Jangan Biarkan Islam Dipinggirkan

Umum779 Dilihat

IBU, Bapak, Saudara-saudara sekalian. Sadarkah bahwa Islam di negeri kita ini terus jadi sasaran dikerdilkan. Salah satu contoh, setiap menghadapi pesta politik—pilkada, pemilu, pilpres–yang sekarang menjadi Pemilu Serentak, kita kerap mendapat peringatan, bahkan dari orang sesama Islam sendiri, bahwa umat Islam tidak boleh berpolitik. Di Mesjid, Mushola, serta di grup-grup keagamaan, tidak boleh bicara politik.

Lalu tahukah anda apa hasilnya. Islam di mana-mana lemah. Di parleman, pimpinan DPR saja tidak tahu Al Quran itu berapa jus. Bahkan menghadapi Pemilu sekarang seorang bos partai PAN (berlandaskan Islam), Zulkifli Hasan, yang juga Menteri Perdagangan, mengolok-olok cara sholat umat Islam. Seorang capres yang mengaku Islam, menyatakan sudah tiga kali membaca dua kalimah sahadat sebagai bukti keislamannya.

Cobalah bertanya. Benarkah umat Islam tidak boleh berpolitik. Di masjid, mushola, dan di grup-grup (termasuk WA) tidak boleh bicara politik. Apakah itu bukan keberhasilan lawan-lawan Islam agar umat Islam tidak mau berpolitik?

Faktanya: Ustadz sunnah (salafi) Mas’ud Mahmud LC, 11 Februari 2024, di Masjid Al-Hidayah menyatakan: Dalam Islam memang tidak dikenal demokrasi (dalam pemiliha pemimpin), tapi berdasarkan perwakilan. Kalau memang terkait pilpres/pemilu di Indonesia ada kaum salafi tidak mau memilih (golput) ya terima saja hasilnya (jangan disesali).

Lalu Ustadz Jakfar N Dalimunte dalam beberapa kajian bagda subuh akhir-akhir ini di Masjid Al-Hidayah dengan gamblang mengajak jamaah memilih pasangan Anies/Muhaimin. Jadi penjelasan ini sekaligus membantah bahwa tidak ada larangan bicara politik di tempat-tempat ibadah.

Menurut saya, harusnya kita sebagai umat Islam jangan ikut-ikutan melarang orang bicara politik di tempat ibadah, di grup-grup (termasuk grup WA), asal sesuai batas-batas kewajaran.

Banyak bukti bahwa larangan itu ternyata agar umat Islam tak ikut-ikutan berpolitik. Akibatnya DPR, MPR, jabatan-jabatan strategis, diisi banyak yang tak peduli Islam, bahkan memperolok-olok Islam.

Contoh lain, keberadaan Islam terus digerus. Ingat, dulu nama hari dikalender ada yang namanya Ahad (versi Islam) lalu diganti jadi Minggu. Baru-baru ini pemerintah resmi mengubah istilah hari libur nasional Isa Almasih menjadi Yesus Kristus. Kenapa? Harusnya kita tahu apa tujuannya.

Contoh lain. Tempat ibadah agama selain Islam makin menyebar di mana-mana. Bahkan di sebuah kota di Jabar berdiri gereja terbesar di Asia Tenggara.

Apakah dengan begitu kita tetap melarang umat Islam mengetahui soal politik?

Harusnya kita mendukung ustadz, tokoh agama, ulama, dan lainnya melek politik. Maju sebagai anggota legislatif, eksekutif, juga yudikatif, agar upaya pihak lain mengkerdilkan Islam bisa dibendung.

Jangan alergi politik dengan alasan saya ini adalah orang beriman. Jangan biarkan Islam dikerdilkan, dikesampingkan, dengan alasan kita dari kalangan Islam murni. Wassalam. (Djunaedi Tjunti Agus, Wartawan Senior tinggal di Kota Bekasi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *