Problematika Kehidupan di Tengah Pandemi: Musibah, Barokah, atau Perubahan

by -306 views

Penulis : Hj. Siti Muslikhah, S.Ag.

(Peserta Pentaloknas Literasi, Guru PAI SMP Islamic Green School/MGMP PAI SMP Kota Bekasi)

Pandemi Covid-19 menyisakan kesulitan, kepedihan, keperihatinan juga permasalahan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Sungguh ujian ini teramat berat. Setiap kesulitan pasti ada kemudahan, karena sesungguhnya di dalam setiap kesempitan yang dialami seseorang pasti ada kesempatan yang lapang, dan selalu ada jalan keluar dalam kesulitan dan permasalahan yang ada, “Maka sesungguhnya bersama kesulitan  ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah Ayat 5).

Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia kurang lebih satu tahun telah mengubah cara hidup masyarakat, termasuk metode pembelajaran bagi sekolah dan anak. Jika dahulu kegiatan belajar-mengajar lazim dilakukan secara tatap muka, namun akibat pandemi muncul metode dalam jaringan (daring) atau online.

Ternyata, metode pembelajaran daring ini juga mendorong konsep blended learning atau campuran antara online dan luar jaringan (luring) lahir lebih cepat dari yang direncanakan pemerintah. Efek dari pandemi memaksa kita untuk menciptakan perubahan-perubahan dan inovasi secara massif.

Menurut Semler (2005) Blended learning adalah sebuah kemudahan pembelajaran yang menggabungkan berbagai cara penyampaian, model pengajaran, dan gaya pembelajaran, memperkenalkan berbagai pilihan media dialog antara fasilitator dengan orang yang mendapat pengajaran. Blended learning juga sebagai sebuah kombinasi pengajaran langsung (face-to-face) dan pengajaran online, akan tetapi lebih daripada itu sebagai elemen dari interaksi sosial.

Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tatap muka di satuan pendidikan Kota Bekasi ditunda. Sebagai gantinya kegiatan pembelajaran jarak jauh (PJJ) akan dilanjutkan dan dimaksimalkan. Pemerintah Kota Bekasi mengeluarkan Surat Edaran No. 421/112/Disdik tentang Penyelenggaraan Pembelajaran Semester Genap Tahun Ajaran 2020/2021 di Kota Bekasi.  Dalam poin kedua, disebutkan bahwa Simulasi Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (SPTMT) yang semula dijadwalkan pada 18 Januari 2021, ditunda sampai dengan adanya pemberitahuan lebih lanjut berkaitan dengan pembatasan kegiatan masyarakat untuk mengendalikan pandemi Covid-19.

Sebelumnya, Pemerintah Kota Bekasi telah menjadwalkan simulasi  tersebut bagi 90 satuan pendidikan atau sekolah yang menyatakan siap menggelar sekolah tatap muka pada Januari 2021. Sedangkan sekolah yang mengajukan izin sudah mencapai 24 satuan pendidikan. Tak terkecuali SMP Islamic Green School Kota Bekasi.

Oleh karena penundaan tersebut, dihimbaukan kepada kepala satuan pendidikan bekerjasama dengan orangtua untuk melakukan pengawasan dan pendampingan serta memastikan putra/putrinya melaksanakan proses belajar dari rumah serta membatasi aktivitas kegiatan di luar rumah.

Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat selama kurang lebih tiga minggu (3-20 Juli 2021) belum mengindikasikan penurunan penyebaran Covid-19, kemudian Pemerintah Pusat memperpanjang PPKM Darurat (21-25 Juli 2021).  Sejalan dengan itu, berarti rencana pembelajaran tatap muka pun akan ditunda lagi.

Perubahan Metodologi Pembalajaran

Tidak hanya pada sektor ekonomi, Covid-19 ini juga secara langsung mempengaruhi dunia pendidikan. Pemberlakuan kebijakan physical distancing yang kemudian menjadi dasar pelaksanaan belajar dari rumah, dengan pemanfaatan teknologi informasi yang berlaku secara tiba-tiba, tidak jarang membuat pendidik dan siswa kaget termasuk orangtua bahkan semua orang yang berada dalam rumah.

Guru mengalami problematika yang serius dalam proses kegiatan belajar mengajar yang semula bisa di ruang-ruang kelas secara tatap muka, kini harus digantikan dengan metode PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) yang memanfaatkan media sosial dan sejumlah aplikasi belajar pada laman internet.

Pembelajaran jarak jauh memang bukanlah hal yang baru dalam dunia pendidikan. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indinesia Nomor 24 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Jarak Jauh. Sistem PJJ menjadi bagian yang yang menyatu dalam dunia pendidikan di Indonesia. Pada awalnya PJJ hanya diberlakukan untuk para mahsiswa yang sedang menempuh kuliah di Pendidikan tinggi. Namun saat ini, berlaku untuk semua jenjang Pendidikan.

Selain guru harus kreatif menciptakan metode-metode yang educative—informative–communicative–colaborative. Yang menjadi problema bagi guru dan siswa salah satunya adalah membutuhkan pulsa atau kuota internet yang besar  untuk bisa mengikuti pelajaran secara daring.

Hampir semua aplikasi membutuhkan pulsa yang tidak sedikit dan membutuhkan  daya baterei yang besar. Untuk itu sekolah pun harus dilengkapi dengan wifi dengan daya besar supaya guru bisa mudah melaksanakan proses belajar mengajar dengan baik. Atau tunjungan pulsa apabila itu dilaksanakan dari rumah.

Pemerintah selama 1 tahun telah memberikan tunjangan pulsa berupa kartu perdana di pertengahan tahun ajaran baru 2020/2021 sebagai solusi untuk mengatasi kesulitan masalah pulsa. Tentu saja ini disambut baik oleh kalangan pendidik dan orang tua  walaupun tidak memecahkan semua masalah akan tetapi salah satu solusi sudah bisa diatasi.

Mindfullness Sebagai Alternatif Metode

Penggunaan beragam metodologi dalam proses pembelajaran menjadi pilihan, agar siswa tidak mengalami kebosanan (titik jenuh) belajar online. Semisal pada sekolah Inklusi yang menerima anak berkebutuhan khusus yang disebut Special Need  (SN) untuk bisa belajar bersama dengan siswa regular. Guru dituntut untuk kreatif dalam membuat media,  metode dan strategi belajar secara daring.

Salah satu contohnya biasanya di sekolah inklusi dapat bertatap muka untuk melakukan strategi belajar sebelum pelajaran dimulai dengan Mindfullness. Mindfullness  ialah cara untuk memusatkan perhatian terhadap apa yang terjadi dengan sadar tanpa adanya penilaian (Buku Strategi dan Metode Belajar Untuk Anak ADHD: Dr Suzy Yusna Dewi dr SpKj [K]).

Metode ini dapat menenangkan pikiran dan membuat hidup menjadi lebih baik. Saat ini guru dituntut untuk melakukan  mindfullnes itu  secara daring. Biasanya metode ini dipakai di awal pembelajaran untuk merangsang perasaan  siswa menjadi nyaman tidak ada emosi yang dibawa dari rumah dan mendapatkan suasana yang menyenangkan di sekolah .

Metode ini sangat baik dilakukan pada pagi hari dan menjelang tidur supaya  untuk merangsang dan membangun  good mood (suasana hati yang baik) dari bad mood  (suasana hati yang buruk) biasanya anak muda menyebutnya dengan kata BeTe . Hal ini juga bisa dilakukan orang dewasa dengan menata hati,  managemen emosi , positif thinking, atau mungkin dari istilah-istilah lain seperti self love (mencintai diri sendri).

Untuk melaksanakan metode mindfulness itu sangat sulit diakukan secara tatap muka bahkan untuk siswa regular apalagi kepada siswa SN. Jadi harus ada kerja sama yang baik dengan orangtua yang mendampinginya di rumah. Ada beberapa siswa yang didampingi oleh pengasuhnya (baby sister) karena orangtua bekerja. Dari sini pentingnya pendampingan bagi siswa baik itu yang regular ataupun SN. Kalau berhasil metode ini diterapkan di awal pembelajaran maka pembelajaran selanjutnya berjalan lancar walaupun itu secara daring.

Membuat PJJ menjadi Fleksibel

Tidak semua PJJ dapat dilakukan untuk siswa SN terutama yang mengalami kesulitan fokus seperti autism , ADHD (Attention deficit hyperactivity disorder), ADD (Attention deficit disorder) dan RM  (Retardasi mental). Hal ini memaksa guru tetap melaksanakan tatap muka di area terbuka atau 1 kelas dengan 1 siswa atau bisa dengan home visit dan itu dilaksanakan lengkap dengan memakai APD (Alat Pengaman Diri) dan prokes yang ketat untuk memperkecil resiko penularan virus Covid-19. Jadi tidak full PJJ biasanya masing-masing siswa akan dijadwal berdasarkan jam datang dan pulang sekitar 90 menit per-siswa.

Pandemi ini memang dampaknya sangat besar luar biasa (tidak normal) bagi dunia pendidikan di seluruh dunia. Digitalisasi atau melek IT sangat dibutuhkan oleh setiap tenaga pendidik dalam menyesuaikan diri dengan keadaan terutama dalam berkreasi menciptakan metode yang sesuai dengan materi atau pokok bahasan yang akan kita sampaikan kepada siswa.

Bagaimana siswa mampu menyerap ilmu atau pelajaran yang kita transfer kepada mereka. Mau tidak mau kita harus berdamai dengan keadaan ini.  Banyak guru-guru yang keteter dengan keadaan ini kalau tidak cepat-cepat menyesuaikan diri mengikuti perubahan yang begitu cepat.  Mengajar dengan cara yang lama tidak akan menyelesaikan masalah dan akan membuat siswa mengantuk atau tertidur di depan kamera.

Jadikan Kesempitan Menjadi peluang

Dari kejadian yang luar biasa ini tidak sedikit ide-ide kreatif yang diciptakan oleh guru-guru  yang berkeinginan  belajar dan berubah, seperti membuat konten youtube , video-vodeo pembelajaran, tutorial untuk materi praktek yang bisa di-upload ke Instragram, Facebook , twitter. Untuk evaluasi guru-guru bisa menggunakan Quizizz, google form atau aplikasi lain yang bisa membuat siswa semangat untuk mengikuti pelajaran.

Peristiwa pandemi ini menjadi peluang baru bagi mereka yang berpikir kreatif dan inovatif dalam beradaptasi dengan keadaan yang baru, menjadi kebiasaan yang baru, dengan mencari terobosan yang tidak hanya dihargai dengan pujian tapi secara ekonomis juga menguntungkan.

Setiap kejadian selalu ada yang diuntungkan dan ada yang dirugikan itulah siklus kehidupan. Hikmah dibalik pandemi, kita diberikan pelajaran yang sangat banyak dari perubahan-perubahan yang begitu cepat, peluangan di dalam kesempitan dan penyesuaian diri terhadap keadaan.

Mari kita berdo’a kepada Allah agar pandemi ini cepat berlalu dan kita bisa kembali melaksanakan kegiatan belajar secara tatap muka dengan tetap kteatif menciptakan metode-metode yang edukatif yang informatif dan dapat mengantarkan anak didik kita berprestasi. Tetap melaksanakan protokol kesehatan dimanapun kita berada.

Dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran perlunya mengedepankan proses pembelajaran yang menghadirkan solusi bagi murid dengan menerapkan metodologi yang menyenangkan bukan menakutkan serta membosankan. Selain itu metodologi yang diterapkan juga mesti bermakna dan berkaitan dengan konteks/aplikasi di kehidupan sehari-hari yang ada di lingkungan masing-masing.

Hal yang terpenting adalah hadapi, jalani dan tetap waspada dalam kondisi apapun. Cobalah untuk melihat peluang dari segala situasi dan kondisi yang kita hadapi, karena hal tersebut akan mengubah sudut pandang dan cara kita berpikir.

Sebagai pendidik, GPAI semestinya menjadi pelopor dalam meningkatkan kreativitas dan berinovasi  menciptakan   metode-metode edukatif, kreatif, kolaboratif, dan menginspirasi untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik. Harapan di masa pandemi ini  GPAI dapat menjadi pahlawan digital untuk gerakan literasi digital demi menebar kebaikan dan kebenaran khususnya di Kota Bekasi  pada masa mendatang. ***

Editor: Yoni Haris Setiawan

#Salam Literasi; Indonesia Berkarya!!!

#Salam Guru Literat; Semangat, Hebat, Literat !!!

#Salam Patriot Literasi!!!

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.