Mereka “Belajar” Kepada Orang Dewasa

Umum374 Dilihat

MENGUTIP dari Prof H Anies Baswedan PhD dalam buku Merawat Tenun Kebangsaan yang ditulisnya tahun 2015 menyebutkan bahwa “Tanggungjawab mendidik anak ada pada pundak orangtua dan guru. Oleh karenanya orangtua dan guru lah yang paling memerlukan pendidikan karakter. Pendidikan karakter bukan untuk anak, anak tinggal mengikuti (meneladani) Orangtua dan Guru.”

Begitulah lebih kurang yang ditulis Anies. Hari-hari ini kita disibukkan oleh kasus perundungan yang dilakukan oleh sekelompok oknum siswa sekolah internasional. Berlabel internasional tidak menjamin semua siswanya pasti beradab. Mereka menamakan kelompoknya dengan nama yang jelas tidak menunjukkan sikap akhlak yang baik, “Geng Ta” namanya.

Geng ini memukuli dan melukai dengan sundutan rokok kepada salah seorang temannya. Kasusnya menjadi viral karena rekaman video tersebar ke publik. Saat ini kasusnya sudah ditangani pihak berwajib.

Kasus-kasus perundungan seringkali terjadi di komunitas generasi muda kita. Tak peduli di sekolah maupun luar sekolah. Di sekolah umum maupun sekolah agama. Perundungan seolah telah menjadi kultur dan ritual yang sulit dihilangkan. Banyak upaya telah dilakukan oleh berbagai pihak untuk memutus mata rantai ritual ini. Namun hasilnya masih jauh dari harapan.

Membaca tulisan Anies Baswedan yang saya kutip di atas, barangkali dapat menjadi bahan kontemplasi kita bagaimana mencari solusi atas kasus-kasus perundungan.

Mari kita mulai dengan satu pertanyaan, pernahkah kita (orang dewasa) memandang cermin lalu berkata kepada bayangan di depan kita, “Salah mereka, anak-anak itu atau salah anda?”

Tentu saja anak-anak itu bersalah. Tetapi salahnya mereka apakah bukan dari kesalahan kita? Mereka adalah peniru terbaik. Mereka dapat melakukan apa yang kita contohkan dengan sama baiknya bahkan jauh lebih baik.

Selama ini, contoh-contoh apa yang kita pertontonkan kepada generasi muda? Jika mereka melakukan perundungan, apakah sama sekali tidak ada contohnya dari kita?

Bukankah selama ini umum dipertontonkan dipublik yang disimak oleh anak-anak kita, suami merundung istri, istri merundung suami, Orangtua merundung anak, tetangga saling merundung, bos merundung karyawan, sesama pejabat merundung, sesama artis merundung, sesama guru merundung, sesama Ustadz merundung, sesama pemuka agama merundung, sesama ke sesama lainnya merundung tak habis-habis.

Itulah yang kita ajarkan. Jujurlah, itulah yang kita teladankan selama ini!

Jadi jangan pongah mengatakan agar tidak terjadi lagi kasus perundungan, kita harus ajarkan pendidikan karakter lebih baik lagi kepada anak-anak kita. Jangan salah, kita!, yang memerlukan pendidikan karakter. Kita, yang selama ini mengaku diri lebih dewasa, lebih senior, harus dihormati, dimuliakan, dipuja-puja oleh mereka generasi peniru itu.

Setidaknya, untuk mengurangi kasus perundungan di kalangan generasi muda, mari perbaiki karakter generasi muda kita itu dengan terlebih dahulu memperbaiki karakter generasi tua-nya kita ini. (Ustadz Dr Wildan Hasan SSosI MPdI, Doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Jakarta/UIJ, Pengamat Remaja dan Anak tinggal di Bekasi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *