Gerakan Literasi Santri Nusantara; Pembangkit Spirit Peradaban Literasi Islam

by -285 views

Penulis: Yoni Haris Setiawan

(Direktur/Motivator Literasi PPQM Lembaga TEMALI)

STAGNANNYA Santri dari berkarya produktif menjadikan literasi Islam tergerus oleh zaman. Tembok-tembok yang membatasi berliterasi segera dibongkar. Kini saatnya para Santri bangun membangkitkan kembali meneruskan ruh-ruh berjilid-jilid tinta mahakarya cendekiawan muslim yang menjadi peradaban literasi dunia.

Penyelenggaraan Pelatihan dan Lokakarya (PENALOKA) Nasional Literasi Berbasis Produk Bagi Santri, Ahad (10/10/2021) via zoom meeting. Fokus pelatihan pada penulisan artikel, reportase, puisi, tafsir ayat, dan kaligrafhi. Hal ini merupakan momentum sejarah di 2021 bagi Santri Amalul Ummah untuk membangkitkan dan menumbuhkembangkan literasi Islam.
PENALOKA digagas Quruta Management Lembaga Training dan Edukasi Literasi Indonesia berkolaborasi dengan Pondok Pesantren Amalul Ummah Kabupaten Serang Banten, dalam rangka Pencanangan dan Peluncuran Program Gerakan Literasi Nusantara, dengan mengusung jargon Qalam Santri Merangkai Indonesia dan Dunia.

Program GLSN yang digagas/dilahirkan dalam rangka menyambut Rabiul Awwal 1443 H tepat hari Lahirnya Nabi Muhammad SAW, dan Peringatan Hari Santri Nasional yang jatuh pada 22 Oktober 2021.
Tujuan pelatihan yaitu memberikan pemahaman program dan kegiatan literasi secara berkesinambungan; mendorong dan menumbuhkembangkan daya nalar, menulis dan membaca warga pondok pesantren khususnya santri; merintis dan pengembangan literasi santri sesuai dengan aturan yang berlaku; dan pengembangan karya literasi berbasis produk di pondok pesantren.

Selain itu, yang terpenting membangkitkan–melanjutkan kembali peradaban literasi Islam yang telah dicontohkan para Nabi/Rasul, Sahabat-sahabat Nabi/Rasul, Imam. Ulama, Kyai, Asatidz terdahulu dengan menghasilkan berjilid-jilid mahakarya literasi.
Pelatihan yang diikuti khusus para Santri Pondok Pesantren Amalul Ummah sebanyak 20 orang, dan dari Pontren Darun Na’im YAPIA Parung yang diwakili Nurlaelah (Bidang Pengasuhan Santri), serta Santi Ramadhani (Korwil QM Sumatera 1). Dari awal sampai akhir dipandu Ahmad Fathul Najmi. Para santri didampingi ustadz/ustadzah yaitu M Aminudin, Saeful Firdaus, Muhammad Rifa’i, dan Siti Nurjanah. Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan ayat Alquran yang dikumandangkan Santri Khairil Mubtadi. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan-sambutan dan paparan para narasumber.

Pimpinan Pondok Pesantren, Fajar Suryani dalam sambutannya menyampaikan bahwa literasi Islam telah ada sejak para Nabi dan Rasul diutus Allah Swt, untuk menyebarkan ajaran kebenaran kepada umat manusia. Malaikat Jibril yang diperintahkan Allah Swt untuk menyampaikan wahyu dan mukjizat kepada para Nabi/Rasul adalah tonggak pertama manusia diajarkan untuk membaca. Selain itu, para imam dan ulama terdahulu merupakan ahli tahfidz, siasah, penemu-penemu dasar-dasar dan pengembangan disiplin ilmu pengetahuan, yang paling dahsyat ialah penulis–penyusun kitab/buku yang sampai saat ini karya-karyanya menjadi referensi di dunia.
“Untuk itulah, kegiatan ini sangat penting bagi santri berkreasi dalam literasi, Saya tantang para Santri Amalul Ummah untuk berkarya, akan dikasih reward (dinnar) sesuai timbangan berat bukunya. Semoga di Pontren Amalul Ummah lahir penulis, mujahid literasi secara berkala, ” urai Fajar.
Sementara pada sambutan berikutnya, Abdul Haris Nufika (Pengawas The YAQINNA Foundation) menyampaikan bahwa literasi secara luas adalah pengejawantahan dari membaca, menulis, menganalisis, ketajaman daya nalar terhadap keadaan alam semesta dan segala isinya. Lebih lanjut Ia mengemukakan, ada empat hal tentang literasi.

Pertama, mampu membaca (buku/kitab, fenomena alam). Kedua, Aritmatik (menghitung dengan cepat, tepat, logis). Ketiga, membaca teknologi (memanfaatkan dan menggunakan teknologi dengan berbagai applikasi/fitur). Dan Keempat, Producting (menciptakan karya dengan berbagai jenis dan bentuk).
Ada pesan yang sangat tegas yang dikemukakan Abdul Haris bahwa semua santri dapat membuat karya dari yang dibaca, dilihat, diamati, dirasakan, dan ide-ide itu dapat dituangkan ke dalam lembar-lembar tulisan. “Menulis bukanlah bakat, namun menulislah setiap hari dan itu akan mendapatkan hasil, ” tuturnya.

Mengobarkan Pelita Literasi Santri
Dalam upaya ikhtiar memberikan spirit literasi para santri, Ahmad Fathul Najmi sebagai Ketua Panitia mengundang praktisi literasi sebagai narasumber yaitu Rahmat Heldy (Instruktur Literasi Nasional dan Duta Baca Banten), Zulkarnain Alfisyahrin (Pemimpin Umum Koran Bekasi), Emi Rusnawati (Ketua Umum The YAQINNA Foundation), dan Yoni Haris Setiawan (Direktur PPQM Lembaga TEMALI).
Dalam paparannya Heldy memberikan motivasi para santri dalam berkarya yang riil agar menulis tidak menemukan kendala-kendala. Bahwa menulis membutuhkan banyak membaca dan referensi, banyak waktu, Dengan membaca akan menambah cakarwala ilmu pengetahuan; mempraktekkan berarti menghasilkan karya dari penuangan ide-ide; dan menyebarkannya membawa kemaslahatan dan menjadikan pahala. “Ilmu menulis tidak datang tiba-tiba dari langit, maka harus ada pola pembinaan dan sering melatih diri untuk menjadi penulis yang handal, para santri pasti bisa, ” semangat Heldy.
Lain halnya dengan Pemimpin Umum Koran Bekasi, Zulkarnain Alfisyahrin, Ia mengemukakan kunci-kunci penting dalam menulis, bahwa media komunikasi dalam hal ini jurnalistik ada sejak zaman Nabi Nuh. Nabi Nuh memerintahkan kepada seekor Merpati yang bergabung dengan Kapal Nuh ketika air bah menerpa kaumnya. Merpati itu diperintahkan sampai tiga kali oleh Nuh untuk memastikan kafilah akan sampai didaratan. Disinilah pesan setiap keadaan peristiwa akan tersampaikan dengan baik, setiap berita membawa peran informasi dan komunikasi yang dapat dipercaya.
Selain itu Zulkarnain memberikan larangan-larangan yang tidak boleh dicantumkan dalam penulisan. “Untuk itulah setiap karya tulis patut diapresiasi, para santri bila punya minat, bakat, dan hobi menuis, tulis saja dulu yang dilihat, diamati, jangan takut salah” tandas Zulkarnain.

Pada sesi akhir, santri dibawa ke alam imajinasi dan langsung praktik. Para santri dibimbing menulis yang termudah terlebih dahulu dan lebih memasuki yang dialami para santri. Emi Rusnawati dan Yoni Haris Setiawan (Motivator Literasi QM) mengajak para santri untuk menuangkan ide, pergulatan antara keinginan dan kebuntuan, ekspresi. Kedua motivator memberikan terapi menulis para santri dengan pendekatan dzikurllah dan relaksasi.
Alhasil, dalam waktu lima menit para santri dapat merangkai kalimat yang sangat menakjubkan. Motivator memberikan tema “Hormat Kepada Orangtua” sedangkan judulnya para santri menuangkannya sesuai ide, gambaran dan rasa mereka masing-masing. Literasi karya inovatif jenis karya seni sastra (puisi) dapat diselesaikan dengan baik, selain itu para santri langsung membacakan puisi yang dibuatnya.
Program Merdeka Literasi dan Gerakan Literasi Santri Nusantara yang diagendakan oleh Quruta Management Lembaga TEMALI merupakan bentuk wujud nyata gerakan ilmu berkarya kreatif berbasis produk dengan pendekatan spiritual, humanistik dan holisitk. Para santri langsung praktik tanpa diberikan sejubel teori-teori. Pembimbingan akan terus dilakukan sampai para santri matang dalam menghasilkan karya literasi. Harapannya adalah para santri dapat membuka tabir yang selama ini mengungkung pikiran-pikiran keterbatasan karena tembok-tembok pondok pesantren. Namun, lebih dari itu peradaban literasi Islam sesungguhnya dimulai dari pondok pesantren dan itu ditulis oleh para santri. [*]
“Selamat Hari Santri Nasional 22 Oktober 2021″

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.