Bekasi Sebagai Kota Industri dan Dampak yang Ditimbulkan terhadap Lingkungan

Umum1782 Dilihat

KOTA sejuta industri, Kota Bekasi. Kota ini  tercatat sebagai kawasan industri terbesar di Indonesia bahkan Asia Tenggara. Bekasi sudah menjadi kawasan industri sejak tahun 1693 yang dari tahun  ke tahun tentunya mengalami peningkatan dari sektor perindustriannya. Ditandai dengan terbangunnya banyak pabrik, salah satu pusat industrinya ada di Jababeka, Bekasi.
‘Planet Bekasi’ merupakan julukan yang cukup umum ditujukkan oleh masyarakat kepada kota Bekasi. Pasalnya, kota ini seperti planet tersendiri karena kondisi suhu yang tinggi dan cuaca yang terik serta berbeda dari kota-kota disekitarnya, membuat Bekasi seolah-olah berada di luar cakupan bumi.

Sebagai kawasan industri terbesar tentunya terdapat berbagai dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan. Salah satu dampak yang besar dirasakan adalah suhu yang panas dibandingkan dengan kota lain di sekitarnya. Pada tahun 2018, Bekasi tercatat sebagai kota terpanas dengan suhu mencapai 35 derajat celcius, lalu pernah terjadi di tahun 2021 suhu mencapai 37 derajat celcius ketika siang hari. Lebih terbaru Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan bahwa Bekasi merupakan salah satu wilayah terpanas di Indonesia dengan suhu mencapai 36 derajat celcius pada 8 Mei 2022. Kondisi ini disebabkan oleh berbagai pengaruh, diantaranya karena letak geografis, jarak yang dekat dengan laut, kurangnya sirkulasi udara akibat minimnya pepohonan, dan yang menjadi pengaruh utama adalah kawasan industri yang besar.

Pabrik memiliki cerobong asap yang fungsinya sebagai ventilasi pembuangan panas maupun gas emisi. Gas-gas yang biasanya dilepaskan oleh pabrik adalah karbondioksida (CO2), karbonmonoksida (CO), Sulfur Oksida (SO) dan gas lainnya. Karbondioksida, agen gas rumah kaca yang sering menjadi penyebab pemanasan global. Gas tersebut dapat mencegah panas yang akan dipantulkan kembali ke luar angkasa menjadi terperangkap di dalam Bumi yang menyebabkan suhu di bumi menjadi meningkat.

Gas emisi atau gas buang dari aktivitas manusia membentuk efek gas rumah kaca. Sehingga suhu panas di bumi akan terus meningkat dari waktu ke waktu. Menurut data yang disajikan oleh World Air Quality Report di maret 2020, Bekasi tercatat menjadi kota nomor tiga kualitas udara terburuk di Asia Tenggara.

Menurut Adila Isfanfiari sebagai Peneliti Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia mengatakan; “Sebenarnya masing-masing kota itu punya masalahnya sendiri, kalau kita ngomongin Bekasi ya dapatnya itu tadi, panasnya ekstrim banget. Kalau kota lain seperti Jakarta tidak sepanas itu (Bekasi), ya mungkin ada pengaruh lain seperti wilayah industri juga dari Bekasi,” ucapnya.

Oleh sebab itu kondisi iklim yang berubah-ubah ini dapat menimbulkan pemanasan global. Faktor yang ditimbulkan dari sektor industri sangatlah besar dari mulai perubahan iklim, kerusakan lingkungan dan pemanasan global.

Majunya perindustrian memang sangat menguntungkan untuk perekonomian suatu negara, menaikkan penghasilan rakyat dan mengurangi pengangguran. Peningkatan perindustrian juga tak lain disebabkan karena tingginya permintaan dari masyarakat mengenai kebutuhan hidup, baik kebutuhan primer, sekunder dan tersier. Di balik itu semua masih banyak industri atau pabrik yang menyepelekan dampak yang ditimbulkan dari aktivitas-aktivitas di pabrik terhadap lingkungan.

Beberapa dampak yang ditimbulkan yaitu timbulnya polusi industri. Asap pabrik yang berupa gas-gas emisi yang ditimbulkan dapat membuat polusi udara, menimbulkan penyakit pernapasan, pemanasan global, hujan asam, kerusakan keanekaragaman hayati dan perubahan iklim. Limbah yang bersifat toksik dapat mencemari lingkungan perairan, mengganggu stabilitas organisme di perairan, mengurangi kualitas air bersih. Limbah yang di darat seperti plastik, kaleng bekas, dan kaca yang merupakan bahan anorganik sulit diuraikan dan membutuhkan waktu yang lama, serta masih banyak lagi dampak-dampak buruk yang dapat ditimbulkan karena industri ini. Terlebih lagi jikalau terjadi bencana industri seperti kebocoran radioaktif, tumpahan bensin, lumpur lapindo dan lainnya.

Upaya yang dapat dilakukan adalah menyadarkan kepada pihak perusahaan agar meminimalisir kembali gas-gas emisi yang ditimbulkan dari aktivitas pabrik, menggunakan teknologi yang dapat memfilter asap pabrik agar gas emisi dapat tereduksi secara efektif,  lebih mengelola limbah dibanding membuangnya ke lingkungan, menanam pohon-pohon di sekitar bangunan pabrik, agar gas CO2 yang dilepaskan dapat diserap oleh pohon-pohon tersebut. (Eva Nurlailiyah/Mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *