Lagu Wajib di SD Inpres Siunggam

Umum2779 Dilihat

DI awal masuk sekolah pekan ini mengingatkan saya masa pendidikan di SD Inpres Siunggam, Padang Bolak, Paluta (1981-1987). Tenaga pengajar terbatas, dengan kata lain satu kelas satu guru. Makanya ibu guru pun disebut guru kalas sada, dua, tolu dan seterusnya. Kecuali guru agama mengajar lintas kelas, sesuai jadwal mata pelajaran.

Hari itu guru kalas tolu berhalangan hadir. Ibu guru kalas opat pun diperbantukan mengajar di kalas tolu. Biar ada kegiatan, kami yang duduk di kalas tolu disuruh menyanyi satu persatu ke depan.

Semua siswa mengandalkan lagu wajib dan dinyanyikan secara berantakan. Misalnya, lafal lirik lagu wajib, Garuda Pancasila, tak seorang pun yang fasih alias ngawur.
Lirik: Garuda pancasila…akulah pendukungmu…patriot proklamasi…

Ilustrasi

Nah, pas di lirik ‘patriot proklamasi para siswa kesulitan menyanyikannya, akhirnya ada yang menyanyikan, “Matu rop rop lamasi”, ada juga bilang “mangarop rop lamasi.”

Almarhum Uda Edi Siregar lebih ngaco lagi, di awal ia membawakan lagu Garuda Pancasila, tiba-tiba di bagian tengah menyanyikan, Dari Sabang Sampai Merauke berjajar pulau-pulau, sambung menyambung menjadi satu, itulah Indonesia…di akhir kembali ke lirik garuda pancasila, pribadi bangsa ku ayo maju…maju.

Mendengar itu, ibu guru sekuat tenaga menahan tawa demi menjaga wibawa di hadapan siswa. Masa sekolah dulu kita lebih takut sama guru daripada orangtua. Guru begitu berwibawa bagi kami.

Celaka dua belas, ibu guru mendadak melarang lagu wajib, semua siswa harus membawakan lagu umum, lagu yang di TV TV dan radio itu. Saya dan teman ku Toga Langit Harahap saling melirik kebingungan, para siswa grasak-grusuk bingung mau nyanyikan lagu apa. Maklum koleksi lagu cinta kami sangat sangat minim karena cuma mengandalkan tontonan acara Aneka Ria Safari dan Album Minggu ini sekali seminggu. Bagaimana mau hapal lagunya.

Lagu cinta yang sudah terbatas, ibu guru juga melarang keras bahwa lagu yang sudah dinyanyikan teman, tidak boleh dibawakan lagi. Di luar dugaan si Toga menyanyikan, Benci Tapi Rindu milik Endang S Taurina. Usut punya usut ia tau lirik lagu itu dari permainan gambar-gambar yang di balik gambar ada ‘bonus’ lirik lagu cinta.

Tiba giliran saya, dengan sebisanya saya bawakan lagu, ku terima suratmu kasih ku…yang kau kirimkan dari seberang sana…dalam kata kata kau ucap hati rindu..selamanya kau dan aku satu…

Saya dapat lagu itu dari tape radio rumah Pahran Siregar, tetangga yang tiap pagi memutar kaset lagu itu. Pahran punya tape karena baru pindah dari kota Medan.

Hari itu banyak siswa maju ke depan hanya diam karena memang gak ada lagu yang mau dibawakan. Malah si Mentel, siswi dari Siunggam Jae nangis duluan biar disuruh duduk kembali. (Erman Tale Daulay/Asal Desa Siunggam, Paluta/Kini Tinggal di Depok)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *