Semangat Peserta DEA Praktik Photo Shoot Produk di IBM Bekasi

Pendidikan651 Dilihat

PADA hari kedua, Jumat (7/7/2023) sebanyak 150 pelaku UMKM masih sangat semangat untuk mengikuti Digital Entrepreneurship Academy (DEA). Di hari kedua ini masing-masing peserta membawa produk yang dijajakan di gerainya untuk dijadikan bahan praktik pembuatan photo shoot produk. Penyelenggaraan DEA merupakan program dan kegiatan Balitbang BPPTIK Kemenkoinfo RI dengan menggandeng LP UMKM PPM dan IBM Bekasi sebagai tuan rumah dalam pelaksanaannya.. Penyelenggaraan DEA merupakan program dan kegiatan Balitbang BPPTIK Kemenkoinfo RI dengan menggandeng LP UMKM PPM dan IBM Bekasi sebagai tuan rumah dalam pelaksanaannya.

Penyelenggaraan DEA di Kampus II IBM Bekasi, dari hari pertama dan kedua, peserta dibimbing para Pengajar (Instruktur) yang mumpuni dibidangnya, terdiri dari Awit Marwati Sakinah, Arief Budiman, Junaedi Akbar, Anggraini Hermana, Anang Darmawan, dan Shodiq Ardiansyah. Sedangkan peserta dibagi menjadi beberapa kelas, yaitu kelas A, B, C, D, E, dan F, masing-masing Pengajar dibagi dalam kelas tersebut. Juga dibantu Admin Kelas, yaitu Dinar, Ayulia, Lutfi, Vannia, Aji, dan Ramli. Serta Admin LMS terdiri dari Fourida, Aji, dan Meutia.

Sementara itu, Muhammad Ikhwan Yoza dan kawan-kawan dari UPT Bidang Penyelenggara Pelatihan Umum BBPTIK mengawal penuh kegiatan, baik hari pertama maupun hari kedua dengan didampingi Panitia Pelaksana dari LP UMKM PPM dan IBM Bekasi yang terdiri Ketua: Azwar Kholid (LP UMKM PPM), Wakil Ketua: Muhammad Rafi Siregar (LP UMKM PPM), Bendahara: Eva Fauziana (LP UMKM PPM), Administrasi: Rifky Mumtaz, Sonny Abriantoro Wicaksono (IBM Bekasi), Perlengkapan: Muhammad Nur Ishak (LP UMKM PPM), dan Publikasi: Muhammad Aulia Ihya Elfatiha (IBM Bekasi).

Dalam kesempatan hari kedua, Penulis menemui beberapa Pengajar dan Peserta untuk meminta tanggapan berkenaan dengan suasana kegiatan, peserta, kendala-kendala, dan fasilitas yang tersedia, serta harapan-harapannya. Peserta yang mengikuti DEA sangat beragam usia dan kalasifikasi, baik dari kalangan ibu-ibu rumah tangga, bapak-bapak, kawula muda, dan dosen (FEB dan FTK IBM Bekasi), mahasiswa (Prodi Manajemen, Akuntansi, Ekonomi Islam, Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis; Prodi Ilmu Komunikasi, Teknik Informatika Fakultas Teknik dan Informatika) IBM Bekasi. Keragaman itu juga terlihat dari pelaku UMKM pemula yang baru menjalankan usaha, sedang menjalankan usaha, bahkan ada yang kurang lebih dari enam tahun telah menjalankan. Semuanya pelaku UMKM yang berada di wilayah Bekasi.

Secara random, Penulis meminta pendapat peserta sebagai penerima manfaat terkait pelaksanaan DEA. Menurut Eko Saputro pemilik UMKM dengan branding “Omah Saudara” yang berlokasi di Mustikajaya. Eko memasarkan produk permen, juice, mie level pedas. Kendala yang ditemui ialah kemampuan terkait pemanfaatan teknologi masih ketinggalan jauh, baru mulai belajar. Untuk itu Eko mengikuti DEA, mengungkapkan kegiatan ini sangat positif, dapat belajar teknik-teknik digital marketing dan lebih jauh jangkauannya. Sebelumnya penjualan produk dipasarkan secara langsung, orang lewat dan dari mulut ke mulut.

“Harapannya yang didapat dari DEA sangat menambah pengetahuan lebih paham, ini dapat diterapkan lebih luas, sehinggga produk yang Saya jajakan nantinya dikenal orang melalui pemasaran digital,” tukas Eko.

Lain halnya dengan Anajiati pemilik UMKM “Pecita” bertempat di Bungur, telah menjalankan usahanya dalam setahun ini dengan omset 500 ribu/hari. Produk yang disediakan adalah bumbu pecel, kripik tempe, kripik bawang. Sasaran saat ini para konsumen yang lewat berkendara sekedar singgah untuk menikmati produk yang ditwarkan, belum langganan karena belum online. Pemasarannya belum melalui digital.

“Pengen membuat aplikasi digital untuk pemasaran. Kendalanya untuk SDM yang mengelola (tenaga bantu), tutup buka karena sering tidak masuk kerja. Saya ingin membuat kemasan yang dapat menarik konsumen, pemasaran online, dengan DEA ini memberikan semangat baru,” ungkap Anajiati.

Sedangkan pemilik UMKM “Salma Berseri” yang mangkal disekitar Jalan Pangeran Jayakarta Summarecon, Wahyu Setiaji mengelola produk wedang uwuk, jahe merah bubuk, tepung angkrik (Garut) telah berjalan sekitar 6 tahun dengan omset 6 juta/bulan. Produk wedang uwuk, baru satu tahunan dijalankan. Kendala yang dihadapi, pasang surutnya konsumen, karena kondisi usai covid-19 mengharuskan bekerja keras dan bangkit kembali. Untuk produk herbal dari produsen menggunakan pemasaran online.

“Saya masih belum tertib di pembukuan usaha, karenanya dengan pelatihan ini dapat menambah ilmu, wawasan, pertemanan ada kelanjutannya untuk sharing informasi produk dan kendala-kendala. Untuk teman-teman manfaatkan waktu yang telah ada, sehingga waktu tidak sia-sia dalam berbisnis,” pesan Wahyu.

Adapun Yulianita yang membranding UMKM dengan “Diana Craft” berlokasi di Tambun Selatan.
Ia memfokuskan produknya pada kerajinan tangan (rajut tas, souvenir, dll) selain itu juga makanan. Usahanya baru berjalan dua tahunan, pemasaran produk yang dilakukan saat ini dengan mengikuti event bazar, pameran, ekspo, dan pemesanan via WA, belum menggunakan digital marketing. Usaha yang dibangunnya sempat vakum, karena terkendala dengan mengurus perizinan produk yang berbelit.

“Pelatihan ini sangat membantu, mendorong pemasaran dengan digital, dengan materi-materi aplikatif. Dapat memasarkan produk ke peserta. Mudah-mudahan dengan ini usaha dapat berkembang. Manfaatnya dari tidak mengetahui menjadi tahu, karena ibu-ibu sambil mengurus rumah tangga ikut DEA untuk jalur menimba ilmu dan penambahan pengetahuan,” tutur Yuli.

Di sela-sela riuhnya peserta yang sedang praktik materi hari kedua, Penulis mengonfirmasi Pengajar (Instruktur) dalam aktifitas DEA yang sedang berjalan. Arief Budiman mengungkapkan antusias peserta UMKM Kota Bekasi luar biasa, kompetensinya sudah baik menunjukkan rata-rata telah memiliki NIB, google profil bisnis, akun sosial media yang aktif. Dalam pembimbingan ini tidak ada kendala yang berarti karena mereka dalam menjalankan UMKM/bisnisnya cukup bagus telah berjalan, mereka pahlawan tanpa tanda jasa ekonomi negeri.

“Tidak semua memiliki aplikasi digital, ada beberapa yang masih belum masuk ke digital, maka dalam pelatihan ini akan ditajamkan good digitalnya dari mulai menguasai google trend untuk analisis sosial media, e-commerce, dan alat google yang lainnya, yang paling dasar adalah penanaman mindset kewirausahaan,” papar Arief.

Instruktur dan praktisi pengusaha yang selalu energik terus memotivasi peserta dengan “Senam Penguin”, Shodiq Ardiansyah mengemukakan bahwa peserta sangat cukup antusias, sangat bagus. Menurutnnya, peran Pemerintah dalam men-triger (mencetuskan, memicu, menggerakkan) pelaku UMKM untuk melek secara digital. Juga Peran Kominko untuk menyadarkan mereka membuat infrastruktur digitalnya, dan beberapa telah mulai melek, ada efek dari digital. Peserta cukup beragam tantangan mereka adalah di belajar.

“Jarang orang yang telah berusia apalagi yang muda-muda mau belajar, dan mereka mau. Ada yang memiliki aplikasi pemasaran digital ada juga yang belum, bagi yang belum diberikan kesadaran bahwa ini penting yang kalau mau bertahan dalam berbisnis, karena kalau tidak seperti ini mereka tidak bisa bersaing dengan pebisnis, pelaku usaha UMKM yang besar-besar,” tegas Shodiq.

Melihat gerak yang melecut keingitahuan peserta ditunjukkan Instruktur Anggraini Hermana, menurutnya peserta cukup semangat, bahkan ada yang telah menunjukkan produknya dengan pemasaran digital dan sangat luas jangkauannya ke berbagai kalangan. Adapun yang belum memilik digital marketing seyogyanya terus membimbing potensi dirinya untuk terus berlatih, berkembang dan maju dengan pemanfaatan teknologi.

“Saya, mengharapkan produk dan usaha mereka tinggal memoles dengan branding yang mudah diingat oleh masyarakat, sehingga branding atau mereknya melekat dan banyak peminatnya untuk bebelanja produk yang ditawarkan,” jelas Anggraini.

Banyak harapan, pesan dan saran dari peserta dalam kegiatan DEA, agar kegiatan ini terus dirutinkan dan berkelanjutan, karena kalau hanya dengan sekali tatap muka belum tentu dapat langsung tercerna. Selain itu juga, pihak Kominfo dapat memberikan penambahan waktu. Hal ini karena faktor usia (gaptek) agak lambat dalam penyerapan materi.

Antusiasme peserta, juga instruktur dalam pembimbingan selama dua hari memberikan apresiasi bagi BPPTIK, LP UMKM PPM, dan IBM Bekasi sebagai penyelenggara. Apresiasi itu antara lain; maju terus, sukses selalu, pantang mundur. Tetap semangat menghadapi ibu-ibu yang mencari ilmu, bersabar, terus berinovasi. Panitia sangat baik, kontributif, lancar, perencanaan, eksekusi, penataan, sehingga sangat membantu jalannya pembelajaran.

“BPPTIK dengan LP UMKM PPM, IBM Bekasi, sangat baik sekali dalam penyelenggaraannya sukses terus bersama-sama mengembangkan kewirausahaan di Indonesia,” tandas Arief.

“Peserta terus adaptif, bersahabat dengan android dengan segala perubahannya, karena Kita tidak akan tahu kedepannya platform/channel digital yang akan ada, dan perlu dimanfaatkan. Untuk produk mereka akan dibantu secara digital diberbagai platform,” pesan Shodiq.

Saat ditemui diruangan terpisah usai pembukaan DEA, Kepala BPPTIK, Nusirwan menegaskan BPPTK memberikan bentuk program beasiswa “Digital Talent Schoolarship (DTS)” merupakan beasiswa pelatihan yang ditujukan untuk masyarakat umum calon pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), serta pelaku usaha UMKM yang ingin naik kelas dalam hal pemanfaatan teknologi digital untuk dapat meningkatkan usahanya.

Pemberian pelatihan dan pengembangan SDM TIK terdiri dari 8 akademi yaitu, Fresh Graduate Academy (FGA), Vocational School Graduate Academy (VSGA), Thematic Academy (TA), Professional Academy (ProA), Government Transformation Academy (GTA), Digital Entrepreneurship Academy (DEA), Digital Leadership Academy (DLA), dan Talent Scouting Academy (TSA).

DTS bertujuan untuk meningkatkan kemampuan, keterampilan dan daya saing SDM di bidang teknologi Informasi untuk mendukung transformasi digital dan peningkatan ekonomi digital Indonesia menuju Industri 4.0. serta mampu memenuhi kebutuhan tenaga terampil di bidang teknologi.

“Semua peserta DEA dapat mandiri baik secara ekonomi maupun digital, dan peningkatan untuk umat secara menyeluruh dengan pemanfaatan teknologi (digitalisasi),” harapan Kepala BPPTIK. (Yoni Haris Setiawan/Kepala UPT Perpustakaan dan Publikasi Digital IBM Bekasi)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *