Idul Fitri 1445 H; Antara Kegembiraan, Penderitaan, dan Harapan akan Masa Depan Gemilang

Umum182 Dilihat

Oleh Al Ustadz Dr. Abu Fayadh Muhammad Faisal Al Jawy al-Bantani, S.Pd, M.Pd, Gr

Khutbah Pertama

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ اَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَتًا وَاَصِيْلاً، لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ. اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ جَعَلَ هَذَ الْيَوْمِ عِيْداً لِلْمُسْلِمِيْنَ وَحَرَّمَ عَلَيْهِمْ فِيْهِ الصِّياَمَ، اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ نَزَّلَ الْقُرْآنَ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّناَتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانَ، نَحْمَدُهُ وَنَشْكُرُهُ عَلَى نِعَامِهِ وكَمَالِ اِحْسَانِهِ وَهُوَ ذُو الْجَلاَلِ وَاْلإِكْراَمِ.

اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهِ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ. وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ خَيْرَ اْلأَناَمِ.

اَللَّهُمَّ صَلِّيْ وَسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحاَبِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُ بِإِحْسَانٍ وَدَعاَ اِلَى اللهِ بِدَعْوَتِهِ، وَمَنْ جاَهَدَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ حَقًّ جِهاَدِهِ اِلَى دَارِ السَّلاَمِ.

فَيَا عِبَادَ اللهَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِياَّيَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِه الْكَرِيْمِ: ﴿يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾.
اَمَّا بَعْدُ:

Allohu akbar, Allohu akbar, Allohu akbar, wa lilLâhil hamdu.
Ma’âsyiral Muslimîn Rahimahulloh.

AlhamdulilLaahi Rabbil ‘aalamiin. Segala pujian hanya milik Alloh, Rabb semesta alam. Shawalat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan alam, Baginda Nabi Muhammad. Juga kepada keluarganya yang mulia, para Sahabatnya yang utama, serta siapa saja yang setia mengikuti beliau hingga akhir masa.

Allohu akbar, Allohu akbar, Allohu akbar, wa lilLâhil hamdu.
Ma’âsyiral Muslimîn Rahimahulloh.

Idul Fitri identik dengan Hari Kebahagiaan, terutama bagi orang-orang yang menunaikan puasa sepanjang bulan Ramadhan atas dasar iman dan dorongan mendapatkan ridha-Nya, imân[an] wa ihtisâb[an]. Mereka inilah yang pantas merayakan kebahagiaan, sebagaimana sabda Baginda Nabi Muhammad.
«لِلصَّائِمِ ‌فَرْحَتَانِ؛ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ»
Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan: kebahagia saat berbuka puasa dan kebahagiaan saat berjumpa dengan Rabb-nya (HR. al-Bukhari dan Muslim, dengan lafadz Muslim).

Allohu akbar, Allohu akbar, Allohu akbar, wa lilLâhil hamdu.
Ma’âsyiral Muslimîn Rahimahulloh.

Meskipun demikian, saat ini kita tidak bisa merasakan kegembiraan secara utuh. Bagaimana kita bisa bergembira, sementara umat ini terus diselimuti oleh aneka ragam duka yang menyayat hati. Inilah yang terjadi sejak runtuhnya Khilafah dan Kapitalisme global mendominasi dunia.

Tengoklah kondisi Palestina, khususnya Gaza, hari ini. Lebih dari 32 ribu nyawa kaum Muslim di sana melayang akibat serangan militer entitas Yahudi. Sekitar 7.000 lainnya masih tertimbun di bawah reruntuhan bangunan. Sebagian besar dari para korban tersebut adalah anak-anak dan kaum perempuan.

Akibat dari serangan kaum Yahudi itu, hampir dua juta warga Gaza telah kehilangan rumah-rumah mereka. Menurut WHO, hampir 80% atau 160.000 infrastruktur hancur lebur. Ribuan rumah, ratusan rumah sakit dan sekolah, masjid, kampus, sumber air dan fasilitas sanitasi rusak parah. Diperkirakan butuh puluhan miliaran dolar AS, juga butuh lebih 70 tahun, untuk memulihkan Gaza menjadi seperti sediakala. Kini, sebagian besar mereka harus menjadi pengungsi dan tinggal di perbatasan Gaza dan Mesir yang luasnya hanya sekitar 3,5 km atau seluas 500 lapangan sepak bola.

Di samping terus terancam oleh serangan bom dan keganasan tentara Yahudi, mereka juga terancam kelaparan yang mengakibatkan kematian. Karena tiadanya makanan, sebagian mereka sering terpaksa makan rerumputan dan memakan pakan hewan. Karena kehausan, mereka harus minum dari air kotor yang tergenang di jalanan.

Penting dicatat dari tragedi di Palestina ini, baik di Gaza maupun Tepi Barat, adalah bahwa genosida ini tidak terjadi hanya saat 7 Oktober saja. Genosida telah berlangsung sejak tahun 1948. Sejak entitas Yahudi merampas dan menduduki tanah Palestina secara ilegal hingga saat ini. Sejak saat itu, selama 76 tahun, hingga hari ini, sekitar 5,9 juta warga Palestina secara keseluruhan berstatus pengungsi, dan setiap saat berada dalam ancaman kaum Yahudi.

Melihat mereka yang terus menderita, bagaimana kita bisa bergembira dan berbahagia?

Allohu akbar, Allohu akbar, Allohu akbar, wa lilLâhil hamdu.
Ma’âsyiral Muslimîn Rahimahulloh.

Yang lebih menyakitkan, para penguasa di negeri-negeri Islam, khususnya para pemimpin Arab, sampai saat ini tetap bergeming. Mereka seolah tuli dan buta. Derita kaum Muslim Palestina yang begitu luar-biasa, tak sedikit pun menyentuh hati dan mengusik rasa kemanusiaan mereka.

Sebagian besar mereka hanya melayangkan kutukan dan kecaman. Itu pun penuh kepura-puraan dan sekadar pencitraan agar dianggap punya kepedulian. Sebagian pemimpin Muslim lainnya bahkan tetap bergandeng tangan dengan entiras Yahudi itu. Padahal tangan Yahudi durjana itu masih berlumuran darah ribuan para syuhada, juga puluhan ribu Muslim yang terluka.

Allohu akbar, Allohu akbar, Allohu akbar, wa lilLâhil hamdu.
Ma’âsyiral Muslimîn Rahimahulloh.

Menyaksikan semua derita kaum Muslim Palestina yang amat menyakitkan ini, sepantasnya kita bertanya: Di mana ukhuwah Islamiyah yang sering disuarakan? Bukankah semua kaum Muslim bersaudara, sebagaimana firman-Nya:
﴿ اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ ﴾
Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara (QS. al-Hujurat [49]: 10).

Kita pun layak bertanya: Manakah hasil dari ibadah puasa kaum Muslim selama Ramadhan? Bukankah puasa Ramadhan seharusnya membuat para pelakunya menjadi orang-orang yang bertakwa? Bukankah salah satu ciri takwa tercermin dalam kecintaan dan kepedulian kepada sesama saudara?

Banyak nash yang menuntut setiap Muslim untuk mempedulikan dan menolong saudara-saudaranya sesama Muslim di mana pun dan kapan pun. Rasululloh Muhammad, misalnya, bersabda:
«‌مَثَلُ ‌الْمُؤْمِنِينَ ‌فِي ‌تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى»
Perumpamaan kaum Mukmin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan bahu-membahu seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Rasululloh  pun bersabda:
«لْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ ‌وَلَا ‌يُسْلِمُهُ، ‌وَمَنْ ‌كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللهُ فِي حَاجَتِهِ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»
Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Dia tak boleh menzalimi saudaranya dan membiarkan saudaranya itu (dizalimi). Siapa saja yang memenuhi kebutuhan saudaranya. Alloh akan memenuhi kebutuhannya. Siapa saja yang menghilangkan satu kesulitan saudaranya (di dunia), Alloh akan menghilangkan satu kesulitan dari dirinya pada Hari Kiamat (HR. al-Bukhari).

Berdasarkan nas-nas tersebut, jelas tidak sepantasnya kaum Muslim berdiam diri dan berpangku tangan, serta tidak mempedulikan saudaranya. Termasuk saudara-saudara Muslim di Palestina yang telah lama menderita.

Allohu akbar, Allohu akbar, Allohu akbar, wa lilLâhil hamdu.
Ma’âsyiral Muslimîn Rahimahulloh.

Umat Muslim jelas bukan minoritas di dunia ini. Mereka telah menjadi mayoritas penduduk bumi ini. Jumlah kaum Muslimin di seluruh dunia mencapai lebih dari 2 miliar jiwa. Itu berarti 25 persen dari jumlah penduduk dunia. Mereka tersebar di 53 negeri Muslim. Juga ada jutaan Muslim yang tersebar di berbagai negeri non-Muslim, seperti di benua Eropa ataupun di Amerika Serikat.

Berbicara kekuatan militer pun, yang seharusnya dapat digunakan melindungi kaum Muslim di berbagai belahan dunia, sejumlah negeri Muslim masuk klasifikasi negara dengan kekuatan militer terkuat di dunia. Menurut pemeringkatan oleh Global Fire Power pada tahun 2023, ada empat negeri Islam masuk dalam jajaran 20 besar yakni: Pakistan, Turki, Indonesia, Mesir dan Iran.

Namun, jumlah yang banyak dan pasukan yang sangat kuat, tak bisa menahan berbagai tekanan dan intimidasi dari negara-negara kafir penjajah. Faktanya, hari ini umat Muslim justru menjadi pesakitan, terintimidasi, dan teraniaya secara fisik. Bahkan sebagian terusir dari negerinya sendiri. Keadaan ini sudah diperingatkan oleh Nabi Muhammad ﷺ. Kata beliau, mereka ini seperti buih di lautan (HR. Abu Dawud).

Ma’âsyiral Muslimîn Rahimahulloh.

Keadaan umat Islam semacam ini tentu tak boleh kita biarkan. Umat Islam harus bangkit. Kaum Muslim harus kembali menjadi umat terbaik. Sebabnya, itulah jatidiri dan karakter asli umat Baginda Nabi Muhammad ﷺ sebagaimana disebutkan dalam firman Alloh :
﴿ كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ ﴾
Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (selama) kamu menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Alloh  (QS. al-Quran (QS. Ali Imran [3]: 10).

Predikat umat terbaik tentu hanya dimiliki oleh kaum Muslim yang bertakwa. Takwa sendiri adalah hikmah yang semestinya terwujud pada diri setiap Muslim yang berpuasa selama Bulan Ramadhan. Demikian sebagaimana firman-Nya:
﴿ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ﴾
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana puasa itu telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa (QS. al-Baqarah [2]: 183).

Ma’âsyiral Muslimîn Rahimahulloh.

Ketakwaan adalah ketaatan secara total pada syariah Alloh, baik menyangkut hukum-hukum yang mengatur kehidupan individu dan kehidupan privat, maupun hukum-hukum yang mengatur kehidupan publik, bermasyarakat, dan bernegara. Ketakwaan total semacam ini hanya bisa terwujud dengan adanya Khilafah Islam atau Imamah. Sebab, hukum-hukum yang mengatur kehidupan publik, bermasyarakat, dan bernegara tidak bisa dijalankan kecua;i oleh Imam atau Khalifah.

Patut ditegaskan, menegakkan Khilafah Islam dengan cara mengangkat seorang khalifah bagi kaum Muslim sedunia adalah kewajiban syariah. Rasululloh bersabda:
«وَمَنْ ‌مَاتَ ‌وَلَيْسَ ‌فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً»
Siapa saja yang mati dan di pundaknya tidak ada baiat, maka dia mati dengan kematian jahiliah (HR. Muslim).

Karena itu eksistensi Khilafah Islam dan keberadaan seorang khalifah bagi kaum Muslim sedunia adalah wajib. Ini juga merupakan ijma’ yang telah disepakati oleh para ulama dan kaum Muslimin. Imam Nawawi Rahimahulloh berkata:
«وَأَجْمَعُوا عَلَى أَنَّهُ يَجِبُ عَلَى الْمُسْلِمِينَ نَصْبُ خَلِيفَةٍ وَوُجُوبُهُ بِالشَّرْعِ لَا بِالْعَقْلِ وَأَمَّا مَا حُكِيَ عَنِ الْأَصَمِّ أَنَّهُ قَالَ لَا يَجِبُ وَعَنْ غَيْرِهِ أَنَّهُ يَجِبُ بِالْعَقْلِ لَا بِالشَّرْعِ فَبَاطِلَانِ»
Dan mereka bersepakat bahwa wajib bagi kaum muslimin untuk mengangkat khalifah dan kewajibannya karena syara’ bukan karena akal. Adapun yang dikatakan oleh al Asham (orang yang tuli dalam agama) bahwa itu tidak wajib atau yang dikatakan lainnya bahwa kewajiban itu berasal dari akal bukan karena syara’, maka perkataan keduanya adalah batil. (Syarah Nawawi ala Muslim, 12/205).

Di sisi lain, Imam atau Khalifah, tidak boleh lebih dari satu bagi kaum Muslim sedunia. Imam Ibnu Katsir (w. 774 H) menyatakan:
«‌فَأَمَّا ‌نَصْبُ ‌إِمَامَيْنِ فِي الْأَرْضِ أَوْ أَكْثَرَ فَلَا يَجُوزُ»
Pengangkatan dua imam (Khalifah) atau lebih di muka bumi itu tidak boleh terjadi (Abu al-Fida’ Ismail bin Umar bin Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-Azhîm, 1/222).

Dengan demikian ketakwaan secara kaffah hanya itu terwujud dengan adanya Khilafah Islam yang menerapkan dan menjalankan syariah secara kaffah dan menyatukan kaum Muslim seluruh dunia dalam satu kepemimpinan.

Ketika hal ini terwujud, maka kita pun layak mengharapkan janji Alloh  berupa diturunkannya keberkahan dan kemenangan kepada kaum Muslim atas semua penganut agama dan ideologi lain.

Allohu akbar, Allohu akbar, Allohu akbar, wa lilLâhil hamdu.
Ma’âsyiral Muslimîn Rahimahulloh.

Itulah sebabnya keberadaan Khilafah Islam mutlak dibutuhkan. Wajib secara hukum syariah. Mendesak secara realitas politik. Tanpa Khilafah Islam, umat bak anak ayam kehilangan induknya. Mereka tanpa perlindungan sama sekali. Inilah yang terjadi hari ini. Salah satunya dialami oleh Muslim Palestina sejak puluhan tahun lamanya. Juga dialami oleh Muslim Xingjiang, Muslim Arakan-Rohingnya, Muslim India, dll. Karena itu benarlah sabda Nabi Muhammad :
« إِنَّمَا ‌الْإِمَامُ ‌جُنَّةٌ، ‌يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ »
Sungguh Imam/Khalifah adalah perisai; orang-orang berperang di belakang dirinya dan menjadikan dia sebagai pelindung (HR. Muslim).

Karena itu, satu abad lebih dunia tanpa Khilafah ala’ Minhajin Nubuwah (Khilafah ISLAM), bagi umat Islam ini adalah sejarah kelam. Pasalnya, sebelumnya, di era Khilafahlah lebih 13 abad umat Islam pernah memimpin dunia. Namun, saat ini umat Islam berada dalam kondisi yang paling terpuruk. Tidak ada satu kawasan pun di belahan bumi ini di mana umat Islam tidak terpojok, terasingkan dan terdiskriminasi.

Allohu akbar, Allohu akbar, Allohu akbar, wa lilLâhil hamdu.
Ma’âsyiral Muslimîn Rahimahulloh.

Namun demikian, sebagai Muslim yang bertakwa, kita harus tetap punya harapan. Kita harus tetap optimis menatap masa depan. Kita harus tetap yakin bahwa masa depan gemilang sesungguhnya milik Islam dan kaum Muslim. Alloh tegas berfirman dalam al-Quran:
﴿ وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى الْاَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْۖ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِيْنَهُمُ الَّذِى ارْتَضٰى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ اَمْنًاۗ ﴾
Alloh telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih di antara kalian, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa; akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai untuk mereka; dan akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan, menjadi aman sentosa… (QS. an-Nur [24]: 55).

Alloh  pun berfirman:
﴿ هُوَ الَّذِيْٓ اَرْسَلَ رَسُوْلَه بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَه عَلَى الدِّيْنِ كُلِّه وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ﴾
Dialah Yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (al-Quran) dan agama yang benar untuk Dia menangkan atas segala agama, walaupun kaum musyrik tidak menyukai (QS. at-Taubah [9]: 33).

Ayat ini memastikan kemenangan Islam atas seluruh agama dan ideologi. Dan itu hanya tejadi ketika kaum muslimin memiliki kekuasaan. itulah yang disyaratkan dalam Hadits. Dari Tsauban, Rasululloh  bersabda:
« إن الله زوى ليَ الأرض فرأيتُ مَشَارِقَها ومَغَارِبَها، وإن ‌مُلْكَ ‌أُمتي سيبلُغُ ما زُوِيَ لي منها»
Sesungguhnya Alloh melipatkan bumi untukku, maka aku telah melihat bagian barat dan bagian timurnya. Sesungguhnya kekuasaan umatku akan mencapai semua bagian yang dilipatkan bagiku darinya (HR. Abu Dawud dan Ahmad).

Kekuasaan itu tak lain adalah Khilafah Islam (Khilafah ala’ Minhajin Nubuwah), yang akan segera kembali, insya Alloh ﷻ, sebagaimana diberitakan dalam Hadits Nabi Muhammad  :
« ثُمَّ تَكُونُ ‌خِلَافَةً ‌عَلَى ‌مِنْهَاجِ ‌نُبُوَّةٍ »
Kemudian akan ada lagi Khilafah yang mengikuti manhaj Kenabian. (HR Ahmad).

Selain itu, Alloh  telah menetapkan ajal (tenggat waktu) bagi setiap umat. AS, Inggris, Prancis, Cina, Rusia, Jerman, dan lain-lain mempunyai ajal, yang tidak bisa dielakkan. Semakin ke sini, ajal mereka semakin dekat. Alloh berfirman:
﴿ وَلِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌۚ فَاِذَا جَاۤءَ اَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ ﴾
Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu. Jika telah datang batas waktunya, mereka tidak dapat mengundurkan batas waktu tersebut barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya (QS. al-A’raf [7]: 34).

Maka dari itu, kewajiban kita adalah terus menguatkan keyakinan, dan berjuang semata-sama karena Alloh, tanpa lelah. Bersabar di jalan dakwah, sebagaimana kesabaran Nabi Muhammad bin Abdullah ﷺ. dan para Sahabat, sampai Alloh  memenangkan urusan-Nya melalui tangan-tangan mereka.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ آمِيْن.ْ

Khutbah Kedua

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ.

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ.

الحمد لله الذي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ. اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ كَرَّمَ هَذهِ الأُمَّةَ بِشَريِعْتَهِ اِلكْاَملِة،ِ وخَصَّ بهِاَ بنِبُوُةِّ نَبِيِّهِ اِلْكَرِيِمَةِ، و اَعَزّهَا بِالْخِلاَفَةِ الرَّاشِدَةِ. عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ.

اَشْهَدُ اَنَّ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَا بَعْدَهُ، اَرْسَلَهُ بِرِسَالَتِهِ الْقُدْسِيَّةِ وَاَحْكَامِهِ الشَّرِيْفَةِ لِمُعَالَجَةِ كُلِّ مُشْكِلَةِ الْحَيَاةِ.

فَيَا اَيُّهاَ الْمُؤْمِنُوْنَ، تَمَسَّكوا بِاْلإِسْلاَمِ فِي كُلِّ حِيْنٍ، وَ اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَ لاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَ أَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

اَمَّا بَعْدُ:

Allohu akbar, Allohu akbar, Allohu akbar, wa lilLâhil hamdu. Ma’âsyiral Muslimîn Rahimahulloh

Marilah kita berdo’a dan sebelum berdo’a Khatib/Penulis mengingatkan jangan lupa selepas Iedul Fitri ini di lanjutkan dengan Shaum/Puasa Syawwal karena Rasululloh Bersabda: “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164).
Dari hadits tersebut, Al Allamah Syeikhuna Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin Rahimahulloh Ta’ala berkata, “Yang disunnahkan adalah berpuasa enam hari di bulan Syawal”. (Syarhul Mumti’, 6: 464). Dan puasa Syawwal boleh berurutan atau ngacak yang penting dilaksanakan pada Bulan Syawwal, dan Tidak lupa Khatib/Penulis mengucapkan: *Taqaballallohu’ Minna Wa Minkum, Syi’amana WA Syi’amakum, Selamat Berlebaran*, dan marilah kita memohon dan bermunajat kepada Alloh. Semoga Alloh mengabulkan permohonan kita. Semoga Alloh memberi kita kesabaran dan keikhlasan, menguatkan ketaatan kita, melanggengkan ketakwaan kita dan meneguhkan kita untuk tetap istiqamah di jalan-Nya.

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: ﴿إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلىَ آلِهِ وَذُرِيَّاتِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ حَمْدًا شَاكِرِيْنَ حَمْدًا نَاعِمِيْنَ حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَامَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِوَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ.

اللّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَ لِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَ صِغَارًا. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ الأَمْوَاتِ، إِنّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ، فَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي اِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.

اللّهُمَّ اجْعَلْ عَمَلَنَا عَمَلًا صَالِحًا مُتَقَبَّلًا، مُوَافِقًا بِأَحْكَامِكَ وَخَالِصًا لِوَجْهِكَ

اَللّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صَلاَتَنَا وَصِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَكُلَّ أَعْمَالِنَا الصَّالِحَاتِ، وَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَاعْفُوْا عَنَّا تَقْصِرَاتَنَا وَارْحَمْنَا بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ اِنَّا نَسْئَلُكَ سَلَامَةً فِيْ الدِّيْنِ، وَعَافِيَةً فِيْ الْجَسَدِ، وَزِيَادَةً فِيْ الْعِلْمِ، وَبَارَكَةً فِيْ الرِّزْقِ، وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ، وَرَحْمَةً عِنْدَ الْمَوْتِ، وَمَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ، اَللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا فِيْ سَكَرَةِ الْمَوْتِ، وَنَجَاةً مِنَ النَّارِ، وَعَفْوًا عِنْدَ الْحِسَابِ.

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِيْنُكَ وَنَسْتَغْفِرُكَ وَلاَ نَكْفُرُكَ، وَنُؤْمِنُ بِكَ وَنَخْلَعُ مَنْ يَفْجُرُكَ. اَللَّهُمَّ عَذِّبِ الْكَفَرَةَ الذِّيْنَ يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ، وَيُكَذِّبُوْنَ رُسُلَكَ، وَيُقَاتِلُوْنَ أَوْلِيَاءَكَ.

اَللَّهُمَّ يَا مُنْزِلَ الْكِتَابِ وَمُهْزِمَ اْلأَحْزَابِ، إِهْزِمِ الْيَهُوْدَ وَاَعْوَانَهُمْ وَصَلِيِبِّيْنَ وَاَنْصَارَهُمْ وَرَأْسَمَالِيِيْنَ وَاَعْوَانَهُمْ وَاِشْتَرَاكِيِيْنَ وَشُيُوْعَهُمْ.

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَاقْتُلْ مَنْ قَاتَلَ وَقَتَلَ الْمُسْلِمِيْنَ

اَللَّهُمَّ أَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَالْمُنَافِقِيْنَ واَلْفَاسِقِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ

اَللَّهُمَّ ارْحَمْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أُمَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

اَللَّهُمَّ أَنْجِزْ لَنَا مَا وَعَدْتَنَا عَلَى رَسُوْلِكَ بِعَوْدَةِ دَوْلَةِ الْخِلاَفَةِ الرَّاشِدَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ، تُعِزُّ بِهَا اْلإِسْلاَمَ وَاَهْلَهُ، وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَاِجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لِإِقَامَتِهَا، بِإِذْنِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

ربَنَّاَ ظَلمَنْاَ أنَفْسُناَ واِنْ لمْ تَغَفْرِلْنَاَ وتَرَحْمنْاَ لَنَكُوْنَناَّ مِنَ الْخاَسِريِنَ

رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا اِنْ نَسِيْنَا اَوْ اَخْطَأْنِا، رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُوْا عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا اَنْتَ مَوْلاَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، ربنا تقَبَّلْ منِاَّ وَاسْتَجِبْ دُعَائنَاَ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْع العْلَيِمْ وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.

وَسُبْحَانَكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ. (Penulis adalah S3 Doktor PAUD UPI Bandung, Anggota ICMI ORDA Kota Bekasi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *