SAAT ini, literasi menjadi salah satu fokus perhatian Pemerintah Indonesia. Hal ini dikarenakan beberapa lembaga survei di tingkat Nasional maupun Internasional menyatakan bahwa kemampuan literasi Penduduk Indonesia dianggap masih sangat rendah. World’s Most Literate Nasional Ranked pada tahun 2016, merilis hasil yang sangat menohok dengan menyatakan bahwa kemampuan literasi penduduk Indonesia berada pada urutan ke-60 dari 61 negara. Sedangkan Programme for International Student Assessment (PISA) Tahun 2019 menyatakan bahwa literasi di Indonesia berada pada peringkat 62 dari 70 negara. Oleh karena itu, perlu upaya kolektif dari berbagai pihak terutama pihak-pihak dalam bidang pendidikan.
Berdasarkan Rapor Pendidikan Indonesia Tahun 2022 yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) menyatakan bahwa kurang dari 50% siswa yang telah mencapai batas kompetensi minimum untuk kemampuan literasi membaca. Artinya bahwa aktivitas membaca dianggap masih kurang dan perlu dibiasakan sejak dini terutama di jenjang Sekolah Dasar (SD) melalui pembelajaran literasi dini.
Literasi dini diartikan sebagai kemampuan membaca dan menulis pada anak usia dini guna meningkatkan rasa empati, mengkritisi, serta menelaah informasi. Usia dini menjadi masa terpenting dalam kehidupan setiap anak, karena pertumbuhan otak pada anak usia dini sangat bertumbuh pesat. Salah satu unsur terpenting dalam aktivitas literasi dini adalah pemberian buku cerita yang tepat. Salah satu contoh buku yang tepat digunakan dalam pembelajaran literasi dini adalah buku ramah cerna.
International Literacy Association mendefinisikan buku ramah cerna sebagai buku yang dapat menstimulasi anak dalam mengembangkan pengetahuan mengenai keaksaraan. Kesederhanan kata pada Buku Ramah Cerna yang akan menarik perhatian anak dan memotivasi untuk membaca buku, serta mendorong mereka untuk membaca lebih luas.


Gambar 1. Contoh Buku Ramah Cerna
Sumber : Literacy Cloud
Keberadaan buku ramah cerna dianggap tidak terlalu familiar di beberapa kalangan pendidik, termasuk pada beberapa Dosen dan Mahasiswa di lingkungan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (Ubhara Jaya) dan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Islam 45 Kota Bekasi (Unisma). Berdasarkan survei yang telah dilakukan pada 60 mahasiswa PGSD FIP Ubhara Jaya dan FKIP Unisma diketahui lebih dari 90% responden belum mengetahui konsep buku ramah cerna. Padahal ketentuan perjenjangan buku ramah cerna sudah digulirkan dalam Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan tentang Pedoman Perjenjangan Buku dari BSKAP No.30/P/2022 Terkait Pedoman Perjenjangan Buku. Oleh karena itu, Sani Aryanto, S.Pd., M.Pd, Fanny Sumirat, S.Pd., M.Pd., dan Dr. Ahmad Muchlisin Natas Pasaribu, S.Pd., M.Pd dibantu oleh dua Mahasiswi (Putri Ayuni Agustina dan Meyke Erlianda) berkomitmen untuk memberikan edukasi dan pendampingan pembuatan buku ramah cerna pada Mahasiswa PGSD Ubhara Jaya dan Unisma melalui Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dengan mengusung judul “PKM-Penguatan Karakter Profil Pelajar Pancasila Melalui Program Pendampingan Penyusunan Buku Ramah Cerna Berbasis Human Security untuk Mahasiswa Calon Guru Sekolah Dasar”. Program PKM ini sepenuhnya mendapatkan dukungan materil dari Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Kemendikbud Ristek dan diselenggarakan mulai Bulan Juli hingga Desember Tahun 2023.
Pada praktiknya mahasiswa dibekali berbagai informasi secara konseptual maupun praktis terkait pembuatan buku ramah cerna. Uniknya penyusunan buku ramah cerna didasarkan pada nilai-nilai yang termaktub pada Profil Pelajar Pancasila, diantaranya: a) beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia; (b) berkebinekaan global; (c) bergotong royong; (d) mandiri; (e) bernalar kritis; dan (f) kreatif. Keenam nilai tersebut menjadi topik utama dalam mengembangkan buku ramah cerna yang disusun setiap mahasiswa. Oleh karena itu, buku ramah cerna yang dibuat diharapkan tidak hanya sebatas meningkatkan minat baca dan pengetahuan keaksaraan pembaca dini, namun mampu menginternalisasikan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila. Di samping itu, penguatan entitas Universitas Bhayangkara Jakarta Raya sebagai satu-satunya kampus di Indonesia yang menjunjung nilai sekuriti menuntut dan menununtun setiap mahasiswa PGSD untuk mengembangkan buku ramah cerna berbasis Human Security.
Human Security merupakan upaya untuk mengembalikan konsep keamanan secara mendasar, terutama berkaitan dengan keamanan bagi individu. United Nations Development Program (UNDP) merinci tujuh komponen keamanan manusia yang dapat dijadikan dasar pengembangan buku ramah cerna untuk siswa SD diantaranya: economic security, food security, health security, environmental security, personal security, community security, dan political security. Tujuh komponen yang terdapat pada konsep Human Security menjadi elemen penting yang harus dimunculkan pada buku ramah cerna dalam program PKM ini.

Gambar 2. Proses Pendampingan
Sumber : Dokumentasi Pribadi
Program PKM ini dilakukan dalam lima tahapan utama, diantaranya: Pertama, mahasiswa diberikan pemahaman konsep buku ramah cerna, Profil Pelajar Pancasila, dan human security. Kedua, mahasiswa diberikan pendampingan secara intensif dalam mengembangkan buku ramah cerna secara online maupun offline. Ketiga, tim akan melakukan uji keterbacaan produk yang telah dikembangkan. Keempat, mahasiswa akan dibantu untuk memproduksi dan menerbitkan buku yang telah disusun pada penerbitan standar IKAPI (Ikatan Penerbitan Indonesia). Kelima, buku yang telah disusun akan disosialisasikan dan didiseminasikan melalui program bedah buku di Prodi PGSD FIP Ubhara Jaya dan FKIP Unisma serta dipublikasikan pada Repositori UBJ.
Sani Aryanto selaku Ketua Tim menyatakan harapannya dari program pendampingan yang telah dilakukan menjadi salah satu solusi dalam mendorong literasi dini melalui terciptanya buku ramah cerna yang diminati pembaca awal dan memberikan pengalaman kontekstual pada mahasiswa calon guru SD untuk mengembangkan bahan ajar literasi yang inovatif. (Nov)







