Rugi Besar Jika Kota Bekasi Bergabung dengan Jakarta, Harus Jadi Kota Metropolitan

0
978
Ucapan selamat datang di Kota Bekasi. (NET)

Wacana bergabungnya Kota Bekasi dengan DKI Jakarta untuk menjadi Jakarta Tenggara, mendapat sorotan. Dinilai, pengabungan itu akan merugikan Kota Bekasi sendiri karena saat ini posisinya sudah menjadi kota metropolitan terbesar ketiga di Indonesia. Sebaiknya, cukup menjadi kota metropolitan mandiri.

Pengamat tata kota Yayat Supriatna pun angkat bicara dan begitu semangat saat ditanya wacana keinginan bergabung dengan Jakarta. Yayat menilai, Kota Bekasi lebih layak menjadi kota metropolitan mandiri. Pasalnya Kota Bekasi sudah menjadi kota metropolitan terbesar ketiga di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya. Sedangkan Bandung ada di bawah Kota Bekasi.

“Bekasi itu lebih bagus mandiri lah. Jadi, Bekasi itu sudah cocok jadi kota metropolitan mandiri. Kalau bergabung dengan Jakarta jadi Jakarta Tenggara, itu Bekasi gak akan pernah eksis lagi. Nanti kalau DKI kena undang-undang otonomi, DKI hanya menjadi wilayah administratif bukan wilayah otonom. Bekasi kan sudah jadi kota metropolitan, terbukti sekarang sudah menjadi kota metropolitan terbesar nomor tiga di Indonesia setelah Jakarta, Surabaya, baru Kota Bekasi. Bandung itu nomor empat,” tegas Yayat.

Diakuinya, Kota Bekasi itu kalau bersinergi dengan Kabupaten Bekasi, akan lebih kaya lagi. Di Kabupaten Bekasi ada kota-kota baru, ada Cikarang, Kota Jababeka. “Ada tujuh kawasan baru di sana. Itu menunjukkan Bekasi akan lebih eksis,” lanjut Yayat yang juga Dosen Fakultas Arsitektur Lanskap dan Tekhnologi Lingkungan Universitas Trisakti ini kepada Koran Bekasi, Senin (19/8).

Apalagi, kata Yayat, bila ibukota jadi pindah ke Kalimantan, DKI Jakarta akan menjadi Provinsi Jakarta saja. “Bila ibukota dipindah, Jakarta tetap harus bersaing dengan kota-kota lain. Jakarta akan disaingi dengan BSD Serpongnya. Sedangkan Kota Bekasi memiliki kemandirian dan kemampuan infrastruktur yang cukup bagus. Dengan dilintasi LRT dan MRT akan semakin mendorong percepatan pertumbuhan di Kota Bekasi sebagai kota metropolitan,” paparnya.

Yayat menilai, bila Kota Bekasi jadi bergabung dengan Jakarta, Bantar Gebang tidak akan lagi mendapat tiping fee. “Lebih bagus Kota Bekasi mandiri. Kota Bekasi punya kemampuan. Tinggal mengembangkan potensinya. Apalagi kalau nanti sudah ada double track, orang ga akan pusing lagi ke Kota Bekasi. Jadi saat ini lebih bagus Kota Bekasi menjadi kota metropolitan yang mandiri. Tidak perlu lagi menjadi kota penyangga, apalagi kalau sudah jadi bagian dari Jakarta, nanti apa-apa dibuang ke Bekasi,” tandas Yayat.

Lagi-lagi Yayat menguatkan, bahwa sebenarnya lebih bagus Kota Bekasi eksis sebagai kota metropolitan yang mandiri, kemudian dibuat kerjasama yang lebih tegas dengan Jakarta. Misal, pembangunan perumahan di mana di Jakarta rumahnya terbilang mahal, namun akan lebih murah jika dibangunnya di Kota Bekasi. Jadi, warga tinggal naik LRT dan kereta api ke Kota Bekasi.

Yayat pun menilai, jika Kota Bekasi sebagai kontributor pemberi PAD (pendapatan asli daerah) terbesar pindah ke Jakarta, maka Jawa Barat akan kehilangan ‘anak emasnya’ . “Kalau Bekasi gabung dengan Jakarta, nangis Jawa Barat. Apalagi Bogor juga mau buat provinsi lagi. Mereka (Jawa Barat) akan kehilangan. Jadi kenapa harus bergabung dengan Jakarta. Nanti namakan saja Kota Metropolita Bekasi ,lebih mandiri, ekonomis tidak tergantung ke Jakarta.

Mudahkan investasinya, buka lapangan kerja, buat perumahan yang harganya terjangkau. Tinggal dicari orang yang punya militansi yang mau mengembangkan Kota Bekasi. Ajak pengembangnya, jangan terlalu kedepankan hal-hal politis. Nanti ikan gabusnya bisa hilang,” tutup Yayat sambil berseloroh. (jimmy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here