Menelusuri Limbah Sampah Medis yang Dibuang Rumah Sakit

by -82 views
3 0
Read Time3 Minute, 20 Second

PANDEMI Covid-19 yang terjadi saat ini membuat volume limbah medis terus meningkat. Tak hanya di Indonesia, tetapi hampir di seluruh negara di dunia. Hal ini menjadi masalah tersendiri, karena limbah medis yang dibuang begitu saja dapat membawa dampak bagi kesehatan. Limbah medis yang sebelumnya diduga terkait dengan penanganan wabah Covid-19 seperti masker, sarung tangan, selang infus, dan tisu  ditemukan tercecer di tempat pembuangan sampah. Berikut penelusuran mahasiswa Unisma Bekasi Citra Destya Damayanty, Wedowati Dessya Soci, dan Sama Dwi Riyani  ke sejumlah rumah sakit.

Menurut salah satu warga, Riska Setiani, ia juga merasa khawatir bila sampah medis tercecer di mana saja. Seharusnya, sebelum masuk ke tempat pembuangan sampah akhir, pihak rumah sakit sudah memilah mana saja golongan sampah yang berbahaya, dan bisa menular kepada orang lain.

“Saya sebagai masyarakat merasakan kekhawatiran apabila ada sampah masker, tisu di tempat pembuangan sampah yang tidak dirobek, karena pasti dari pihak kebersihan atau siapapun tidak tahu kalau masker tersebut bisa saja bekas pasien yang pernah terjangkit Covid-19,” ujar Riska.

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 7 Tahun 2019, semua limbah medis adalah limbah yang berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan. Limbah medis dari kegiatan rumah tangga maupun fasilitas kesehatan memiliki risiko tinggi di masa pandemi. Sebab, pengolahan sampah adalah dari pengumpulan, transportasi, hingga ke nantinya tempat pembuangan akhir. Di Indonesia, sampah medis hingga kini bercampur dengan sampah domestik lainnya.

Pengolahan limbah medis dari rumah sakit dan fasilitas kesehatan ada beberapa yang sudah memperbaiki aturan tersebut. Menurut Syafni Elwin yang bekerja di RSUD Tanah Abang, ada beberapa tahapan dalam alur proses pengelolaan limbah medis.

“Nantinya dikeluarkan oleh Cleaning Service memakai APD lengkap, APD level 3. Nanti tuh biasanya ditaruh satu spot pintu keluar. Kita ada pintu keluar lewat belakang gitu deket sama TPS. Jadi nanti disemprot dulu disinfektan sama di double 2, jadi dari Covid-19 itu sampahnya harus diplastikin double 2 setelah itu disemprot baru nanti dari luar ngambil, ambilnya juga pake APD. Jadi abis itu baru di taruh di TPS,” jelasnya letika diwawancarai.

Seharusnya, penanganan limbah medis sejumlah rumah sakit ditangani secara khusus menggunakan jasa pihak ketiga, namun masih ada beberapa rumah sakit yang masih membuang sampah medis bercampur dengan sampah non medis lainnya.

Kendati demikian, rumah sakit tempat Syafni Elwin bekerja, sudah menerapkan untuk membuang sampah medis sesuai dengan peraturan pemerintah. “Pihak rumah sakit nantinya akan membuang sampah medis tersebut ke tempat penampungan sementara (TPS) dan nanti akan diambil oleh perusahaan pemusnah sampah. Setelah sampah medis tersebut diambil, dan nantinya akan dibakar, jika tidak dibakar, akan dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab untuk didaur ulang dan dijual kembali,” katanya.

Setiap rumah sakit sudah menyiapkan Tempat Penyimpanan Sementara (TPS), tempat tersebut berguna bagi limbah medis yang telah digunakan. “TPS berbeda sendiri, karena limbah medis infeksius harus dikumpulan ke ruang infeksius dengan adanya izin B3. Sehingga limbah medis tidak bercampur dengan limbah dosmetik, RSUD Tanah Abang juga memiliki Chiller Room, ketika ada limbah yang bercampur dengan darah akan dikumpulkan di ruang tersebut kemudian dikunci. Sehingga tidak bisa orang lain masuk keruangan,” paparnya.

Adapun rangkaian proses yang diberlakukan saat membuang limbah medis:

  • Dengan memberikan plastik warna kuning pada tempat sampah.
  • Dikumpulkan pada ruangan TPS.
  • Membedakan jenis sampah medis yang dibuang.
  • Cleaning Service menggunakan pakaian APD lengkap.
  • Disemprot dengan disinfektan
  • Dibakar dengan Incinerator oleh pihak ke 3 yang memiliki izin perusahaan dalam mengelola limbah medis.

Dalam pembuangan limbah medis, Syafni Elwin mengatakan bahwa ada jadwal yang sudah ditetapkan bila membuang limbah medis di rumah sakit. “Sampah itu 2 x 24 jam harus diangkut, jadi 2 kali 24 jam harus di Waspek. Karena kita ada Waspek, ada TPLI jadi dari pihak ke tiga, 2 hari sekali ia ngambil sampah dan memakai pakaian APD,” ujarnya.

Keterangan dari Ibnu Hafiz, selaku karyawan yang bertugas dalam pengelolaan limbah medis, bila memakai pakaian APD cukup panas dan kurang nyaman, terutama bila masuk ke  ruang isolasi. “Engga seneng sih, soalnya kan panas ya. Apalagi kalo masuk ke zona merah harus dipake, kalo misalnya pengawasan, terus kalo ada yang dicek kita harus pake full APD,” jelasnya. ***

 

 

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
100 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.