Forum Rektor PTMA Siapkan dan Tingkatkan Kualitas SDM untuk Survei Pemilu 2024

Pendidikan2912 Dilihat

Oleh Yoni Haris Setiawan
(UPT Perpustakaan dan Publikasi Digital IBM Bekasi)

PESTA demokrasi negeri ini (Pemilihan Umum) atau hari pemungutan suara akan digelar 14 Februari 2024 dengan memilih calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) Indonesia untuk periode 2024-2029. Selain itu juga secara bersamaan dilaksanakan pula Pemilu Legislatif untuk memilih anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota.

Banyak sudah lembaga survei mengamati, meneliti, dan menghitung elektabilitas dan popularitas pasangan calon (paslon) yang di usung para partai. Lembaga survei merupakan salah satu alat yang digunakan untuk memetakan politik. Jelang pemilu, lembaga survei gencar mengeluarkan hasil statistik.

Lembaga-lembaga survei berguna untuk mengukur apa yang dipikirkan masyarakat, bagaimana mereka menilai kebijakan pemerintah serta apa pendapat dan harapan masyarakat terhadap pejabat atau politikus maupun institusi. Opini publik ini nantinya akan membatu mendekatkan keputusan publik. Puncaknya, pemerintahan akan menjadi semakin legitimate, stabil, bertanggungjawab, dan efektif dalam menilai aspirasi masyarakat.

Pertanyaannya, apakah lembaga survei yang digagas, didirikan, dibentuk, diinisiasi baik oleh perorangan, lembaga, organisasi maupun pemerintah benar-benar independen? Atau lembaga survei bekerja berdasarkan ‘titipan’, ‘pesanan’ kelompok tertentu yang ditengarai oleh pemilik modal manapun untuk kepentingan memenangkan salah satu paslon?

Dalam rangka independen dan independensi lembaga survei terhadap penyelenggaran Pemilu 2024. Forum Rektor Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) menginisiasi kegiatan “Survei Nasional Pembangunan Politik Di Indonesia; Pelatihan, Pemantapan Person In Charger (PIC) dan Interviewer Survei Nasional PTMA Se-Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat/BANJABAR (Senin, 18/12/2023) bertempat di Aula Abdul Malik Fadjar Institut Bisnis Muhammadiyah (IBM) Bekasi. Kegiatan juga didukung penuh Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Peserta yang hadir merupakan Leader of Indonesia, Training PIC (Person In Charger) sebanyak 12 orang dan Training Interviewer sebanyak 29 orang, yang mewakili PTMA wilayah Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat. Wilayah Banten terdiri dari kampus Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Universitas Muhammadiyah (UM) Banten, Universitas Muhammadiyah Abdul Rozak Fachrudin (UNIMAR) Banten. Wilayah DKI Jakarta yaitu Universitas Prof. Dr. Hamka (UHAMKA) Jakarta, dan Universitas Saintek Muhammadiyah (USM) Jakarta.

Sedangkan Wilayah Jawa Barat yaitu, Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC), Sekolah Tinggi Teknologi Muhammadiyah (STTM) Cileungsi, Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI), Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah (STIKESM) Kuningan, Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya (UMTAS), Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammadiyah (STAIM) Garut, Universitas Muhammadiyah Bandung (UMB), Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Bandung, Institut Bisnis Muhammadiyah (IBM) Bekasi, dan Universitas Muhammadiyah Bogor Raya (UMBARA).

Wakil Rektor III IBM Bekasi Epen Supendi mewakili Rektor IBM Bekasi dalam sambutannya menyampaikan selamat datang dan terima kasih kepada PTMA BANJABAR yang telah hadir dalam memenuhi undangan kegiatan yang di tempatkan di Kampus II IBM Bekasi.

“Pertemuan ini dapat memberikan point of view yang berbeda, survei nasional PTMA ini betul-betul menjadi opini yang lebih terpercaya, karena dilakukan oleh institusi terpercaya tanpa ada sangkut paut dengan para kandidat, sehingga ini mewakili kondisi riil di tengah-tengah masyarakat” harapan Epen Supendi.

Menurut Usman Abdhali Watik sebagai Tim Survei Nasional Forum Rektor menjelaskan bahwa tujuan kegiatan ini adalah Pertama, Forum Rektor menginginkan sebuah hasil survei yang kredibel untuk disajikan kepada masyarakat, karena selama ini banyak kecurigaan-kecurigaan masyarakat terhadap hasil survei yang disajikan atau dirilis ke media. Maka untuk mengatasi kecurigaan-kecurigaan itu, akademisi yang terhimpun pada Forum Rektor PTMA ingin sekali menyajikan hasil survei dengan kredibel dalam makna dapat dipercayai oleh masyarakat.

Kedua, Menyiapkan dan memberikan pembekalan kepada PIC dan Interviewer dalam pemantapan, penguatan, peningkatan kualitasnya terkait strategi, sistem, aplikasi mobile, teknik survei di lapangan. Dan Ketiga Forum Rektor bergerak dengan kemandirian tanpa intervensi dari pemilik modal manapun, karena ini murni datang dari Rektor PTMA seluruh Indonesia untuk menyelamatkan Indonesia.


“Output kegiatan training PIC dan Interviewer survei dibekali dengan quick count yang telah disiapkan yang dilaksanakan melibatkan sebesar-besarnya potensi yang berada dalam Persyarikatan tanpa adanya intervensi pemilik modal manapun, adanya kemerdekaan untuk menyajikan hasil survei yang sesungguhnya,” tandas Usman.

Forum Rektor fokus pada dua hal yaitu survei yang dilakukan Leader of Indonesia (lembaga milik UMJ) dan pelatihan, magang, dan sebagainya. Berkaitan dengan survei, PTMA akan melibatkan 3600 responden dari seluruh PTMA di Indonesia dan penelitian. Forum Rektor PTMA telah membangun kerja sama dengan KPU RI, hal-hal yang terkait kerja sama menghasilkan beberapa rumusan berupa sosialisasi, pendidikan pemilih, peningkatan kapasitas pelembagaan, diklat, riset, dan lain-lain.

Apapun lembaga surveinya, semestinya menggunakan metode yang tepat, jujur, dan dapat dipercaya. Sudah saatnya kejujuran dijunjung tinggi dalam menyajikan hasil survei sehingga masyarakat bukan sebagai objek pembodohan. Untuk mengatasi masalah kecurangan-kecurangan ini, diperlukan regulasi yang jelas dalam mengatur lembaga survei agar dapat memastikan bahwa lembaga survei tersebut menggunakan metode yang tepat, jujur, dan dapat dipercaya.

Lembaga survei yang bukan ‘abal-abal/kaleng-kaleng’ dapat mendorong dan memastikan kejujuran dan penuh amanah, mematuhi kode etik dan regulasi terkait transparansi, akuntabilitas, integritas, dan profesionalisme lembaga survei. Forum Rektor PTMA dalam mengawal penyelenggaraan Pemilu 2024 di Indonesia mengedepankan hal yang utama yaitu digital literacy, digital quisioner, digital culture, digital industry. Selain itu, menjalankan survei dengan jujur, penuh amanah, tidak ragu-ragu menyampaikan opini yang benar. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *