Seandainya Aku Ustad Syaikhu…

Opini358 Dilihat

SELEPAS lempar jumroh di Mina, semua rombongan kembali ke Hotel Al Kiswah di Kota Suci Makkah untuk melaksanakan tawaf ifadah, Selasa (18/6/2024) tak terkecuali aku dan rombongan KBIHU Maulana Azhari dari Kayuringin Kota Bekasi.

Berangkat pukul 10.00 dan sampai di hotel saat Dhuhur tiba karena begitu macetnya perjalanan. Sore hari jelang Maghrib semuanya berangkat ke Masjidil Haram untuk menunaikan tawaf ifadah. Sedangkan besoknya pukul 09.00 adalah rombongan lansia, berisiko tinggi, dan punya penyakit lainnya yang melaksanakan tawaf ifadah.

Nah, aku masuk kategori kedua karena kaki kananku sakit. Yang pasti, seperti kategori pertama, semua pelaksanaan dari Mina hingga Masjidil Haram membutuhkan fisik yang prima, apalagi kami menuntaskannya hampir menjelang Ashar. Hampir lima jam lho saking banyaknya umat manusia yang ingin melaksanakan tawaf ifadah.

Di sinilah cerita itu dimulai, yakni ketika sampai di hotel badanku terasa letih dan kecapean sehingga langsung tertidur lelap hingga waktu Maghrib. Dalam tidurku, aku tiba-tiba bermimpi menjadi Ustad Syaikhu yang merupakan orang nomor satu di PKS yang menjabat sebagai presiden.

Karena posisiku sebagai presiden, aku bisa berbuat apa saja, termasuk menjadi Walikota Bekasi pada Pilkada 2024 karena sebelumnya aku adalah Wakil Walikota Bekasi di era Rahmat Effendi. Tentunya setelah lolos lewat Dewan Syuro PKS.

Ketika aku mendaftar jadi calon walikota, semua calon lain habis kulibas. Tak ada itu yang namanya Mochtar Mohamad, Tri Adhianto, apalagi calon lain yang mau ikut-ikutan cari popularitas semata. Semua keok, semua ketakutan ketika nama ku muncul ke permukaan.

Apakah aku tidak malu dari Presiden PKS turun jadi Walikota? Oh…tidak. Sebab dulu pun ada dari seorang menteri asal PKS jadi Walikota Depok, Ustad Nur Mahmudi. Kenapa harus malu, ini adalah biasa. Toh inilah yang namanya politik. Bukankah aku putra Bekasi kelahiran Cirebon. Aku sudah pernah berjibaku di DPRD Kota Bekasi juga. Merasakan jadi cawagub Jabar pun sudah kendati gagal.

Aku sudah hapal betul luar dalamnya Kota Bekasi. Aku pun sudah tahu siapa saja langganan pemegang proyek di Kota Bekasi. Dan Kota Bekasi tidak bakal maju di bidang apapun karena dipegang oleh orang-orang yang punya kepentingan besar di dalamnya, terutama uang.

Niatku hanya satu, aku datang untuk menyelamatkan Kota Bekasi yang jadi rebutan ‘sampah’ masyarakat. Benar kan kawan?

Tapi sayang, itu hanya mimpiku di lantai 26 kamar 28 Hotel Al Kiswah Mekkah. Kendati demikian, aku tetap berharap dan berdoa; Semoga Kota Bekasi punya pemimpin yang amanah. Insya Allah. (Zulkarnain Alfisyahrin, Wartawan dan Dosen di Kota Bekasi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *