Tiket Umroh Dijual Murah, Hanya Belasan Atlet KONI Kota Bekasi yang Berangkat; Hentikan Bonus Umroh…!

Umum1114 Dilihat

PADA tahun 2011, setiap atlet peraih medali emas Pekan Olahraga Daerah (Porda) yang mewakili Kota Bekasi mendapat tambahan bonus. Bonus bagi atlet peraih emas berhadiahkan sejumlah uang dengan nilai total puluhan juta rupiah dan tambahan bonus umroh bagi atlet yang beragama Islam dan bonus perjalanan ke Jerussalem bagi yang non muslim.

Ini adalah tonggak awal pemberian bonus tambahan umroh/Jerussalem bagi atlet peraih medali emas. Tentunya juga yang diharapkan adalah umroh/Jerussalem bagi atlet peraih emas. Jika memang mereka berhalangan, hanya boleh diwakilkan oleh keluarga terdekat seperti ayah/ibu si atlet yang bersangkutan. Tidak boleh diperjualbelikan kepada yang tidak ada hubungannya dengan si atlet peraih emas. Ini ketentuan saat itu yang benar-benar saklek.

Ketentuan ini terus berlangsung hingga Porda 2018. Artinya yang berangkat diutamakan keluarga terdekat dari atlet peraih medali emas.

Namun, di tahun ini, berapa atlet dari 77 peraih emas yang berangkat? Hitung punya hitung ternyata hanya belasan atlet. Prestasi yang ditorehkan atlet buah hasil Abdul Rosyad Irwan di kepengurusan sebelumnya, kini dipetik Tri Adhianto di kepengurusan baru.

Sangat berbeda jauh terhadap peraih medali emas yang berangkat. Sebab, dari 77 peraih medali emas yang mestinya berangkat, hanya belasan saja yang berangkat, sisanya entah nama-nama siapa yang menggunakan tiket tersebut.

Konon, disebut-sebut, atlet peraih medali emas terpaksa menjual tiket kurang dari separuh harga yang semestinya. Ya, diantara Rp15 juta dan tak boleh lebih dari Rp20 juta. Tiket yang hendak dijual dikumpulkan kepada salah seorang oknum pengurus  yang menjadi calo. Oleh oknum ini dia masih bisa jual di atas harga yang dijual atlet kepada oknum tersebut. Naudzubillahiminzalik.

Yang jadi pertanyaan, mengapa KONI Kota Bekasi di bawah Tri Adhianto tidak memaksakan atlet atau saudara atlet yang bersangkutan untuk berangkat? Ataukah karena tidak ada uang saku atlet yang membuat mereka membatalkan keberangkatan ini? Padahal, pada umroh 2019 lalu dan sebelumnya, atlet yang berangkat umroh masih terima uang saku selama perjalanan umroh.

Anggaran dari pemerintahnya di potong katanya pak. Sekarang mah pada rebutan beli dari atlet harga murah. misal 15jt tapi bukan dia atau keluarga nya yg jalan. buat dijual in lagi. Hampir rata rata semua atlet yg ga jalan jual segitu pak. Soalnya dari koni ditentuin ga boleh kurang dari 15, ga boleh lebih dari 20jt. Sebelum jalan mereka konfirmasi ke bu…tgl 15 pak. Bu…. koordinator nya pak. Hotel yg dipake sekarang emang bintang 5, tapi harus muter dulu buat sampe Ka’bah.” Demikian komentar salah seorang pengurus KONI Kota Bekasi.

Kemudian pengurus lainnya juga bicara. “Ada yang “dipaksakan” dibeli tiket umroh 12.5jt. Itupun dicicil. Pernah saya hubungi atlet bercerita terkait bonus umroh yg dijual dari hari 20jt, oknum pengurus cabor dibeli harga 12.5jt.  Bahkan ada atlet yg gak tau kalau tiket umroh diperjualbelikan di cabornya.”

Astaghfirullahalaszim. Jika ini yang terjadi, berarti ada pergeseran dalam tujuan umroh di era kepengurusan sebelumnya dan di era Tri Adhianto. Jika sebelumnya memang ada niat baik umroh bagi atlet atau keluarganya, kini sudah tidak lagi. Kini tiket umroh sudah dijual murah oleh atlet dan dibeli pengurus KONI Kota Bekasi pun dengan harga murah.

Karena itulah, sebaiknya tak ada lagi bonus umroh bagi peraih medali emas KONI Kota Bekasi di porda/porprov mendatang. Cukup bonus uang tanpa umroh atau perjalanan ke Jerussalem. Hapuskan dan hentikan saja bonus umroh/Jerussalem itu. Terimakasih. (Zulkarnain Alregar/Wartawan)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *