Setelah Khutbah dan Wukuf di Arafah, Para Jamaah Masuk Muzdalifah dan Mina

Umum298 Dilihat

TEPAT pukul 19.15 WAS, Sabtu (16/6/2024) seluruh rombongan jamaah haji Indonesia bergerak meninggalkan Arafah menuju Muzdalifah, tentunya bagi rombongan yang normal. Sedangkan bagi yang murur (jamaah lansia, risiko tinggi, dan sakit lainnya), langsung menuju Mina.

Dari Arafah ke Mina perjalanan memakan waktu kurang lebih setengan jam. Sedangkan dari Arafah ke Muzdalifah, sekitar 20 menit.

Seperti dilaporkan wartawan koranbekasi.id Zulkarnain Alfisyahrin dari Mina, Minggu (16/6/2024) atau 10 Zulhijjah, kemarin seluruh jamaah haji dari Indonesia  melaksanakan prosesi wukuf di Arafah. Waktu wukuf di Arafah dimulai setelah tergelincirnya matahari (waktu Zuhur) pada hari Arafah.

Sebelumnya, dilakukan khutbah Arafah yang dalam hal ini rombongan Kloter 29 dari Kota Bekasi dipimpin Ustad Zaidun dari Yayasan KBIHU Maulana Azhari. Selama 20 menit memberikan khutbah Arafah, kemudian melakukan shalat jamak takdim untuk waktu dhuhur dan ashar.

Hampir semua tenda jamaah menyelenggarakan khutbah Arafah dan shalat berjamaah di tenda masing-masing. Khutbah wukuf di tenda utama disampaikan Habib Ali Hasan Al Bahar  dilanjutkan zikir dan doa wukuf yang dipimpin Habib Ibrahim Lutfi bin Ahmad Al-Attas.

“Mari kita semua jamaah agar memanfaatkan kesempatan terbaik dalam hidupnya dengan memperbanyak zikir, membaca talbiyah, menggaungkan kalimat tauhid, dan membaca Al-Qur’an. Lalu menyelingi zikir dengan berdoa, sebab Arafah adalah tempat mustajab atau terkabulnya doa. Meyakini bahwa doanya selama di Arafah dikabulkan Allah dan dosanya diampuni. Bertafakkur merenungi kebesaran Allah, berserah diri dan mengharap pertolongan Allah,” ujar Ustad Zaidun dalam khutbah Arafah-nya.

Setelah shalat berjamaah, hampir tiga jam para jamaah membaca talbiyah. Setelah itu dilanjutkan masing-masing jamaah membaca Al Quran dan doa. Bahkan tak sedikit yang menghubungi keluarganya di Tanah Air untuk berdoa.

“Nanti papa yang berdoa, kakak yang amin-kan. Setelah itu kakak yang berdoa kami yang amin-kan,” ujar seorang ibu dari Kloter 29 saat menghubungi keluarganya di Kota Bekasi

Tahun ini, PPIH memberlakukan skema murur bagi jemaah haji risiko tinggi, lanjut usia, disabilitas, pengguna kursi roda, dan para pendampingnya di Muzdalifah. Mabit di Muzdalifah dengan cara murur adalah mabit yang dilakukan dengan cara melintas di Muzdalifah, setelah menjalani wukuf di Arafah.

Jemaah saat melewati kawasan Muzdalifah, tetap berada di atas bus (tidak turun dari kendaraan), lalu bus langsung membawa rombongan menuju tenda Mina. Sedangkan yang normal, para jamaah dari Arafah menuju Muzdalifah. Selama melaksanakan mabit (menginap), jamaah dapat istirahat dan berzikir, menyelingi zikir dengan berdoa kepada Allah, sebab Muzdalifah termasuk tempat mustajab. Namun tidak ada ibadah khusus selama mabit di Muzdalifah.

Para jamaah sudah dibagikan kantong kerikil saat di Arafah bersamaan dengan pembagian snack berat untuk dikonsumsi saat di Muzdalifah. Hingga kemarin, tercatat sudah 121 jamaah yang meninggal dunia (Embarkasi 9 orang, Madinah 18 orang, Makkah 87 orang, Bandara 3 orang, Arafah 4 orang). Seluruh jemaah wafat akan dibadalhajikan. (Bersambung)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *