Soal Usia, Kepemimpinan dan Sepakbola

by -3,530 views

GABRIAL Boric, menjadi presiden termuda dunia yang terpilih secara demokratis. Saat dilantik pada 11 Maret 2022 sebagai Presiden Chili, Boric berusia 36 tahun. Sebaliknya Dr Mahathir Mohamad, menjadi pemimpin pemerintahan tertua di dunia saat dilantik sebagai PM Malaysia pada 10 Mei 2018. Saat itu Dr M berusia 93 tahun 10 bulan. Joe Biden dilantik menjadi presiden negara super power AS pada 20 Januari 2021 saat berusia 78 tahun.
Presiden FIFA (1921-1954) terlama Jules Rimet mulai menjabat usia 48 hingga 81 tahun. Joao Havelange menjadi presiden FIFA (1974-1998) usia 58 hingga 82 tahun. Sepp Blatter memimpin FIFA (1998-2015) usia 62 sampai 79 tahun.

Pemain Argentina, Luka Romero, adalah pemain profesional termuda. Dia berusia 15 tahun saat resmi memperkuat klub La Liga, Real Mallorca, musim 2019/2020.
Sebaliknya, mantan andalan timnas Jepang (1990-2000) Kazuyoshi Miura, menjadi pemain profesional tertua. “King Kazu” berusia 55 tahun saat resmi memperkuat klub liga 4 Jepang, Suzuka Point Getters, untuk musim 2022-2023.
Ellie Carpenter, pemain timnas wanita termuda. Dia baru berusia 15 tahun saat memperkuat timnas Australia pada 2015. Carpenter juga menjadi pemain wanita termuda yang bermain di Olimpiade (Rio 2016).
Meskipun rekor Carpenter ini sebetulnya masih kalah dari pemain timnas wanita Indonesia, Helsya Maeisyaroh. Helsya baru berusia 14 tahun ketika dipanggil masuk timnas Garuda Pertiwi oleh pelatih Rully Nere pada 2019.
Sementara pemain timnas wanita tertua adalah Formiga. Dia berusia 41 tahun saat memperkuat Brasil di Piala Dunia 2019.
Wajar jika orang mengatakan: usia hanyalah soal angka.

Sedikit fakta di atas memberi penjelasan sekaligus pencerahan kepada kita bahwa usia tidaklah otomatis menjadi halangan untuk memperlihatkan kualitas diri seseorang. Bahwa kepemimpinan di level dunia pun berada dalam rentang usia bervariasi. Termasuk dalam kepemimpinan di organisasi sepakbola. WHO menetapkan rentang usia produktif manusia adalah: 15 – 64 tahun.

Kapasitas kepemimpinan bukanlah soal usia. Karena pemimpin sejatinya adalah penunjuk jalan dan pemberi optimisme. Selama dia sehat jasmani dan rohani, maka yang bisa menentukan capaiannya sebagai pemimpin adalah: kualitas. Di dalamnya tentu ada leadership, wawasan, spirit, kecerdasan, pengalaman, keberanian, visi maupun inovasi. “Inovasi membedakan antara pemimpin dan pengikut” (Steve Jobs).
Jadi kontestasi dengan menggunakan pendekatan usia atau generasi, kuranglah relevan. Apalagi hakekat kontestasi adalah pemberian kesempatan yang sama kepada semua pihak.
Mungkin kontestasi berlandaskan pemetaan program kerja, akan jauh lebih berfaedah (misalnya) bagi sepakbola Indonesia.
Bagaimana pemetaan program yang lebih fokus, terukur dan implementatif. Baik jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang.
Semuanya teritengrasi secara efektif dalam pola pengelolaan organisasi federasi, pengelolaan kompetisi dan pengelolaan tim nasional.
(Agus Liwulanga, wartawan senior dan pengamat sepakbola)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.