Chairoman Ketua Dewan, PKS Mau Kemana?

Oleh Zulkarnain Alfisyahrin

0
224
Zulkarnain Alregar (KOBEK)

Teka-teki itu terjawab sudah. Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Bekasi sebagai pemenang Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019 sudah memutuskan untuk menempatkan kader terbaiknya, Chairoman J Putro sebagai Ketua DPRD Kota Bekasi.

Sebelumnya, santer terdengar, lobi-lobi politik dan upaya negosiasi sudah dilakukan berbagai pihak. Tujuannya, tak lain untuk ‘mengganjal’ Chairoman lolos sebagai ketua dewan. Namun, tak bisa juga dipastikan, apakah upaya itu berhasil dengan sejumlah syarat atau memang ada sikap kompromistis dan deal-deal lain dari PKS. Entahlah. Yang pasti, DPD PKS Kota Bekasi sudah memberikan kepercayaan bagi Chairoman untuk menduduki posisi puncak di lembaga legislatif tersebut.

Keputusan Chairoman jadi ketua dewan, tentu bukan tanpa alasan bagi DPD PKS Kota Bekasi, Jawa Barat, maupun DPP (pusat). Selain sudah memiliki jam terbang tiga kali berturut-turut jadi anggota DPRD Kota Bekasi, Chairoman merupakan satu-satunya wakil rakyat yang cukup kritis terhadap kebijakan-kebijakan eksekutif, tak hanya di lingkup PKS, tetapi juga di antara 50 wakil rakyat lainnya.

Selebihnya, saya melihat hanya jadi ‘folllower’ dan lebih memilih duduk manis selama lima tahun terdahulu. Untung saja sempat ada kasus penggusuran yang jadi ‘panggung’ para politisi PDI Perjuangan. Jika tidak, saya malah mau mengatakan, 49 anggota dewan lainnya itu ‘tidur’ dan sama sekali tak pernah mau berkontribusi untuk rakyat yang sudah memilihnya. Lagi-lagi, kecuali Chairoman.

Itulah sebabnya, Chairoman merupakan politisi yang tidak hanya disegani, tetapi juga paling ditakuti oleh kawan, apalagi lawan politiknya. Dan kursi ketua dewan memang pantas dia pegang untuk lima tahun ke depan. Setidaknya, akan membuat lawan politik berpikir ulang untuk melakukan sesuatu, atau mengambil keputusan serta kebijakan apapun, terutama kalangan eksekutif yang dalam hal ini semua pihak terkait di jajaran Pemerintah Kota Bekasi di bawah kepemimpinan duet Rahmat Effendi (Partai Golkar) dan Tri Adhianto (PDI-Perjuangan).

Saya menilai, di satu sisi posisi Chairoman bisa jadi ancaman bagi Rahmat Effendi. Apalagi, hingga detik-detik terakhir sebagai wakil rakyat, Chairoman kian gencar dan tak gentar menyoroti soal defisitnya anggaran Pemkot Bekasi dan kebijakan Kartu Sehat (KS) yang dianggap salah sasaran. Tapi, bukan namanya pula Rahmat Effendi jika tak mampu ‘melumpuhkan’ semua serangan lawan.

Jam terbangnya sebagai wakil rakyat dan ketua dewan, kemudian menjadi wakil walikota dan kini sudah dua periode sebagai walikota, setidaknya sudah menempa Rahmat Effendi secara otodidak sebagai politisi ulung. Dia sangat paham apa yang disukai maupun tak disukai lawan. Bisa jadi, baginya Chairoman dan politisi PKS lainnya hanya batu sandungan kecil yang dipandang sebelah mata saja.

Itu jika Chairoman sebagai ancaman. Tetapi, bukan tak mungkin pula, posisi Chairoman sebagai ketua dewan, justru sudah bukan lagi sebagai ancaman, malah sudah menjadi mitra. Lagi-lagi, itu karena Rahmat Effendi adalah politisi ulung yang sangat paham akan selera lawan. Pun, ini persoalan politik bung, apa saja bisa berubah dalam hitungan detik, demi yang namanya kepentingan.

Bisa jadi, Rahmat Effendi sudah membangun komunikasi politik dengan PKS sejak jauh hari. Arahnya sudah jelas, Pilkada 2023 Kota Bekasi. “Chairoman Yess sebagai ketua dewan, syaratnya; Koalisi PKS-Golkar di Pilkada 2023”. Artinya, posisi Walikota Bekasi kelak bakal diserahkan ke PKS, tetapi wakilnya harus dari kader Golkar. Bagaimana pun, Golkar tak ingin kehilangan muka di Kota Bekasi karena memang tak ada lagi figur sekaliber Rahmat Effendi untuk dijagokan. Apalagi dengan delapan kursi yang didominasi muka baru di dewan, Rahmat Effendi sadar betul akan kekuatannya.

Sebagai politisi ulung yang sudah kenyang makan asam garam di percaturan politik, saya pun yakin betul Rahmat Effendi selaku pucuk pimpinan Partai Golkar di Kota Bekasi tak akan melirik PDI Perjuangan di Pilkada 2023 yang kini dinakhodai wakilnya, Tri Adhianto. Jangankan untuk masyarakat Kota Bekasi, di sesama kader PDI Perjuangan saja saya tak begitu yakin Tri sudah diterima dengan sepenuh hati. Sepak terjang Tri di pentas politik juga masih sebatas kuku jari. Tentunya, ini bisa jadi salah satu alasan Rahmat Effendi untuk tidak meliriknya di Pilkada 2023.

Betul, jika sebelumnya ada prediksi yang menyebutkan bahwa Tri sengaja dikader Rahmat Effendi untuk menggantikannya. Betul, ada prediksi Pilkada 2023 nanti Tri akan dipasangkan dengan kader muda Golkar. Tapi, itu saat bulan madu ‘Rahmat Effendi-Tri Adhianto’ berlangsung.

Peta politik sekarang begitu cepat berubah, seiring kepindahan Tri ke PDI Perjuangan. Pun kian berubah cepat karena PKS berhasil merebut kursi ketua dewan sekaligus pemenang pileg. Terakhir, karena ada sosok hebat di belakang layar PKS yang kehadirannya kini sangat ditunggu-tunggu, tidak hanya warga PKS, tetapi juga warga Kota Bekasi secara keseluruhan. Siapa lagi jika bukan Ustad Akhmad Syaikhu, sosok sederhana yang pernah jadi wakil Rahmat Effendi.

Sosok ini tentunya yang menjadi hitung-hitungan kuat dari insting politik Rahmat Effendi. Jika Syaikhu kembali ke Kota Bekasi, siapa pun tokoh yang dimajukan di Pilkada 2023 Kota Bekasi, bakal lewat ! Tak terkecuali Tri Adhianto sendiri.

Tapi, kunci itu kini ada di tangan Chairoman. Mau jadi lawan, atau kawan? Walau bagi saya, sebenarnya, jadi kawan atau lawan, toh bagi PKS sama saja. Karena target akhir sudah terlihat, menuju Pilkada 2023 dengan membawa pulang Syaikhu. Iya kan? (Zukarnain Alfisyahrin adalah wartawan senior yang juga Dosen Institut Bisnis Muhammadiyah Bekasi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here