Kamera dan Kemajuan Zaman

Umum1062 Dilihat

DULU, sebelum Media Sosial (Medsos) booming, salah satu peralatan seorang wartawan adalah kamera, yang lazim disebut kamera atau tustel. Sebab, kamera menjadi alat perekam yang melahirkan gambar, untuk sebuah peristiwa. Tak indah kelihatan sebuah surat kabar tanpa gambar. Tentu gambar yang dimuat tak sembarang gambar.

Gambar yang dimuat di koran atau majalah tentu terkait dengan berita. Tapi ada juga gambar lepas namanya. Layak tidaknya gambar yang akan dimuat, tergantung penilaian redaktur foto.

Gambar- gambar yang ditampilkan tentu gambar yang dapat menceritakan peristiwa. Peran gambar teramat penting dalam media cetak seperti koran dan majalah. Itu sebabnya media penerbitan mempunyai redaktur foto. Ia punya wartawan foto.

Naluri seorang wartawan foto, mampu melahirkan foto yang bisa mengungkapkan peristiwa yang dapat menggugah hati, gembira, sedih, bahkan menangis.

Wartawan foto sangat jeli membidikkan kamera ke objek yang akan dapat mengundang perhatian publik. Meski, wartawan peliput berita sudah dilengkapi kamera, tustel, tapi wartawan peliput berita, biasanya lebih fokus mengejar nara sumber. Menyiapkan pertanyaan. Mengorek lebih dalam sebuah peristiwa. Menguak yang tersembunyi.

Ketika aku masih kursus wartawan, aku ingat guru saya Ahmad Midjan, ia wartawan senior dari Harian Merdeka. Jika anda mau liputan, yang anda harus persiapkan, pulpen, notes, alat rekam, dan kamera. “Itu atribut yang wajib dibawa seorang wartawan ketika liputan,” katanya ketika itu.

Dua hari yang lalu aku membongkar lemari kerjaku. Aku sempat terkejut ketika melihat ada kamera merek Ricoh, masih tersimpan. Kamera itu sering aku gunakan saat liputan. Lalu kamera itu aku ambil. Aku gantung. Lalu aku pandangi. Aku teringat banyak hal saat aku sering liputan bersama teman-teman wartawan.

Kamareku yang sudah pensiun ini, telah banyak mengabadikan peristiwa di Indonesia. Seperti aksi mahasiswa 1998. bentrokan mahasiswa dengan PHH, mahasiswa menguasai gedung DPR RI, kegembiraan mahasiswa saat presiden Soehato lengser, aksi kerusuhan 98, bentrok mahasiswa dengan aparat di Semanggi, dan sejumlah peristiwa nasional lainnya.

Tapi kini kamera itu tak berfungsi lagi. Ia kini hanya menjadi barang kenangan. Posisi kamera kini telah digantikan HP android yang sangat canggih.

Dulu, informasi kita peroleh lewat media cetak dan elektronik, seperti majalah, koran, tabloid, radio dan TV. Kini informasi ada di ujung jari.

Kini, sambil tiduran, informasi dapat kita peroleh dengan menggerakkan ujung jari ke tut huruf-huruf yang ada di ponsel. Berita apapun bisa kita peroleh. Itu perubahan. Perubahan yang begitu cepat.

Banyak diantara rekan rekan wartawan yang hidup di tiga zaman tak siap mengikuti cepatnya perkembangan teknologi IT. Teknologi IT yang tak terpisahkan dengan dunia informasi.

Kehadiran teknologi HP yang canggih, telah mengakibatkan ratusan perusahaan penerbitan gulung tikar dan ribuan wartawan harus di PHK dan menganggur. Semoga tulisan ini ada manfaatnya. (Imran Nasution/wartawan senior tinggal di Bekasi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *