Terapkan Urban Farming, Tri Adhianto: Kota Bekasi Akan Menjadi Green City dimasa Depan

Read Time1 Minute, 47 Seconds

Pertumbuhan di Kota Bekasi kini melaju begitu pesat. Kota Bekasi saat ini tumbuh menjadi kota metropolitan ketiga di Indonesia. Hal ini menjadi magnet bagi masyarakat dari berbagai penjuru datang ke Kota Patriot ini.

Kondisi ini membuat kebutuhan lahan untuk tempat tinggal semakin pesat. Tak hanya itu, lahan untuk pertanian juga mulai tergerus. Meski dunia pertanian telah banyak ditinggalkan oleh generasi milenial, tetapi keberadaannya masih sangat dibutuhkan untuk memasok kebutuhan pangan masyarakat.

Atas dasar inilah Wakil Walikota Bekasi Tri Adhianto terus berupaya menjawab tantangan untuk terus memajukan Kota Bekasi kedepan.

Salah satu inovasi yang digagas Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan ini adalah dengan mengembangankan pertanian perkotaan, atau lebih dikenal dengan sebutan urban farming.

“Saya memiliki impian, Kota Bekasi akan menjadi green city di masa depan. Hidroponik dan urban farming menjadi solusi nyata dari makin menyempitnya ruang hijau saat ini.Mimpi akan terus menjadi mimpi jika tidak dimulai dari sebuah langkah kecil,” kata pria yang akrab disapa Mas Tri ini saat menghadiri launching urban farming di Hotel Horison, Kamis (19/9).

Setelah sebelumnya sukses menggelar panen raya kampung hidroponik yang ada di seluruh kelurahan di Kota Bekasi. Tri mengajak masyarakat untuk mencoba urban farming.

“Semoga menjadi pioner bagi seluruh stakeholder di Kota Bekasi untuk turut serta ambil bagian dalam proses membangun Kota Bekasi, kota yang ramah lingkungan,” tuturnya.

Tri mengatakan urban farming juga dapat menjawab persoalan rendahnya kepemilikan lahan pertanian di masyarakat. Produksi bahan pangan melalui usaha tani, lanjut Tri cukup memanfaatkan lahan pekarangan yang ada, serta barang bekas yang tidak terpakai.

Keberadaan urban farming ini katanya, selain sebagai ruang untuk menjaga ketahanan pangan, menurutnya juga sekaligus sebagai ruang hijau di lingkugan rumah agar lingkungannya tetap lestari dan menyegarkan.

Urban farming sendiri merupakan konsep memindahkan pertanian konvensional ke pertanian perkotaan, yang berbeda ada pada pelaku dan media tanamnya. Pertanian konvensional lebih berorientasi pada hasil produksi, sedangkan urban farming lebih pada karakter pelakunya yakni masyarakat urban.

Urban farming lebih banyak melakukan budidaya tanaman yang bersifat produk volatile, yaitu produk pertanian yang mempunyai nilai harga jual fluktuatif, yang artinya harga tertinggi dan terendah dari produk itu sangat tidak stabil, seperti produk sayuran daun, buah tomat, dan cabe, serta bawang merah. (JIM)

0 0
0 %
Happy
0 %
Sad
0 %
Excited
0 %
Angry
0 %
Surprise

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close