7 Ciri Pemimpin Dalam Islam, Bukan Menang karena Pemilu Curang

Opini218 Dilihat

SUDAH saatnya Jika Indonesia ini tidak akan ditimpakan musibah seharusnya di dalam pemilu itu tidak ada kecurangan di mana-mana, innalillahi rojiun. Gimana mau jadi pemimpin/penguasa jika dimenangkan dengan hasil kecurangan, bahkan menurut Rektor Umsida/Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Jawa Timur, Prof Dr Hidayatulloh MSi menyebutkan ada 7 ciri pemimpin dalam Islam, diantaranya:

Yang pertama, pemimpin dalam Islam harus memiliki sifat Siddiq (benar), Amanah (dapat dipercaya), Tabligh (menyampaikan), dan Fathonah (cerdas). Sifat itu berkaca pada empat sifat baik yang dimiliki Rasululloh dalam memimpin umatnya.

Yang kedua yakni pemimpin harus memiliki visi yang jelas. Karena dengan visi itulah yang nantinya mampu memberi petunjuk dengan benar. Rektor Umsida tersebut merujuk pada surat As Sajadah ayat 24 yang artinya: Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka sabar. Mereka meyakini ayat-ayat Kami.

Dr. Hidayatulloh mengutip salah satu kalimat yang pernah dikatakan oleh John C Maxwell, “Kepemimpinan merupakan suatu tindakan, bukan sebuah jabatan, “A leader is one who knows the way, shows the way, and goes the way”. Pemimpin yang baik adalah mereka yang memiliki jiwa kepemimpinan. Jiwa kepemimpinan adalah sifat manusia yang mempengaruhi dan mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan bersama. Pemimpin yang etis memiliki pengaruh positif bagi orang-orang yang dipimpinnya.”

Ciri pemimpin dalam Islam yang ketiga adalah kuat amanah ahli dan adil. Rektor Umsida itu merujuk pada QS. An-Nisa ayat 58 yang menjelaskan bahwa Alloh  memerintahkan manusia untuk menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, menetapkan hukum di antara manusia dengan adil, memerintahkan kaum muslim untuk menaati putusan hukum, yang secara hirarkis dimulai dari penetapan hukum Alloh, dan Alloh  melarang manusia untuk memihak atau zalim dalam memutuskan perkara.

Ciri yang Keempat, Pemimpin dalam Islam tidak boleh dzalim. Sebagaimana telah tercantum dalam surat Al-Baqarah ayat 124. Ayat ini menjelaskan bahwa kepemimpinan tidak terkait dengan keturunan, kelompok, dan agama. Alloh  menegaskan bahwa kepemimpinan itu harus jatuh pada orang yang tepat dan kompeten.

Nah Yang Kelima cirinya, Seorang pemimpin harus memiliki kebijakan yang benar dan tidak mengikuti hawa nafsu yang sesuai dengan surat Shad ayat 26. Ayat ini mengingatkan Nabi Daud agar menjadi penegak hukum yang tidak mengikuti hawa nafsu. Ayat ini juga menunjukkan bahwa seorang pemimpin harus bersikap adil, amanah, dan mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi.

Ciri pemimpin dalam Islam yang keenam, adalah orang yang tentunya harus dekat kepada Allah dan Rasulnya. Hal ini tertuang dalam surat An Nisa ayat 59. Artinya, ketika terjadi perbedaan pendapat dalam suatu perselisihan, manusia harus berkaca pada Alquran dan Sunnah serta ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh Ulil Amri sepanjang mereka tidak menyuruh untuk berbuat maksiat.

Yang terakhir yakni ketujuh, membangun tim yang kuat sesuai dengan surat As shaff ayat 4 dan Al Imran ayat 103. Dalam ayat ini, Alloh memerintahkan kepada kaum muslimin untuk menjaga persatuan dan kesatuan, memerintahkan orang mukmin untuk mengajak manusia kepada kebaikan, menyuruh perbuatan Ma’ruf dan mencegah perbuatan Munkar (amal ma’ruf nahi munkar).

Hasbunalloh Wanikmal wakil Nikmal Maula Wanikman Nasir, Barokallohu’ fiikum. (Al Ustadz Dr. Abu Fayadh Muhammad Faisal Al Jawy al-Bantani, S.Pd, M.Pd, Gr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *