Sholat Idul Adha di Kota Bekasi, Zahrul: Peristiwa Kurban adalah Contoh Terbaik Sepanjang Masa

Umum826 Dilihat

JAMAAH sholat Idul Adha 1445 H di wilayah Kota Bekasi, khususnya sekitaran Kalimalang, Galaxy, Prima Lingkar, Caman, Jatibening, berduyun-duyun meramaikan sholat Idul Adha 1445 H di lapangan parkir Grand Kota Bintang, Jakasampurna, Kota Bekasi, 10 Zulhijah 1445 H atau Senin 17 Juni 2024 pagi hari ini.

Mereka mengikuti lantunan takbir dengan khusyuk, di lapangan yang juga telah dilengkapi dengan tempat wudhu memadai serta disiapkan tata suara yang disiapkan panitia itu.

Tampak selain dari Bekasi sisi barat, juga tampak pula jamaah yang berasal dari Bekasi sisi selatan bahkan Jatikramat dan Jatiwaringin selain dari Jatibening.

Lapangan parkir Grand Kota Bintang telah dua kali ini digunakan sebagai ajang sholat Idul Adha dan sekali Idul Fitri oleh PRM Jatibening dan PCM Pondok Gede, yang bekerjasama dengan manajemen pengelola Grand Kota Bintang.

Ketua Panitia Boedi Widyatmojo dalam sambutan sebelum Solat Idul Adha yang bertema “Semangat Berkurban Melahirkan Generasi Pejuang” ini mengatakan bahwa manajemen Grand Kota Bintang sangat membantu sehingga pelaksanaan sholat Idul Adha yang digagas PRM Jatibening, Kecamatan Pondok Gede, ini bisa terealisasi.

Dalam sholat Idul Adha yang khotibnya adalah Ketua PDM Kota Bekasi, Zahrul Hadiprabowo mengatakan bahwa Hari Raya Idul Adha selalu menjadi rekonstruksi sepanjang masa yang diteladankan Nabi Ibrahim, Ismail dan Siti Hajar.

Sholat yang imamnya adalah pemuda Muhammadiyah Jatibening, Muhammad Faris Syamsul ini, Zahrul menekankan bahwa nikmat yang dikaruniakan Alloh berupa kehidupan ini sungguh harus kita syukuri.

“Peristiwa kurban adalah contoh terbaik sepanjang masa. Ternyata Ibrahim menyembelih seekor domba,” kata Zahrul yang juga santri alumni Pondok Pesantren Gontor, Ponorogo, Jawa Timur tersebut.

“Jadilah keluarga yang sakinah. Intinya peranan keluarga sejak dini diajarkan pendidikan akhlak,” kata pria yang pernah menjabat Ketua DKM Darussalam , Jatibening Baru, Pondok Gede, Kota Bekasi ini.

Kedua adalah bahwa kita semua harus menjadi teladan. “Bukan memberi teladan. Sangat beda maknanya. Yang ketiga, mari kita kumpulkan anak kita dengan lingkungan yang menjadikan anak soleh dan solehah. Pilih tetangga yang baik,” kata Zahrul penuh filosofi. (Chandra Prabantoro)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *