Pengaruh Kandungan Media dan Induser Dalam Meningkatkan Aktivitas Lakase Oleh Jamur T Versicolor

by -78 views
Fani Resita Ningsih

Oleh: Fani Resita Ningsih

Produksi komoditas pertanian umumnya cenderung meningkat setiap tahunnya, dimana hal ini juga diikuti dengan meningkatnya limbah lignoselulosa yang dihasilkan seperti bonggol jagung, sekam padi, serbuk kayu, kulit pisang, dan tandan kosong kelapa sawit.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi limbah tersebut adalah dengan mendegradasi komponen lignin yang ada di dalamnya. Jamur pelapuk putih golongan Basidiomycetes merupakan spesies yang dapat mendegradasi lignin secara efektif karena mampu menghasilkan berbagai enzim lignolitik.

Degradasi lignin dapat dilakukan dengan adanya bantuan salah satu enzim lignolitik, yaitu lakase. Lakase adalah enzim ekstraseluler yang mengandung empat atom tembaga dan berperan dalam mengkatalisis proses oksidasi, baik senyawa organik maupun anorganik.

Jamur Trametes versicolor adalah jamur yang dikenal paling baik dalam menghasilkan lakase. Lakase merupakan hasil metabolisme sekunder dari jamur. Jamur akan menghasilkan lakase saat terjadi defisiensi nutrisi. Produksi lakase juga sangat berpotensi bagi industri pangan sebagai stabilizer dalam menghilangkan polifenol dan memperbaiki struktur maupun volume pada produk baking. Sedangkan pada industri non pangan, lakase berperan untuk delignifikasi, biopulping, biobleaching, dan produksi etanol.

Produksi lakase dapat dilakukan dengan sistem fermentasi kultur padat dan fermentasi kultur terendam. Jamur T. Versicolor umumnya dapat menghasilkan lakase pada suhu optimal 30°C dan pH 5. Pertumbuhan jamur T. Versicolor sangat dipengaruhi oleh kandungan media, karena media merupakan sumber nutrisi bagi jamur.

Media pertumbuhan ini harus memiliki sumber karbon, nitrogen dan mineral yang cukup agar dapat menghasilkan aktivitas lakase yang tinggi. Sumber karbon dapat diperoleh dari limbah lignoselulosa sebagai substrat fermentasi. Limbah lignoselulosa mengandung hemiselulosa, selulosa dan lignin yang dapat dijadikan sebagai sumber karbon. Adanya penambahan limbah lignoselulosa sebagai substrat fermentasi dapat meningkatkan aktivitas lakase dibandingkan tanpa substrat.

Penggunaan karbohidrat berupa glukosa sebagai sumber karbon juga dapat meningkatkan aktivitas lakase. Jamur juga memerlukan nitrogen bagi pertumbuhannya. Amonium sulfat merupakan salah satu sumber nitrogen terbaik dibandingkan sumber nitrogen lainnya seperti amonium nitrat.

Mineral-mineral esensial seperti Mn2+, Mg2+ dan Ca2+ juga diperlukan oleh jamur karena dapat berfungsi sebagai aktivator enzim saat metabolisme terjadi. Logam tembaga atau Cu2+ diketahui paling efektif dalam menginduksi lakase dibandingkan logam lainnya.

Induser logam yang paling umum digunakan dalam meningkatkan aktivitas lakase adalah induser tembaga. Hal ini dikarenakan lakase memiliki empat atom tembaga pada sisi aktifnya, sehingga lakase membutuhkan mineral Cu2+ untuk mengaktifkan sisi aktif lakase tersebut.

Tembaga sulfat adalah induser terbaik karena dapat meningkatkan aktivitas lakase hingga 85%. Konsentrasi induser yang optimal tentunya berbeda-beda tergantung pada batas toleransi dari jenis substrat yang digunakan.

Konsentrasi induser yang tidak menghambat pertumbuhan jamur biasanya sekitar 0,1 – 1,0 mM. Sedangkan konsentrasi yang terlalu tinggi sekitar 1,5 – 2,0 mM akan menjadi racun bagi jamur, sehingga menurunkan aktivitas lakase.

Pengaruh kandungan media dan induser terhadap aktivitas lakase, yaitu ditunjukkan dengan nilai aktivitas lakase yang lebih tinggi karena adanya substrat sebagai sumber karbon dan senyawa-senyawa kimia sebagai sumber nitrogen dan mineral, serta adanya penggunaan induser.

Tingginya aktivitas lakase, disebabkan karena komposisi media yang lengkap mengandung sumber karbon, nitrogen dan mineral lebih menunjang pertumbuhan jamur T. versicolor dalam menghasilkan lakase. Adanya penambahan induser tembaga menyebabkan lakase yang dihasilkan semakin tinggi karena tembaga adalah induser paling kuat pada spesies T. versicolor dan gen lakase telah diatur secara transkripsi oleh ion Cu2+ pada jamur T. versicolor.

Berdasarkan hal tersebut, maka diharapkan produksi lakase dapat dijadikan sebagai alternatif dalam mengurangi limbah pertanian dan lakase yang dihasilkan dapat dimanfaatkan baik bagi industri pangan maupun non pangan. (*)

Penulis adalah mahasiswi jurusan
Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Industri Pertanian, Universitas Padjadjaran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.