali ke Mekkah, namun ketentuan itu tidak berlaku sebaliknya. Orang Madinah yang ke Mekkah tidak akan dikembalikan ke Madinah.
Keempat : Seluruh kabilah sekutu Quraisy maupun Islam harus bebas dan merdeka.

Belum lewat dua tahun sejak penandatanganan perjanjian, pihak kafir Quraisy sudah melanggar perjanjian pasal pertama (gencatan senjata). Kabilah Bani Khuza’ah merupakan sekutu kaum muslimin dan kabilah Bani Bakr adalah sekutu kafir Quraisy. Pada pertempuran antara dua kabilah tersebut pada tahun ke-8 H/629, orang-orang Quraisy ikut campur membela Bani Bakr dan membunuh orang-orang Bani Khuza’ah. Ini artinya perjanjian telah dilanggar.

Bermaksud memohon maaf, Abu Sufyan datang langsung ke Madinah, namun permohonannya ditolak. Atas kejadian itu, Rasulullah SAW segera mendatangi Mekkah bersama pasukan yang sangat banyak.

Dan terjadilah penaklukan kota Mekkah dari hikmah perjanjian Hudaibiyah tersebut.
Allahu Akbar …

Oleh Ust H Hasnul Kholid P SE MM
(Ketua KBIH An Namiroh)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here