Poken atau Pasar Keliling Siunggam Era 80-an

Umum1482 Dilihat

Ilustrasi

 

FAJAR mulai menampakkan wajahnya. Mobil pengangkut barang/penumpang memadati areal parkir Pasar Siunggam yang Jumat ini kebagian menggelar pasar keliling, disebut hari poken. Pasar berangsur-angsur ramai seiring dengan pergerakan matahari. Puncak keramaian pasar ketika posisi matahari di atas kepala.

Kawan! Desa Siunggam adalah kampung ku yang menyimpan sejuta kenangan, apalagi pada saat penduduknya didera pahit getirnya kehidupan. Siunggam, Tapanuli Bagian Selatan, hanya mengandalkan pertanian tradisional, belum tersentuh teknologi. Petani di kampung itu identik dengan lumpur dan kemiskinan.

Makanya saat di bangku SD, ditanya guru apa cita- cita kami kelak, tak seorang pun diantara kami yang mau jadi petani. Malah seorang pria bernama si P HRP, ditanya guru apa cita-citamu P, ia jawab; “mau jadi Polwan bu guru.”

Sontak seisi kelas terbahak-bahak. Mungkin bagi si P yang penting jangan jadi petani. Memang kehidupan petani teramat parah saat aku masih SD. Boleh dibilang tak ada hasil pertanian yang menyuplai pasar di hari Jumat itu, kecuali gabah karena mayoritas penduduk memang petani padi.

Sering kali jual gabah dulu buat modal belanja ke pasar. Tak heran bila petani di kampung ku itu produsen sekaligus konsumen. Dia memproduksi beras, tetapi juga membeli beras. Hasil padi terpaksa dijual untuk menutupi kebutuhan sehari-hari dan keperluan anak sekolah. Jadi hasil panen yang didapat tidak cukup stok untuk masa panen berikutnya, ya terpaksa beli beras demgan susah payah.

Apalagi produknya hanya padi, tak ada tanaman hortikultura. hampir semua buah-buahan yang memenuhi pekan Siunggam itu didatangkan dari daeah lain, seperti hapundung, salak, sihim, hosur, jottik-jottik, laccat, dan durian.

Minimnya sumber penghasilan membuat daya beli masyarakat Siunggam sangat rendah. Suatu waktu aku mendapati seorang ibu yang duduk lesu menunggui dagangan anyaman tikarnya. Hari sudah siang, Siunggam yang tandus disinari teriknya mentari, rasanya memanggang kepala, sementara dagangan si ibu belum laku. Padahal hasil penjualan itu buat membeli keperluan dapur seminggu ke depan.

Belum lagi anaknya terus menangis minta jajan es karena cuaca panasnya bukan main. Si ibu berkata pada anaknya, “laku jolo harung /lage ta on, baru hita tabusi da mang”. Artinya, terjual dulu karung kita ini, baru jajan kita ya nak!

Ya Tuhan, sungguh mulia dirimu wahai ibu! Para ibu mengajarkan kami agar hidup tidak cengeng. berusahalah untuk menjawab persoalanmu! (Erman Tale Daulay/Asal Desa Siunggam Paluta/Kini Tinggal di Depok)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *