Masih Ada Harapan dan Kenyataan Ekonomi Indonesia di Tengah Pandemi Covid-19

by -69 views
Read Time5 Minute, 25 Second


Oleh Dr Rinovian Rais MM
Dosen Institut Bisnis Muhammadiyah/IBM Bekasi

Saat ini seluruh masyarakat dunia sedang ditakuti dengan perkembangan dan penyebaran virus Covid-19 yang begitu cepat menyebar ke berbagai negara di dunia. Tidak bisa dipungkiri sampai sekarang jumlah angka yang meninggal akibat Covid-19 semakin bertambah, begitu juga halnya dengan jumlah yang positif Covid-19 di wilayah Indonesia yang sudah melaporkan kasus konfirmasi (sumber data infeksiemerging.kemkes.go.id tanggal 19 Juni 2020). Sejak 31 Desember 2019 sampai 19 Juni 2020 pukul 09.00 WIB terdapat 34 Propinsi terjangkit, 358.659 orang yang diperiksa dengan hasil pemeriksaan yaitu 315.897 orang negatif, 42.762 kasus konfirmasi positif COVID-19, jumlah 16.798 sembuh, dan 2.339 meninggal (CFR 5,5%).

Situasi Global
Pandemi Covid-19 yang meluas ke seluruh dunia. Total kasus konfirmasi Covid-19 global per tanggal 19 Juni 2020 adalah 8.449.983 kasus dengan 452.465 kematian (CFR 5,8%) di 215 Negara Terjangkit. Daftar negara terjangkit Covid-19 dapat bertambah setiap harinya mengikuti perkembangan data dan informasi yang didapatkan di Situation Report WHO. Pandemi Covid-19 yang mempengaruhi perekonomian global, termasuk Indonesia. diperkirakan berkontraksi, sementara pertumbuhan ekonomi domestik diproyeksi melambat. Menghadapi perkembangan tersebut, Bank Indonesia (BI) menempuh respons bauran kebijakan untuk memitigasi risiko dampak covid-19 terhadap perekonomian, serta bersinergi dengan pemerintah dan otoritas terkait dalam mempercepat pemulihan ekonomi nasional. Dalam intisari Laporan Kebijakan Moneter triwulan I-2020 yang diterbitkan Bank Indonesia, pertumbuhan ekonomi Indonesia diprakirakan meningkat di masa mendatang setelah semua perekonomian mulai dibuka kembali. Kondisi itu didorong perbaikan ekonomi dunia dan dampak positif stimulus kebijakan yang ditempuh. Dalam laporan tersebut disampaikan, pada triwulan I tahun ini pertumbuhan ekonomi di banyak negara memang mengalami penurunan tajam sejalan dengan meluasnya pandemi. Pertumbuhan ekonomi seperti di Tiongkok, Eropa, Jepang, Singapura, dan Filipina pun mengalami kontraksi.

Sementara pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) turun dalam menjadi 0,3 persen. Risiko resesi ekonomi global pada April 2020 tetap besar tercemin pada kontraksi berbagai indikator seperti kinerja sektor manufaktur dan jasa serta keyakinan konsumen dan bisnis. Pandemi covid-19 juga memengaruhi pertumbuhan ekonomi domestik. Ekonomi Indonesia triwulan I tumbuh 2,97 persen (yoy), melambat dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 4,97 persen (yoy) (Laporan BI, 30/5/20).
Penurunan ini terutama berasal dari melambatnya ekspor jasa, khususnya pariwisata, konsumsi non makanan, dan investasi dengan sektor yang paling terdampak terjadi di sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran (PHR), sektor industri pengolahan, sektor konstruksi dan subsektor transportasi. Ketahanan sektor eksternal ekonomi Indonesia tetap baik. Hal itu tercermin dari defisit transaksi berjalan triwulan I yang menurun menjadi 1,4 persen Produk Domestik Bruto (PDB) dari 2,8 persen PDB pada triwulan IV-2019 dan cadangan devisa yang tetap besar. Nilai tukar rupiah, kembali menguat April 2020 seiring meredanya ketidakpastian pasar keuangan global dan terjaganya kepercayaan terhadap perekonomian Indonesia. Inflasi tetap rendah dan mendukung stabilitas perekonomian. Selain itu, kondisi likuiditas perbankan tetap memadai dan mendukung berlanjutnya penurunan suku bunga. Stabilitas sistem keuangan tetap terjaga, kendati potensi risiko meluasnya penyebaran pandemi covid-19 perlu terus diantisipasi. Adapun BI menempuh berbagai respons kebijakan guna memitigasi risiko dampak covid-19 terhadap perekonomian. Bank Indonesia terus memperkuat seluruh instrumen bauran kebijakan untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi, mendukung stabilitas sistem keuangan, dan pada saat yang sama mencegah penurunan kegiatan ekonomi lebih lanjut dengan berkoordinasi erat dengan Pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan, Lembaga Penjamin Simpanan dan otoritas yang terkait lainnya.

Harapan dan Kenyataan Perekonomian Indonesia di Masa Pandemi

Dengan mulainya penerapan sistem pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang ditetapkan oleh pemerintah, keadaan ekonomi Indonesia semakin lama semakin menurun. Bisa kita liat dimana sekarang harga 1 dolar AS sudah mencapai angka Rp16 ribu, yang dimana angka ini merupakan angka terburuk sejak 20 tahun yang lalu, bahkan di saat terjadi krisis moneter di tahun 1999, 1 dolar AS bahkan tidak mencapai Rp16 ribu, tidak begitu buruk, yang artinya bahwa dengan dampak PSBB sangat terasa bagi keadaan ekonomi bangsa dan tentunya ekonomi masyarakat hingga melewati krisis moneter 1999. Dengan adanya lock down dan anjuran agar tetap tinggal di rumah, masyarakat jadi tidak bisa mencari penghasilan terlebih bagi masyarakat yang kerjanya dibayar harian, pastinya mereka akan sangat kena dampaknya.
Pemerintah saat ini sudah melakukan PSBB dan mulai 4 Juni 2020 DKI Jakarta memperpanjang PSBB Transisi hingga waktu yang belum ditentukan, social distancing, dimana semua kebijakan ini dibuat untuk meminimalir penyebaran virus mematikan ini. Tentunya kebijakan ini sudah dipikirkan terlebih dahulu, dan kebijakan ini juga diterapkan negara lain. Tentunya kebijakan ini membawa dampak positif dan juga dampak negatif, terlebih ke dampak perekonomian bangsa. Tentunya sebagai bangsa yang besar, kita tidak menginginkan hal ini terjadi. Dengan terjadinya hal buruk di bidang ekonomi ini, kita tidak semena-mena langsung menyalahkan pemerintah, tentunya pemerintah sudah berjuang keras untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara. Bukan hanya Indonesia aja yang terkena dampak di bidang ekonomi, tetapi juga negara lain.
Dari analisis dampak Covid-19, dimana jelas bahwa merabaknya Covid-19 ini membawa pengaruh terhadap ekonomi indonesia. Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama dalam memberantas Covid-19 dengan tetap stay at home, menjaga kebersihan diri agar bisa mengurangi tingkat penyebarannya, apalagi penyebarannya sangat mudah. Banyak harapan masyarakat dalam menghadapi pandemi covid-19 seperti ini akan berdampak pada perubahan pola hubungan antara manusia dan alam, negara dan rakyat, serta sains dan agama. Tetapi sejujurnya, jangan terlalu menggantungkan angan-angan terlalu tinggi. Masyarakat akan kembali pada jati dirinya, dan hidup kita akan kembali berjalan sebagaimana biasanya. Perubahan akan jelas terasa pada peta demografi, rasanya terlalu berani mengharapkan perubahan sikap mendasar. Kaget setelah pandemi akan berlalu begitu saja, sejarah akan mencatat wabah ini di buku-buku, sebagaimana juga peristiwa-peristiwa pahit lainnya yang telah menghantam umat manusia berkali-kali. Tentu dengan menggelembungnya angka kematian, komposisi penduduk bumi tidak lagi sama. Namun, percayalah kesedihan dan duka akan sementara. Manusia akan kembali seperti semula, karena musibah juga sudah banyak menimpa kita semua. Setelah pandemi Covid-19 ini berlalu, sebagian dari kita akan sibuk mencari kerja baru, karena banyaknya PHK. Para pemodal akan memperhitungkankan kembali putaran uang.
Kios atau pasar akan buka kembali. Pasar akan ramai lagi mulai 15 Juni 2020. Sekolah akan segera menghadirkan para siswa di kelas pada 13 Juli 2020 tapi hanya untuk tingkat smp dan sma itupun kalau daerah tersebut hijau sedangkan untuk anak SD dan TK dua bulan kemudian. Para seniman akan kembali pentas. Mall akan dibatasi pengunjung dan tetap melalui protokol kesehatan. Gedung sinema akan ramai lagi. Pengajian umum akan banyak lagi. maka kenyataan ekonomi akan naik kembali. maka masih ada harapan dan tantangan perekonomian indonesia akan kembali tumbuh.***

0 0
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *