Ahmad Dahlan, Soeratin, Djamiat dan Anjik, Mereka Muhammadiyah?

by -280 views
M Nigara (PSSI)
Read Time3 Minute, 21 Second

Masih belum yakin bahwa Muhammadiyah dan sepakbola pada umumnya, PSSI pada khususnya, seiring-sejalan? Masih tetap ingin menyebut itu mengada-ada? Saya tentu tidak dapat memaksa anda sekalian percaya begitu saja. Tapi, saya juga tidak ingin disebut mengada-ada. Bagi saya KH. Ahmad Dahlan, Bapak dan Soko guru Muhammadiyah serta pahlawan bagi bangsa Indonesia itu, jelas dan tegas adalah inspirator untuk berdiri dan berkembangnya olahraga sepakraga (sepakbola).

Dari banyak sumber yang saya peroleh, satu diantaranya Mas M Sukriyanto AR, semakin memantabkan keyakinan saya. Sekali lagi, saya tidak ingin memaksa anda sekalian, tapi saya hanya ingin berbagi saja.

Setelah selesai nyantri dari KH Shaleh Darat, ulama besar di Semarang, Ahmad Dahlan (AD) dan sahabat sekamarnya Hasyim Ashari yang usianya dua tahun lebih muda, menyebarkan ilmunya. Tapi, ada yang unik saat AD mulai membangun pendidikan jauh sebelum Muhammadiyah dideklarasikan 1912. Tanah-tanah yang berasal dari sumbangan masyarakat itu, di atasnya tidak hanya berdiri gedung pendidikan, tapi selalu saja ada lapangan untuk berolahraga.

Bagi AD, kesehatan fisik sangat penting untuk memperkuat jiwa. Mungkin seperti semboyan yang kita kenal mensana in corpore sano (di dalam badan yang sehat terdapat jiwa yang kuat).
Saat itu permainan sepakbola belum dikenal di nusantara. Belanda baru membawanya masuk bersama lima cabor lainnya: Berkuda, Renang, Senam, Tenis Lapangan, dan Bola Keranjang, tahun 1906. Tapi, tunggu dulu, ada olahraga yang masih serumpun, Sepak Takraw. Intinya, setiap santri setiap hari selalu berolahraga.

Ada sebuat catatan yang menuliskan ucapan AD: “Djadilah pemain sepakraga, dan kembalilah ke Moehammadijah.” Meski tidak secara langsung, AD merestui saat berdirinya Perkumpulan (klub) Sepakraga Hisbul Wathan (HW). Hebatnya lagi, HW tidak hanya di satu tempat, tapi klub-klub HW berdiri di hampir seluruh tanah air. Dan itu menjadi satu-satunya organisasi selain PSSI.
Itu terkait KH Ahmad Dahlan di sepakbola. Masih ada tiga tokoh yang tak terpisahkan dengan sepakraga, sepakbola, dan PSSI. Ya, mereka adalah: Ir Soeratin Soesrosoegondo, Djamiat Dahlar, Andjiek (Anjik) Alinurdin. Saya kira, kita semua bukan hanya tahu, tapi bagi mereka yang lahir di bawah 1965, sangat mengenal mereka dengan baik.

Ir Soeratin Soesrosoegondo. Dia adalah anak muda yang nekad meninggalkan zona nyaman dalam hidup. Pemuda yang konon bergaji sangat besar di perusahaan kereta api Belanda itu, terpanggil untuk ikut memerdekakan bangsa dari tangan penjajah.

Sepakraga yang diizikan Belanda untuk dimainkan para inlander , dijadikan jalannya. Sebelum PSSI dideklarasikan 19 April 1930, Soeratin sudah mengawali kegiatan setahun setelah Sumpah Pemuda 1928, dikumandangkan oleh Boedi Oetomo yang tak lain adalah kakak iparnya. Jiwa Muhammadiyah yang ada di dalam dirinya dipercaya yang ikut membuat Soeratin berani mengambil keputusan itu.

Djamiat Dahlar. Bagi mereka yang sudah berusia di atas 50 tahun dan gemar sepakbola, khususnya tim nasional, harusnya tahu siapa Djamiat. Lahir di Yogyakarta, 25 November 1927. Djamiat meninggal di Jakarta, 23 Maret 1979 di usia 51 tahun. Selain dikenal sebagai mantan pemain sepak bola nasional, ia juga pelatih timnas Indonesia.

Ayah dan ibunya bekerja sebagai guru di sekolah Muhammadiyah. Selain itu, ayahnya juga pemain klub HW, termasuk andalan di kota kelahirannya. Djamiat mulai bermain sepak bola ketika kanak-kanak, di alun-alun sekitar masjid Agung Yogyakarta. Setelah melalui masa kanak-kanaknya, bermain dengan kaki ayam, ia bergabung dengan klub HW Yogya. Seperti sang ayah, Djamiat pun bermain di klub yang sama sebagai kiri dalam. Posisi itu pula yang kemudian ditempati Djamiat, termasuk ketika memperkuat PSSI.

Anjik Alinurdin. Selain Djamiat, HW Yogya juga melahirkan pemain nasional Anjik Alinurdin. Meski saat dipanggil ke timnas 1960-63, Anjik sudah hijrah ke Surabaya dan bermain untuk Persebaya. Sutjipto Suntoro (Gareng), Jacob Sihasale, Sinyo Aliando, M. Basri, Anjik, dan lain-lain menjadi tulang punggung timnas. Hampir semua turnamen Asia dan ASEAN, dirajai timnas kita.

Bahkan timnas kita pernah berturut-turut menjadi juara Merdeka Games, 1960, 61, dan 63.
Melihat fakta itu, masihkah anda belum yakin bahwa Muhammadiyah dan Sepakbola (PSSI) sangat lekat? Masihkan anda berpendapat diakuisisinya Persigo Semeru FC oleh Hisbul Wathan mengada-ada? Sekali lagi, saya tidak ingin memaksa. Saya hanya ingin mengatakan bahwa saat ini Muhammadiyah telah kembali ke rumahnya.

“Djadilah pemain sepakraga, dan kembalilah ke Moehammadijah.”

M Nigara (Wartawan Sepakbola Senior)

0 0
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *