Urgensi Urban Farming Karena Degradasi Luas Lahan di Bekasi

Umum2109 Dilihat

LAJU pertumbuhan penduduk dan migrasi para perantau serta cepatnya arus pembangunan mengakibatkan luas lahan di Bekasi kian hari terus menurun. Lahan yang dipakai untuk pembangunan perumahan, kawasan industri serta pusat perbelanjaan tidak dapat dipungkiri. Dengan terjadinya pengalihan fungsi lahan, penurunan luas lahan pertanian di Bekasi tidak dapat dihindari. Dewasa ini luas lahan pertanian di Kabupaten Bekasi sekitar 57.000 hektar.
Bekasi merupakan kabupaten dengan luas wilayah 127.368 hektar, dengan tingkat kepadatan penduduk mencapai 2.451 jiwa per km2. Dari data tersebut dapat diperkirakan bahwa lahan pertanian di Bekasi pasti terus menurun tiap tahunnya. Karena tiap tahun pasti ada lahan pertanian yang dialih fungsikan; selain itu Bekasi juga menjadi salah satu daerah perantauan, karena di Bekasi tersedia banyak lapangan pekerjaan salah satunya di Kawasan Industri MM2100.


Kawasan Industri MM2100 sendiri sudah memakan banyak lahan pertanian. Kawasan tersebut dulunya merupakan perkampungan petani dengan banyak sawah yang luasnya 805 hektar. Belum lagi di daerah lain, contohnya Kota Bekasi cepatnya arus pembangunan dan arus masyarakat yang merantau ke Kota Bekasi menjadikan Kota tersebut sempit, padat, dan kosong lahan pertanian. Cepatnya laju pembangunan dan pertumbuhan penduduk menjadi faktor penyebab turunnya luas lahan di Kabupaten Bekasi.
Sejauh ini lahan pertanian di Bekasi khususnya Kota Bekasi sangat terbatas atau bisa diakatakan sudah habis. Dalam upaya untuk membantu menjaga ketahanan pangan, pertanian perkotaan atau urban farming harus tetap digalakkan. Urban farming sendiri sudah sering diperbincangkan dan diminati oleh masyarakat yang tinggal di kota-kota besar. Terutama pada masa pandemi Covid-19, sebab pada saat itu pandemic yang tak jelas kapan berakhirnya, membuat masyarakat khawatir akan terjadinya krisis pangan, yaitu terganggunya ketersediaan, stabilitas, dan akses pangan.
Dengan lahan yang terbatas diperlukan strategi baru untuk bertani di lahan terbatas, diperlukan perpaduan yang maksimal, bagaimana perpaduan tersebut bisa menanam dan berternak dan budidaya perikanan dengan memaksimalkan lahan terbatas. Kegiatan ini juga tidak dipengaruhi oleh modal yang besar, dapat menggunakan teknologi yang sederhana dan minimalis dengan biaya yang murah, serta tidak membutuhkan banyak sumber daya manusia.

Di Bekasi sendiri urban farming telah digalakkan oleh pemerintah daerah. Pemerintah daerah Bekasi meminta kawasan industri yang mempunyai lahan kosong dan belum dibangun agar dimanfaatkan bersama masyarakat untuk dijadikan lahan pertanian melalui kegiatan CSR. Hal ini sudah terwujud di Jababeka Botanical Garden.
Di daerah lain urban farming juga sudah mulai diwujudkan. Warga Kelurahan Margamulya misalnya. Kelurahan yang berlokasi di Kecamatan Bekasi Utara, Kota Bekasi tersebut menginovasikan dan menghadirkan urban farming di lingkungan tempat tinggalnya, selain untuk mengurangi pengeluaran karena sudah tidak lagi membeli di tukang sayur, keberadaan urban farming juga dijadikan salah satu sarana edukasi bagi para warga di Kota Bekasi dalam hal mendapatkan pengetahuan dan penghasilan dalam keterbatasan lahan.
Tidak banyak orang yang mewujudkan cara atau metode dalam melaksanakan kegiatan urban farming. Hal ini disebabkan karena warga kota tidak punya banyak waktu untuk merawat dan menanam tanaman dengan cara urban farming. Mereka sibuk dengan pekerjaan, dan keluarga mereka.
Urban farming sendiri banyak dilakukan oleh masyarakat kelas menengah ke atas. Masyarakat kelas menengah ke atas lebih unggul dalam cara berpikir dan melaksanakan urban farming. Sedangkan masyarakat kelas menengah ke bawah sibuk untuk bekerja, dan lebih memilih untuk membeli sayur mayur di tukang sayur atau pasar. Bahkan di beberapa Kota besar di Indonesia hanya segelintir warga yang mewujudkan urban farming.
Berikut ini adalah beberapa metode urban farming yang dapat digunakan pada lahan terbatas, antara lain: Aquaponik. Aquaponik merupakan sistem pertanian yang menggabungkan hidroponik dan akuakultur, atau budidaya perikanan. Terdapat 3 komponen biologis dalam penerapan aquaponik, yaitu ikan, tanaman, dan bakteri. Tanaman dan budidaya ikan bekerja sama membentuk simbiosis mutualisme. Air yang digunakan untuk budidaya ikan berguna sebagai pupuk bagi tanaman. Sementara tanaman membantu membersihkan air sehingga ikan dapat hidup dengan optimal. Tanaman yang cocok untuk menggunakan metode ini antara lain kangkung, pakcoy, selada dan juga jenis ikan seperti lele, nilai, dan ikan mas.
Selain itu juga ada metode Hidroponik. Hidroponik merupakan metode pertanian modern yang menggunakan air sebagai media tanam pengganti tanah. Metode ini menjadi solusi bagi petani yang memiliki akses air yang terbatas atau kondisi tanah yang minim nutrisi. Tanaman yang bisa ditanam dengan metode hidroponik ini cukup banyak. Seperti jenis sayuran yang paling umum pakcoy, kangkung, basil, sawi, dan masih banyak lagi.
Disamping itu juga ada metode Vertikultur, Vertikultur berasal dari Bahasa Inggris, yaitu vertical dan culture. Veltikultur merupakan Teknik bercocok tanam yang dilakukan bertingkat. Metode ini dapat dilakukan dengan menanam di pot, polybag, pipa paralon, botol bekas, maupun ban bekas, yang disusun bertingkat, sehingga mampu membantu mengurangi permasalahan sampah. Di sisi lain juga ada metode Wall Gardening. Pada dasarnya metode wall gardening hampir sama dengan metode vertikultur. Hanya saja, bedanya ada pada dinding sebagai media tanam. Tomat, cabai, umbi-umbian dan berbagai jenis tanaman hias, cocok untuk dibudidayakan menggunakan metode ini. Metode ini sangat mudah untuk dilakukan karena bisa diterapkan pada halaman belakang yang terkena sinar matahari dan pada dinding rumah.
Metode yang paling sering dijumpai pada masyarakat perkotaan adalah metode hidroponik. Metode ini sering dijumpai karena mudah untuk dibudidayakan, karena hanya membutuhkan modal pipa paralon atau wadah air, serta bibit tanaman dan pupuk cair untuk nutrisi tanaman. Hidroponik juga tergolong mudah untuk merawatnya, karena tahapan perawatan yang dilakukan sangat mudah yaitu pemberian nutrisi tambahan, perawatan hama dan pathogen tanaman, melakukan penyiraman, dan perawaatan lainnya.
Dari pembahasan dan paparan di atas, Pemerintah kota dan Pemerintah Kabupaten Bekasi sudah seharusnya memperbanyak dukungan dan penyuluhan kepada para warganya yang telah melakukan kegiatan urban farming, selain itu Pemkot dan Pemda juga seharusnya lebih menggalakkan lagi kampanye pentingnya urban farming dan pentingnya menjaga ketahanan pangan di lahan yang terbatas. Tak lupa juga untuk masyarakat perkotaan dan kabupaten juga harus membuka mata dan membangkitkan kesadaran perihal degradasi lahan ini dan mewujudkan urban farming. Karena dengan urban farming, kondisi perekonomian masyarakat kota tersebut dapat meningkat dan dapat menghemat pengeluaran biaya hidup sehari-hari.

(Ravelldam Ahmad Adryan/Mahasiswa aktif UIN Jakarta, Program Studi Agribisnis, Fakultas Sains dan Teknologi)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *