Perlu Ditingkatkan Kesadaran Pentingnya Terapi Depresi dan Kesehatan Mental

Read Time4 Minutes, 21 Seconds

RSJ Dharmawangsa, PDSKJI dan PT Mersifarma mengajak masyarakat meningkatkan pengetahuan dan kesadaran mengenai betapa pentingnya terapi depresi atau kesehatan mental dan pencegahan bunuh diri, sekaligus peluncuran DULOXTA® sebagai pilihan tepat bagi dokter dalam penanganan pada terapi depresi, cemas dan nyeri kronik.

Menurut World Health Organization (WHO,2017) depresi adalah salah satu gangguan mental yang terjadi di seluruh dunia dengan lebih dari 300 juta orang dari segala usia menderita depresi dan meningkat 18% antara 2005 hingga 2015.

Dalam DSM–5 (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders) tahapan atau tingkatan tindakan depresi beberapa di antaranya jika terlihat penurunan mood/suasana hati sepanjang hari selama 2 minggu, penurunan minat pada aktifitas, rasa salah yang berlebih, kelelahan/kehilangan energi, insomnia/hypersomnia, penurunan kemampuan berfikir, sulit berkonsentrasi
bahkan sampai memiliki keinginanmengakhiri hidup.

Beberapa tahun belakangan ini, banyak pihak yang mulai menyadari bahwa kesehatan mental emosional sangat penting untuk ditanggulangi secara medis, mengingat Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 prevalensinya sudah mencapai 9,8% dari penduduk Indonesia.

Salah satu gangguan kesehatan mental emosional yang sering kita dengar, atau kita temui langsung di lingkungan pertemanan atau bahkan sekitar keluarga kita, yaitu Depresi dan Ansietas. Pada kenyataannya di Indonesia, prevalensi diagnosis Depresi sebesar 6,1% dan sebanyak 91% nyaris tidak
diobati, karena berbagai macam alasan. Tentunya gangguan depresi yang tidak ditangani dapat menyebabkan bunuh diri.

Hampir 800.000 orang di seluruh dunia meninggal karena bunuh diri setiap tahun.
WHO sendiri memberikan pernyataan bahwa gangguan depresi berada pada urutan keempat penyakit di dunia. Prevalensi gangguan depresi pada populasi dunia adalah 3-8% dengan 50% kasus terjadi pada usia produktif yaitu 20-50 tahun.

Bunuh diri juga merupakan penyebab utama urutan kedua pada ancaman kematian pada remaja hingga dewasa (usia 15-29 tahun)
Sehingga penanggulangan masalah Depresi dan kesehatan mental menjadi fokus utama baik dari PDSKJI, Mersifarma maupun RSJ Dharmawangsa dalam memberikan dan menyampaikan pesan kepada masyarakan untuk lebih menyadari bagaimana pentingnya mengatasi atau mengobati gangguan kesehatan mental .

Tentunya kesadaran akan informasi ataupun adanya gangguan kesehatan mental ini, bukan hanya menjadi tanggung jawab dokter , pihak rumah sakit, ataupun institusi kesehatan, namun juga diharapkan peran aktif masyarakat, LSM maupun organisasi yang peduli terhadap kesehatan mental masyarakat Indonesia .

Beberapa LSM yang yang berperan aktif dan terjun langsung ke masyarakat di antaranya adalah Kopi Panas Foundation, yang beberapa waktu lalu berkolaborasi pada Hari Kesehatan Jiwa Sedunia yang diselenggarakan di Gedung Sate Provinsi Jawa Barat tanggal 1 November 2019 lalu bersama Kemenkes, Organisasi Profesi PDSKJI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia), Arsawakoi
(Asosiasi Rumah Sakit Jiwa & Ketergantungan Obat Indonesia) dan didukung oleh beberapa pihak lainnya.

RISIKO DEPRESI
Depresi yang tidak tertangani dengan baik dapat mengarah ke recurrent atau depresi berulang, sehingga depresi berat yang menyebabkan berakhir suicide. Direktur Rumah Sakit Sanatorium Dharmawangsa,
dr.Richard Budiman, Sp.KJ(K) menyatakan Ansietas murni dan korelasinya dengan depresi dapat diatasi salah satunya dengan antidepresan yang lebih optimal .

Selain itu, penyakit kronis atau penyakit yang sulit disembuhkan sering disertai juga rasa nyeri tak tertahankan dan korelasinya erat dengan depresi dan ansietas. Sehingga untuk menangani ketiga masalah terkait depresi, ansietas dan nyeri dibutuhkan obat yang lebih efektif , yaitu obat antidepresan Duloxetine.

Dr.dr.Diah Setia Utami, Sp.KJ(K), MARS, Ketua PDSKJI periode 2019-2022 menyatakan bahwa depresi dapat diatasi dengan baik jika pengobatannya tepat. Terkait dengan pengalaman empiris mengenai depresi paska putus zat juga merupakan kriteria dari jenis depresi yang dapat diobati dengan antidepresan, terutama depresi yang berkaitan dengan nyeri paska putus zat (Protacted Withdrawal).

Disampaikan pula oleh Ketua Umum PDSKJI, peran keluarga dan masyarakat dalam kepatuhan pengobatan pada depresi
mempunyai kontribusi besar dalam meningkatkan kualitas hidup penderita depresi.

Menurut dr.Andri, Sp.KJ, FCLP (ahli psikosomatik) praktisi dan dokter di RS Omni Hospital BSD yang juga aktif sebagai Youtuber content kesehatan, masalah depresi dapat mengarah ke tindakan suicide. Jika terjadi demikian maka depresi tersebut lebih didominasi pada gejala sisa, gejala fisik atau nyeri dan ini seringkali tidak berhasil ditapiskan (screening) oleh dokter layanan primer atau dokter spesialis
sekalipun sebelumnya. Seringkali pada tahapan pengobatan lebih diutamakan atau hanya fokus pada penuntasan gejala fisik, tapi gejala depresinya justru tidak ditangani dengan baik.

Bahkan menurut data WHO 65% individu yang mengalami depresi dapat mengalami recurrent episode. Dimana golongan SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitor) sekalipun tidak mampu memperbaiki ketidaktuntasan pengobatan yang telah dilakukan.

Mersifarma selaku perusahaan yang memang fokus pada produk kesehatan mental, Central Nerves System , internal medicine, saat ini telah menyediakan obat golongan antidepresan Duloxetine, yaitu DULOXTA® yang menjadi salah satu obat yang direkomendasikan oleh para dokter dan ahli terapis.

DULOXTA®(Duloxetine)
Untuk menunjang keberhasilan terapi depresi berat dan cemas berlebihan, perlu diberikan obat – obatan antidepresan. Golongan antidepresan SNRI (Selektif Serotonin Norephinefrine Reuptake Inhibitor) seperti Duloxetine diperlukan karena memiliki hasil kerja yang lebih baik dibanding antidepresan golongan SSRI
(Selektif Serotonin Reuptake Inhibitor) dan dapat mengobati depresi lebih efektif pada tahap pertama atau depresi berulang serta pada kaitannya dengan PPS (Painful Physical Symptom). Duloxetine bekerja cepat, mengatasi depresi, ansietas dan DPNP (Diabetic Peripheral Neurophatic Pain) atau korelasinya dengan nyeri kronik.

Mengapa Duloxetine lebih efektif jika dibanding antidepresan lainnya, karena mekanisme kerja Duloxetine yang bekerja “Double Action” yaitu:

a. Bekerja di Serotonin dapat memperbaiki mood dan korelasinya pada nyeri

b. Bekerja di Norephinefrine dapat meningkatkan energi dan konsentrasi pada pasien depresi.

Dengan teknologi formulasi delayed released capsule, pasien dimudahkan dalam masa pengobatan dengan meminum obat sekali sehari dosis 60mg sehingga dapat menjaga kestabilan mood dan memperbaiki cemas dan depresi atau korelasinya dengan nyeri. ****

1 0
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close