Oleh : Ustadz adjie nung (UAN)

KEBAHAGIAAN yang tak terhingga karena hari pertama tiba di kota Madinah, malam Jumat, saya selaku kepala rombongan jamaah haji KBIH Attaqwa, sebanyak 184 jamaah langsung dibawa untuk diperkenalkan ke wilayah sekitar areal masjid Nabawi dan sekaligus bisa merasakan sholat shubuh berjamaah. Jumat paginya, pukul 7.30 saya membawa seluruh jamaah untuk berziarah mengelilingi sekitar areal Masjid Nabawi, terutama bisa datang menziarahi maqam Rosululloh SAW, Abu Bakar, Umar Bin Khottob, dan Pemakaman Umum Baqi’.

TPU Baqi’ ini tempat dimaqamkannya kholifah Utsman bin Affan dan para istri Rosul yaitu Siti Aisyah, Ummi Salamah, Juwairiyah, Zainab, Hafsah binti Umar bin alkhottob, Mariyah alqibthiyah, serta putra putri Rosul diantaranya Ibrahim, Siti Fatimah, dan Ummu Kulsum, juga maqam Ruqayyah dan Halimatus Sa’diyah; ibu susuan Rosululloh, kecuali istri pertama Rosul yaitu Siti Khodijah dimaqamkan di daerah Ma’la Makkah.

Saya mengajak jamaah ke tempat-tempat bersejarah lainnya diantaranya Masjid Ghomamah, Masjid Ali bin Abi Tholib, Masjid, Abu Bakar, Masjid Umar bin Alkhottob di mana masjid-masjid ini sebagai simbol dan monumen bahwa Rosul selalu menggunakan tanah lapang atau alun-alun setiap sholat hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, juga pada waktu sholat istisqo (sholat minta hujan). Dan Rosul selalu memerintahkan semua kaum muslimin mengikutinya, termasuk para wanita yang sedang haidh. Begitu juga Masjid Utsman bin Affan dan Masjid Bilal yang lokasinya tidak berjauhan di sekitar masjid Nabawi. Tidak ketinggalan saya juga mengajak jamaah ke pasar aneka kurma dan coklat, hanya beberapa meter saja dari masjid Nabawi, karena harga di pasar kurma lebih murah dibanding yang dijual di kebun kurma.
Selesai berziarah dan belanja di pasar kurma, tiba waktunya untuk melaksanakan sholat Jumat karena ini hari Jumat pertama mereka datang dari Makkah dan juga hari Jumat terakhir mereka di penghujung tahun 1440 Hijriyah. Disinilah saya diberondong pertanyaan oleh para jamaah wanita, apakah wanita juga ikut sholat Jumat ya Ustadz?

Saya spontan menjawab, jika tidak ikut sholat jumat nanti sholat arbainnya tidak cukup 40 waktu berjamaah. Selain itu saya juga mengatakan, kaum wanita yang ikut sholat Jumat sebenarnya sudah ada sejak zaman Rasulullah SAW. Imam Hasan al-Bashri mengatakan, di zaman Rosulullah, para sahabiyah dari golongan muhajirin ikut menunaikan sholat Jumat bersama Rasulullah SAW. Mereka mengikuti ritual shalat Jumat sebagaimana kaum lelaki dan tidak perlu lagi melakukan shalat Zhuhur setelahnya.
Tidak ada dalil secara khusus yang melarang kaum wanita untuk ikut menunaikan shalat Jumat. Kaum wanita tidak dibebani kewajiban shalat Jumat. Namun, bagi mereka yang ingin ikut, tidak ada pula nash yang melarangnya. Hal ini berdasarkan hadist Rasulullah SAW, “Shalat Jumat itu fardhu ‘ain (wajib) bagi setiap Muslim, kecuali empat golongan : orang sakit, hamba sahaya, orang musafir, dan wanita.” (HR Bukhari).

Begitu juga Mufti Arab Saudi, Syekh Ibnu Al-Utsaimin dalam Majmu’ Fatawanya pernah ditanya, manakah yang lebih afdhal bagi wanita untuk shalat di rumah atau di Masjidil Haram. Sebagaimana diketahui, fadhilah shalat di Masjidil Haram sangatlah besar, yaitu 100 ribu kali lipat shalat dibanding masjid biasa. Dalil dari hadist tersebut, Syeikh Al-Utsaimin tetap mengatakan, shalat wanita di rumah tetap lebih afdhal dibanding shalat di Masjidil Haram sekalipun.

Mengenai adanya zona khusus wanita yang tersedia di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, menurut Syeikh Al- Utsaimin, sebenarnya bagi wanita musafir yang tengah menjalankan ibadah haji atau umrah. Mereka boleh mengikuti shalat berjamaah dan shalat Jumat karena memang tidak ada dalil yang mengharamkannya. Akan tetapi, lebih disukai bagi mereka untuk menunaikan shalat di rumah saja.

Imam al-Nawawi dalam al-Majmu’ Syahr al- Muhadzdzab mengatakan, kaum wanita yang difasilitasi menunaikan shalat Jumat dan mereka ikut menunaikannya maka shalat mereka pun sah sebagaimana shalat kaum lelaki. Mereka tidak perlu pula mengulang shalat Zhuhur. Pendapat ini dipakai seluruh mazhab dan mayoritas para ulama. Lajnah Daimah (Komisi Fatwa) Arab Saudi juga pernah mengeluarkan fatwa senada.

Ulama Mesir Syekh Musthafa al-Adawi juga menegaskan kebolehan sholat Jumat bagi kaum wanita. Ia mengatakan, jika ada wanita yang turut melaksanakan shalat Jumat bersama kaum laki-laki maka yang demikian sudah mencukupi (kewajiban shalat Zhuhurnya). Sehingga, tidak perlu lagi mereka melaksanakan shalat Zhuhur.
Hal serupa juga diputuskan dalam forum Muktamar ke-3 NU yang diselenggarakan di Surabaya, Jawa Timur, pada 28 September 1928. Para muktamirin saat itu menyampaikan “shalat Jumat bagi kaum wanita itu cukup sebagai pengganti shalat zhuhur, dan bagi kaum wanita tidak cantik, tidak banyak aksi, dan tidak bersolek itu sebaiknya ikut menghadiri shalat Jumat.”

Ditegaskan pula dalam keputusan ini : “Diperkenankan bagi mereka yang tidak berkewajiban Jum’at seperti budak, musafir, dan wanita untuk melaksanakan shalat Jum’at sebagai pengganti Zhuhur, bahkan shalat Jum’at lebih baik, karena merupakan kewajiban bagi mereka yang sudah sempurna memenuhi syarat dan tidak boleh diulangi dengan shalat Zhuhur sesudahnya, sebab semua syarat-syaratnya sudah terpenuhi secara sempurna.” (Abdurrahman Ba’alawi, Bughyah al-Mustarsyidin).
Akhirnya para jamaah wanita setelah mendengar jawaban saya, berlomba-lomba segera untuk melakukan sholat jumat ke Masjid Nabawi yang pahalanya diberikan 1000 kali lipat dengan diawali mandi sunat Jumat, mengingat di negara kita tidak terbiasa wanita mengikuti sholat Jumat bersama dengan laki-laki. Bahkan bukan hanya sholat jumat saja yang mereka lakukan, mereka juga berburu pahala sholat lima waktu berjamaah di Masjid Nabawi agar bisa genap mendapatkan 40 kali waktu berjamaah. (***)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here