Medali Emas Manis Seperti Gula

Opini443 Dilihat

Oleh Barce

Wartawan Sepakbola Senior

 

SEPAKBOLA dan medali emas SEAG 2023, kalau dianalogikan seperti Bunga Citra Lestari dan Luna Maya. Mereka berdua ibarat buah matang di pohon, yang sedang merekah dan harum. Lagi hangat-hangatnya kalau dikawinin. Wajar. Banyak lelaki yang ingin menikahinya.

Begitu juga tim sepakbola SEAG Kamboja. Membawa pulang medali emas setelah menunggu tigapuluh dua tahun lamanya. Wajar. “Emosi” meluap-luap menyambut kedatangan mereka. Apalagi sepakbola adalah olahraga rakyat yang paling banyak pendukungnya. Tidak hanya di negeri ini. Seluruh dunia. Tidak terbantahkan sudah !

Mengutip status medsos, senior bang @Baharudin Aritonang. Dia mengamati, pemberitaan media tentang medali emas SEAG Kamboja sangat “emosi.” “Mohon maaf, mengamati betapa kita bangsa yang emosional. Lihatlah berita kemenangan U22 Indonesia melawan Thailand di SEA Games. Beritanya itu itu melulu. Menutupi Indonesia hanya urutan ketiga dalam perolehan medali. Olahraga itu harus tenang. Terukur. Sportif. Menang ya menang. Jangan berlebihan. Pikirkan prestasi lain dan yang berikutnya. Kita perlu setenang ikan yang menyelam dalam kolam. Kalo ada janda lincah, biarkan saja. he…heee,” candanya.

Pemberitan eforia semacam ini, kewenangan media mengendalikannya. Mau dibawa kemana ujung ceritanya. Hanya media itu sendiri yang tahu. Ibarat penggalan lirik lagu lama. Lupa siapa penciptanya. “Kau yang memulai kau yang mengakhiri.”

Beberapa cabang olahraga yang datang bersamaan dengan tim sepakbola dari Kamboja, merasa tidak mendapat perlakuan yang sama sebagai duta olahraga bangsa.

Tidak elok disebutkan nama atlet dan cabang olahraganya. Mereka merasa sama-sama mendapatkan medali emas seperti sepakbola. Tapi, tidak ikut arak-arakan atau, pawai keliling-keliling jalanan di Senayan.

PSSI sebagai induk cabang sepakbola, semula menyiapkan penyambutan khusus untuk tim sepakbola. Acara selebrasi atau arak-arakan seperti pawai keliling.

Kemenpora meminta agar cabang lain, ikut bersama-sama PSSI selebrasi, supaya sama-sama merasakan “pesta” usai pulang dari Kamboja. Hanya saja banyak atlet cabang lain yang keluar dan meninggalkan arak-arakan.

Penyebabmya, mereka sama sekali tidak disebut-sebut, atau dicuekin oleh ribuan orang yang memang anak-anak “penggila” atau pendukung tim sepakbola.

Suka atau tidak, pendukung sepakbola, itu seperti “jaelangkung.” Spontan datang tanpa diundang. Pulang dan menghilang tanpa diantar. Boro-boro. Pamit aja. Kagak !

Itulah pendukung sepakbola. Harap maklum. Mau gimana lagi ? Padahal ini hanya prestasi tim sepakbola kelompok umur 22 tahun. Di kawasan regional ASEAN. Bukan tingkat dunia. Tingkat Asia juga bukan.

Suka atau tidak. Ini fakta. Pawai atau arak- arakan medali emas sepakbola SEAG 2023, mengalahkan penyambutan medali emas Olimpiade, Susi Susanti, Alan Budikusumah, Taufik Hidayat, Richard Mainaki/Ricky dll.

Sepakbola itu Manis Seperti Gula. Kalau gula habis semut pun tiada. Ingat itu. PSSI !!!***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *