Nostalgia Meriam Bambu di Desa Siunggam, Buuummm…

Umum1407 Dilihat

JILATAN api menyembul dari ujung bambu disertai letusan suara buuummm. Para penyulut kian semangat mana kala sang komando teriak satu..dua..tiga. Rentetan suara pun terdengar yang membuat malam itu bergemuruh. Saking semangatnya, seorang penyulut tak sadar diri kalau alis dan rambutnya terbakar kena jilatan api dari lobang pemicu berjarak 8 cm dari pangkal bambu.

Suara meriam bak petir dari Banjar Kapas ini mengundang reaksi dari Siunggam Pasar (kisah meriam bambu di desa Siunggam, Paluta, Sumut). Mereka membalas dengan mengarahkan moncong meriam ke Banjar Kapas. Sebuah isyarat perang tak terhindarkan lagi laksana Rusia vs Ukraina.

Kami dari Banjar Kapas pun tidak mau kalah, posisi semula bermain di depan rumah, menggeser ke pinggir jalan dengan mengarahkan meriam ke pasar. “Jual beli” tembakan memancing ego kedua pihak. Adu gengsi ini membuat meriam saling mendekat, hingga jarak satu meter.

Satu meriam dioperasikan dua orang, satu penyulut, satu lagi memegang ujung bambu untuk mengarahkan ke wajah musuh.
Perang mulut pun berkecamuk dan saling ledek. “Rasoi bo indo” (rasakan ini) teriak yang satu, lalu dibalas, nabo indo (ini juga tembakan buat mu). Suasana kian panas hingga menjurus ke adu fisik. Melihat itu para orangtua keluar dari rumah untuk membubarkannya.

Ya itu permainan meriam bambu yang jadi “hiburan malam” bagi kami di desa Siunggam, Paluta, di bulan puasa pada era 80-an. Bambu dengan ukuran diameter minimal 10 cm itu berbahan bakar minyak tanah.

Soal bahan bakar ini memang bikin ribut di mana-mana, di tingkat nasional saja presiden bisa didemo habis habisan kalau bahan bakar naik atau langka. Begitu juga dengan kami di Siunggam tiap malam dipusingkan soal mendapatkan minyak tanah untuk bahan bakar meriam bambu.

Dengan jajan terbatas, memang satu dua kali masih bisa patungan beli minyak tanah. Sementara hasrat ingin bermain meriam bambu tiap malam di bulan puasa selalu menggebu. Akhirnya banyak anak yang nekat mengambil minyak tanah di dapur yang disediakan orangtua untuk keperluan lampu camporong dan menyalakan kayu bakar. Maklum di era 80-an Siunggam belum dialiri listrik PLN, masih mengandalkan genset dengan waktu nyala tertentu.

Celaka dua belas bagi kami anak yang nekat mengambil minyak tanah itu. Sore hari para ibu yang mau masak untuk santapan buka puasa mendapati botol minyak tanah sudah kosong.

Mama ku ngoceh (matubekbek) dan teriak-teriak memanggilku dengan suara yang tidak kalah dengan bunyi meriam bambu itu. Ibu ibu di kampung ku kalau teriak-teriak memanggil anaknya masih terdengar bising hingga radius satu kilo meter.
Apalagi mama ku tipikal Boru Harahap yang khas dengan cerewetnya, tetapi hatinya mudah tersentuh. Yah, itulah tipikal Boru Harahap: bek bek, gesit, mudah tersulut emosi, tetapi penuh tanggung jawab.

Mama kian marah hebat melihat “tangki” minyak camporong untuk penerang di malam hari tinggal seperempat. Istilahnya bagi kami yang mengambil minyak tanah dari lampu itu, “mangarut lappu” alias mengurut botol lampu.

Hampir semua anak yang nekat mengambil minyak lampu itu mendapat omelan dari orangtuanya. Tapi kami tidak kapok mengulanginya karena permainan meriam bambu yg begitu mengasyikkan. (Erman Tale Daulay, Penulis, tinggal di Depok)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *