Apa Buktinya Tuan Rumah SEA Games, ‘Bermain’?

Sport298 Dilihat

M. Nigara
Wartawan Olahraga Senior

BANYAK pengamat dan wartawan olahraga yang berkeyaiinan Kamboja telah bermain kotor. Meski Indonesia yang paling banyak dirugikan, atlet-atlet negara lain juga nyaris mengalami hal serupa, khususnya jika mereka berlaga mekawan atlet Kamboja.

Sekali lagi, Kamboja bukanlah tuan rumah pertama yang memaksakan kehendak ingin menjadi juara umum. Sekali lagi juga, Indonesialah yang disebut melakukan hal itu untuk pertama kali.

Bedanya, meski kita tidak jadi tuan rumah, sejak 1977 hingga 1983, posisi kita sebagai juara umum tidak tergoyahkan. Kita dituding tidak komit untuk saling membantu. Kita dianggap telah melanggar ‘perjanjian’ para penggagas bahwa SEAG bukanlah tujuan. Ya, para penggagas SEAG para Menlu Indonesia, Malaysia, Filiphina, Singapura, dan Thailand menginginkan SEAG adalah kawah candradimuka untuk berlrestasi di Asian Games serta Olimpiade.

Indonesia menjadi juara umum empat kali berturut-turut dengan menggunakan atlet yang nyaris sama. Penggunaan atlet yang sudah matang itu disebut sebagai hasrat dan ambisi Indonesia menjadikan SEAG sebagai tujuan.

Mustahil
Nah, apa buktinya bahwa tuan rumah SEAG menggunakan segala cara untuk meraih sukses? Ya, rata-rata tuan rumah, kecuali Kamboja yang gagal, seluruhnya menjadi juara umum.

Tapi, jika kita melihat pergerakan prestasi, tentu tidak akan sedramatis seperti di SEAG. Tengoklah Thailand, saat menjadi tuan rumah 2015, mereka meraih 95 medali emas. Lalu di 2017, perolehan medali melorot sangat banyak menjadi 72. Malaysia sendiri, di Thailand hanya meraih 62 emas, dua tahun kemudian perolehan medalinya naik hampir 200 persen menjadi 145, lalu 2019 di Filiphina terjun bebas ke 55 emas. Demikian pula Filiphina, 2015 hanya meraih 29 emas, di Malaysia 2017, turun menjadi 24. Tapi ketika menjadi tuan rumah, mereka bisa menggasak 149 emas.

Apalagi jika kita melihat Kamboja. Sepanjang sejarah SEAG 1977 hingga saat ini, negeri itu belum sekalipun bisa meraih medali emas lebih dari 9 medali. Peroleh terakhir di Vietnam 9 emas, tapi sekarang? Hingga (15/5/2023) jam 22.37, Kamboja bisa meraih 66 medali emas atau sekitar 600 persen lebihn peningkatannya.

Anehnya baik di Thailand, Malaysia, maupun Filiphina, apalagi di Kamboha, tidak ada pergerakan dan peningkatan yang luar biasa. Dan seperti kita ketahui dalam dunia olahraga, proses itu mutlak. Proses itu sendiri tidak bisa datang sekonyong-konyong. Artinya, untuk melompat demikian pesatnya, sangat mustahil.

Jadi, jika ada pihak yang mengatakan hampir setiap tuan rumah melakukan ‘bermain’ (melakukan kecurangan), sepertinya klop.

Tengoklah berapa medali emas yang diperoleh para tuan rumah. Lihatlah berapa medali emas di raih tuang Thailand, SEAG 2015: 95 emas, 83 perak, 69 perunggu. Lalu 2017 giliran Malaysia tuan rumah, perolehan medalinya 145, 92, 86. Kemudian Filiphina 2019, juga saat menjadi tuan rumah mampu mengoleksi 149, 117, 121. Terakhir 2022 Vietnam, 205, 125, 116.

Kamboja sendiri 2015 (1, 4, 9), 2017 (3, 7, 12), 2019 (4, 6, 36), terakhir 2022 (9, 13, 41) meski trend perolehan medalinya meningkat, tapi tetap di posisi 8. Coba bandingkan dengan yang sekarang 66, 66, 108.

Jadi, masih kah SEA Games itu bisa kita andalkan untuk menapak ke tingkat yang lebih tinggi? Semua berpulang pada kita sendiri.
Semoga bermanfaat…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *