Tubuhku Diguyur Getah Karet Pangaranbira, Sosopan (1)

Umum1168 Dilihat

LAZIMNYA masa kanak-kanak senang bermain, seperti main kasti, kelereng, petak umpat, main bola dari jeruk Bali. Itu permainan di masa saya anak-anak. Semua mainan saya alami.

Masa yang indah dan menyenangkan itu, tak pernah aku nikmati. Karena aku harus membantu orang tua menyadap karet di Pagaranbira, Kecamatan Sosopan, Kabupaten Padanglawas. Sumatera Utara.

Kemiskinan telah merenggut kebahagiaan di masa aku anak anak. Hal yang membuat ayah banting tulang mencari nafkah, tak terlepas dari ejekan orang karena abangku yang tertua berkeinginan keras untuk kulliah di Universitas Nahdlatul Ulama Sumatera Utara ( UNUSU). Sementara kehidupan kami sangat miskin.

Orang bilang kami ini tak tahu diri. Berani beraninya menyekolahkan anak ke perguruan tinggi. Padahal kehidupan masih gali lobang tutup, lobang. Pencarian hari ini belum tentu bisa menutupi kebutuhan besok hari.

Istilah sekarang keluarga kami adalah keluarga prasejahtera. Makan hanya bisa satu kali. Rumah berdinding bilik, berlantai tanah beratap ilalang yang di anyam.

Hampir setiap hari kami makan nasi bercampu singkong. Tujuannya tentu agar beras bisa cukup lebih lama. Kamipun hidup serba sulit dan kurang gizi.

Mengenai kurang gizi tak bisa dibantah. Dua adikku Nesrahani Nasution dan Esnayani Nasution, meningal dunia karena kurang gizi.

Tubuh ke dua adikku itu kurus ceking, yang terlihat hanya tulang dibalit kulit. Matanya cekung. Tulang rusuknya terlihat menonjol. Selain karena kurang gizi adekku itu juga terkena penyakit cacing pita. Jika buang hajat yang kekuar hanya cacing. Orang tua kami tak sanggup memberi pengobatan.

Apalagi waktu itu petugas kesehatan jarang datang ke kampung. Bagus kalau ada mantri yang datang sekali dalam dua pekan. (Bersambung)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *